Tidak semua orang yang menyakiti adalah pribadi yang sejak awal berniat buruk. Sebagian adalah individu yang pernah terluka, namun tidak pernah benar-benar pulih. Trauma interpersonal seperti kekerasan dalam keluarga, hinaan yang berulang, pengabaian emosional, hubungan romantis yang manipulatif, maupun lingkungan sosial yang merendahkan dapat membentuk cara seseorang memandang diri dan orang lain.
Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman traumatis masa kecil berkorelasi dengan gangguan regulasi emosi, kesulitan empati, serta agresivitas interpersonal di masa dewasa (Hughes et al., 2017; Xiao et al., 2022). Namun trauma bukan takdir. Transisi dari korban menjadi individu yang menyakiti terjadi ketika luka tidak diproses secara sehat dan perlahan membentuk pola relasi yang disfungsional.
Pengasuhan yang Tidak Adaptif
Paparan terhadap konflik keluarga kronis, kekerasan verbal, atau pengabaian emosional meningkatkan risiko masalah psikologis jangka panjang (Hughes et al., 2017). Tekanan emosional yang terus-menerus memengaruhi sistem regulasi emosi di otak (Teicher & Samson, 2016). Anak yang tidak pernah diajarkan mengenali dan mengelola emosinya dapat tumbuh menjadi individu yang sulit memahami perasaan diri sendiri maupun orang lain.
Dampaknya sering muncul secara halus, seperti mudah tersinggung, sulit menerima kritik, defensif berlebihan, atau menggunakan kata-kata merendahkan saat konflik. Attachment insecurity juga berkaitan dengan kontrol berlebihan atau sikap dingin dalam hubungan dewasa (Dutton & White, 2019).
Hubungan yang Menyakitkan
Pengalaman relasi manipulatif dapat membentuk skema bahwa dinamika tidak sehat adalah sesuatu yang wajar (Gagnon et al., 2017). Kesulitan regulasi emosi berkaitan dengan peningkatan agresi verbal dalam hubungan intim (Neal & Edwards, 2017). Individu dapat menjadi lebih curiga, defensif, dan menyerang secara verbal sebelum merasa diserang.
Lingkungan Sosial
Melalui pembelajaran sosial, individu meniru perilaku yang dianggap normal dalam lingkungannya (Bandura, 1977). Keterlibatan dalam bullying berkorelasi dengan agresivitas interpersonal di masa dewasa (Zych et al., 2020). Individu dapat berkembang menjadi lebih keras dalam berkomunikasi dan kurang toleran terhadap kesalahan orang lain.
Contoh Kasus
Seorang mahasiswa bernama A tumbuh dalam keluarga yang sering diwarnai pertengkaran verbal antara orang tua. Sejak kecil ia sering mendengar hinaan dan bentakan sebagai bentuk komunikasi. Saat remaja, ia mengalami hubungan romantis yang manipulatif dan penuh kontrol. Dalam hubungan berikutnya, A tidak pernah melakukan kekerasan fisik, tetapi ia sering meremehkan pasangannya, memutarbalikkan fakta saat konflik, dan sulit meminta maaf. Ia merasa perilakunya wajar karena tidak separah yang pernah ia alami. Tanpa disadari, pola yang dulu melukainya kini ia reproduksi dalam bentuk yang lebih halus.
Kasus ini menggambarkan bagaimana trauma yang tidak diproses dapat berubah menjadi pola relasi yang menyakitkan. Perilaku tersebut bukan lahir dari niat jahat yang sadar, melainkan dari mekanisme pertahanan diri yang tidak pernah diperbaiki.
Memutus Siklus
Trauma dapat menjelaskan asal luka, tetapi tidak membenarkan perilaku menyakiti. Faktor protektif seperti dukungan sosial, pengalaman positif masa kecil, serta intervensi psikologis dapat membantu memutus siklus ini (Bethell et al., 2019). Kesadaran diri dan refleksi menjadi kunci agar individu tidak mewariskan luka yang pernah ia alami.
Kesimpulan
Pola pengasuhan tidak adaptif, hubungan menyakitkan, dan lingkungan sosial negatif dapat membentuk kecenderungan menyakiti secara emosional dan verbal. Perubahan ini sering muncul secara bertahap melalui sikap defensif, manipulatif, atau kurang empatik. Namun siklus trauma dapat dihentikan melalui kesadaran, tanggung jawab, dan proses penyembuhan yang berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.
Bethell, C. D., et al. (2019). Positive childhood experiences and adult mental health. JAMA Pediatrics, 173(11), e193007.
Dutton, D. G., & White, K. R. (2019). Attachment insecurity and intimate partner violence. Aggression and Violent Behavior, 45, 76–83.
Gagnon, K. L., et al. (2017). Victim–perpetrator dynamics and betrayal trauma. Journal of Trauma & Dissociation, 18(3), 323–341.
Hughes, K., et al. (2017). The effect of multiple adverse childhood experiences on health. The Lancet Public Health, 2(8), e356–e366.
Neal, A. M., & Edwards, K. M. (2017). Perpetration of intimate partner violence and emotion dysregulation. Psychology of Violence, 7(2), 237–248.
Teicher, M. H., & Samson, J. A. (2016). Enduring neurobiological effects of childhood abuse. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 57(3), 241–266.
Widom, C. S., et al. (2018). Intergenerational transmission of violence. Science Advances, 4(12), eaau4673.
Xiao, Z., et al. (2022). Childhood psychological maltreatment and adult mental health outcomes. Frontiers in Psychiatry, 13, 863182.
Zych, I., et al. (2020). Bullying roles and transitions. Aggression and Violent Behavior, 51, 101413.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































