Kasus-kasus terkait perilaku remaja yang terdampak media massa semakin sering muncul. Mulai dari perubahan gaya hidup, pola komunikasi, hingga cara remaja memandang diri sendiri kini sangat dipengaruhi oleh arus informasi yang hampir tidak terbatas. Media massa yang seharusnya menjadi sarana edukasi justru sering menjadi sumber tekanan sosial, standar tidak realistis, serta penyebaran informasi yang belum tentu benar. Fenomena ini menegaskan pentingnya memahami dampak media massa terhadap perkembangan remaja di era digital.
Contoh Kasus:
Bullying (Perundungan) di Media Sosial
Kasus perundungan daring (cyberbullying) yang dialami oleh seorang remaja perempuan di Jakarta. Korban menerima komentar-komentar negatif dan hinaan terkait dengan penampilan fisiknya di platform Instagram dan TikTok. Pelaku perundungan adalah teman sekolah dan juga beberapa orang yang tidak dikenal.
Kaitan dengan Perkembangan Mental:
Gangguan Identitas dan Harga Diri: Pada masa remaja, individu sedang dalam proses pencarian identitas diri. Perundungan daring dapat merusak citra diri dan menyebabkan perasaan malu, tidak berharga, dan rendah diri.
Kecemasan dan Depresi: Paparan terus-menerus terhadap komentar negatif dan hinaan dapat memicu perasaan cemas, stres, dan depresi. Korban mungkin merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan.
Perilaku Menyakiti Diri Sendiri: Dalam kasus yang parah, perundungan daring dapat mendorong remaja untuk melakukan tindakan menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
Perkembangan remaja adalah masa yang sangat sensitif, di mana mereka sedang membentuk identitas, emosi, dan pola berpikir. Namun, akses media yang tidak terkontrol menghadirkan berbagai tantangan baru. Tayangan yang menormalisasi kekerasan, budaya konsumtif, atau standar kecantikan yang semu dapat mengganggu kesehatan mental remaja. Selain itu, algoritma media digital sering kali menampilkan konten yang memperkuat bias dan membentuk pola pikir yang tidak objektif. Tidak sedikit remaja yang akhirnya mengalami kecemasan, tekanan sosial, hingga penurunan kepercayaan diri akibat paparan media digital yang berlebihan.
Dari sudut pandang teori psikologi perkembangan, remaja berada pada tahap pencarian identitas (Erikson). Teori Erik Erikson menyebutkan bahwa remaja berada dalam tahap krisis “identitas vs. kebingungan peran.” Pada tahap ini, remaja mulai mencari tahu siapa mereka dan bagaimana mereka ingin dikenali oleh orang lain. Mereka mencoba berbagai peran sosial dan kepercayaan diri mereka sering kali diuji oleh pengaruh teman sebaya dan lingkungan sosial. remaja berusaha menentukan siapa mereka secara individu, nilai-nilai mereka, tujuan hidup, dan bagaimana mereka ingin dikenali oleh orang lain. Mereka cenderung mencoba berbagai peran sosial misal: sebagai teman, siswa, dan kepercayaan diri mereka sering terpengaruh oleh teman sebaya, keluarga, dan lingkungan sosial. Jika berhasil melewati tahap ini, mereka akan mendapatkan “identitas diri” yang kuat,jika gagal, mereka akan mengalami kebingungan peran (role confusion) atau kebingungan tentang siapa mereka sebenarnya.Pada fase ini, mereka sangat mudah dipengaruhi oleh model di lingkungan mereka termasuk yang mereka lihat di media. Teori social learning Bandura menyatakan bahwa remaja belajar dengan mengamati dan meniru perilaku yang ditampilkan tokoh media atau influencer. Sementara itu, teori konstruktivisme menekankan pentingnya proses berpikir kritis dalam menyaring informasi. Tanpa kemampuan literasi digital, remaja mudah menyerap informasi tanpa analisis, sehingga perilaku dan pola pikir mereka dibentuk oleh konten yang sebenarnya tidak mendidik.
Menghadapi realitas tersebut, media massa tidak boleh dibiarkan menjadi “pengasuh kedua” bagi remaja. Orang tua dan sekolah perlu bekerja sama membangun literasi digital sejak dini, mengajarkan cara memilih, memfilter, dan mengkritisi informasi. Lingkungan pendidikan juga harus mampu menyediakan alternatif ruang belajar yang sehat, informatif, dan menyenangkan. Remaja perlu didorong untuk lebih banyak berinteraksi dengan pengalaman nyata, bukan hanya layar. Dengan pendampingan yang tepat, media massa dapat menjadi sarana pengembangan diri, bukan sumber tekanan. Ini adalah komitmen bersama agar remaja tumbuh sebagai generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya dalam menghadapi derasnya arus informasi.
Dampak media massa terhadap remaja merupakan isu yang kompleks dan tidak dapat dipisahkan dari dinamika perkembangan mereka di era digital. Media memang menawarkan ruang belajar dan eksplorasi, tetapi tanpa pendampingan dan literasi yang memadai, ia dapat menjadi sumber tekanan dan distorsi cara pandang remaja terhadap diri sendiri maupun dunia. Oleh karena itu, kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan platform digital menjadi kunci untuk memastikan bahwa media massa benar-benar berfungsi sebagai alat yang memperkaya perkembangan remaja, bukan sebaliknya. Dengan pendekatan yang tepat, remaja dapat tumbuh sebagai generasi yang kritis, percaya diri, dan mampu memanfaatkan media secara sehat serta bertanggung jawab.
Referensi:
John Weiley & Sons Ltd. (2020). The weiley Encyclopedia of Personality and individual Differences Models and Thories,Volume 1. Hoboken, New Jersey, Amerika.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (Tanpa Tanggal). Kasus Bullying Masih Jadi Persoalan Serius. Diakses dari https://www.kpai.go.id/berita/kasus-bullying-masih-jadi-persoalan-serius
Oleh: Hikma Khairina, Nurur Rohmah Al Sahputri, Gendis Aulia Winata
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































