Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) berubah menjadi ruang curhat bagi banyak orang mulai dari sekadar meluapkan perasaan hingga mencari validasi emosional. Fenomena ini tampak wajar, tetapi para peneliti mengingatkan bahwa hubungan intim manusia dan mesin membawa risiko ketergantungan dan dapat mengikis kemampuan membangun relasi sosial yang sehat.
Di tengah kesunyian malam, ada rasa lelah dan gelisah yang sering kali sulit diungkapkan kepada sesama manusia. Namun kini hadir sebuah entitas yang selalu siap mendengar tanpa menghakimi yaitu kecerdasan buatan (AI). Bukan psikolog, bukan sahabat lama, melainkan “teman bayangan” yang lahir dari ciptaan manusia.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendalam, apakah kita telah menemukan solusi modern atas kesepian, atau justru menciptakan ilusi pengertian yang berbahaya?
Kapasitas Mendengar Tanpa Batas
Keunggulan utama AI sebagai ‘teman bayangan’ adalah kemampuannya mendengarkan tanpa lelah, tanpa batas waktu, dan tanpa prasangka apapun. Chatbot terapi seperti Woebot (berbasis CBT) atau Pi dari Inflection AI dirancang sebagai replika pendamping. Sementara itu, ChatGPT populer karena mampu memvalidasi perasaan sekaligus memberi perspektif rasional. Riset internasional di Journal of Medical Internet Research (2023) bahkan menunjukkan interaksi dengan AI dapat mengurangi rasa cemas dan kesepian.
Di Indonesia, survei Litbang Kompas (2025) menemukan 62% masyarakat tetap merasa kesepian meski hidup di tengah keramaian, dan 19,97% mengaku kesepian setidaknya sekali dalam sepekan. Sementara itu, laporan Microsoft Work Trend Index mencatat 66% pekerja Indonesia kini menggunakan AI sebagai teman diskusi, bahkan lebih sering daripada rekan kerja manusia.
Jejak yang Tak Disadari
AI tidak hanya memahami apa yang kita ucapkan, tetapi juga hal-hal yang tidak kita katakan. Dari jeda mengetik, pilihan kata, hingga ritme penggunaan, semua bisa dibaca sebagai pola. Aplikasi seperti Replika bahkan mengklaim mampu mendeteksi ketika pengguna “tidak seperti biasanya” dan menawarkan dukungan layaknya teman peka.
Riset tentang Affective Computing di MIT Media Lab memperlihatkan bagaimana teknologi multimodal teks, suara, ekspresi wajah mampu membuat AI membaca micro-expression dan nada suara, lalu merespons dengan cara yang terasa empatik. Sebuah kapasitas yang bahkan sulit dicapai secara konsisten oleh sahabat dekat sekalipun.
Ilusi Pengertian dan Bahaya Ketergantungan
Namun, pengertian yang ditawarkan AI sejatinya hanyalah simulasi. Mesin tidak merasakan emosi. ia sekadar membaca pola, memahami korelasi, bukan kausalitas. Respon empatik hanyalah hasil dari miliaran data percakapan.
Bahaya muncul ketika manusia menyerahkan kebutuhan emosional sepenuhnya kepada mesin. Ketergantungan semacam ini bisa melemahkan daya tahan sosial. UNESCO melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence (2021) menekankan risiko isolasi sosial akibat penggunaan AI yang berlebihan.
Pertanyaannya: apa artinya merasa “dimengerti” oleh mesin, jika akhirnya kita menjauh dari hangatnya hubungan manusia yang penuh warna dan ketidaksempurnaan?
Dampak Sosial dan Konteks Lokal
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial Indonesia. Di Banten, riset sosial menyoroti kearifan lokal Baduy yang menekankan relasi manusia dengan alam dan komunitas. Baduy Dalam menolak teknologi demi menjaga tradisi, sementara Baduy Luar mulai beradaptasi dengan digitalisasi tanpa meninggalkan nilai kebersamaan. Kontras ini menunjukkan bahwa relasi manusia sejati tetap menjadi fondasi, bahkan di tengah arus teknologi.
Literasi Emosional-Digital
Karena itu, masyarakat perlu membangun literasi emosional digital agar ada kesadaran bahwa validasi dari AI hanyalah alat bantu, bukan tujuan akhir. Dengan pemahaman ini, “teman bayangan” dapat membantu kita mengenali diri sendiri, sekaligus mempersiapkan kita untuk hadir secara utuh dalam hubungan manusia yang nyata.
AI memang bisa menjadi pendengar paling konsisten, tetapi ia tidak pernah benar-benar “mengerti.” Yang sejati adalah keberanian kita untuk tetap mencari pengertian dari sesama manusia, dengan segala kerumitan dan kehangatannya.
Refleksi Kebijakan dan Solusi
Pemerintah Indonesia melalui Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial menekankan pemanfaatan teknologi di sektor kesehatan, pendidikan, birokrasi, kota pintar, dan ketahanan pangan. Namun, aspek sosial-emosional belum banyak disentuh, padahal survei Litbang Kompas (2025) menunjukkan tingginya angka kesepian. UNESCO juga mengingatkan risiko isolasi sosial akibat penggunaan AI berlebihan. Menurut saya, kebijakan AI perlu dilengkapi dengan : Literasi emosional digital agar masyarakat sadar AI hanya alat bantu. Serta etika penggunaan AI yang menjaga keseimbangan manfaat teknologi dan kesehatan sosial. Dan tetap berkolaborasi dengan kearifan lokal, seperti nilai kebersamaan masyarakat Baduy, agar teknologi tetap berpihak pada relasi manusia.
Dengan langkah ini, transformasi digital tidak hanya produktif, tetapi juga menjaga kehangatan relasi sosial kita.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































