Gelombang kecerdasan buatan memasuki fase baru yang lebih menentukan. Jika sebelumnya publik akrab dengan otomatisasi kemudian algoritma yang membantu memilah data, merekomendasikan produk, atau memprediksi tren, kini dunia berhadapan dengan AI agents: sistem semi-otonom hingga otonom penuh yang mampu memahami konteks, menalar, dan bertindak secara independen untuk menyelesaikan rangkaian tugas kompleks dengan pengawasan manusia yang minimal.
Survei musim semi 2025 oleh MIT Sloan Management Review dan Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan 35 persen organisasi telah mengadopsi AI agents sejak 2023, dan 44 persen lainnya berencana menerapkannya dalam waktu dekat. Angka ini menandakan bahwa AI agents bukan lagi eksperimen laboratorium, melainkan instrumen strategis. Namun pertanyaan penting muncul: apakah kesiapan tata kelola kita berkembang secepat teknologinya?
Perpindahan Agency
Perbedaan mendasar antara otomatisasi dan otonomi terletak pada “agency”. Otomatisasi menjalankan instruksi yang telah dirancang manusia. Otonomi memberi ruang bagi sistem untuk menentukan langkah-langkahnya sendiri dalam mencapai tujuan. AI agents dapat menganalisis situasi, memecah persoalan menjadi sub-tugas, memilih strategi, dan mengeksekusinya tanpa menunggu persetujuan di setiap tahap.
Dalam konteks bisnis, sistem semacam ini dapat mengelola rantai pasok, menilai risiko kredit, menyusun laporan, hingga menyesuaikan strategi pemasaran secara real time. Efisiensi meningkat, keputusan dipercepat, dan biaya operasional ditekan. Namun semakin besar otonomi, semakin besar pula risiko sistemiknya.
Kesalahan AI agents tidak lagi bersifat administratif, melainkan strategis. Bayangkan sistem yang salah membaca fluktuasi pasar dan otomatis mengubah kebijakan harga secara luas. Atau sistem yang keliru menafsirkan regulasi dan mengambil keputusan yang berimplikasi hukum. Kecepatan yang menjadi keunggulan dapat berubah menjadi kerentanan.
Profesor MIT Sloan, Kate Kellogg, mengingatkan bahwa monitoring terhadap AI agents harus menjadi biaya operasional permanen, bukan proyek satu kali. Artinya, pengawasan bukan fase awal sebelum implementasi, tetapi bagian integral dari siklus hidup sistem. Di sinilah revolusi teknologi bertemu dengan revolusi tata kelola.
Tantangan bagi Peneliti
Bagi komunitas ilmiah, tantangan utama adalah membangun sistem yang dapat dijelaskan (explainable). AI agents yang mengambil keputusan multistep memerlukan transparansi dalam proses penalarannya. Tanpa kejelasan, organisasi sulit mempertanggungjawabkan keputusan yang dihasilkan oleh mesin.
Isu alignment juga krusial. Bagaimana memastikan AI agents tetap selaras dengan nilai organisasi dan norma sosial? Sistem belajar dari data, sementara data sering kali memuat bias (halusinasi) historis. Tanpa koreksi, otonomi mesin berpotensi mereproduksi ketimpangan.
Peneliti dituntut mengembangkan mekanisme audit berkelanjutan. Evaluasi tidak cukup dilakukan pada tahap desain. Sistem yang adaptif memerlukan pengawasan dinamis. Ini menuntut kolaborasi lintas disiplin yaitu teknologi, hukum, etika, dan manajemen risiko supaya inovasi tidak melaju tanpa kendali normatif.
Tantangan bagi Pengusaha
Bagi dunia usaha, AI agents menjanjikan produktivitas dan skalabilitas. Namun implementasi tanpa tata kelola yang matang dapat menjadi bumerang.
Pertama, organisasi perlu membentuk struktur AI governance board di tingkat strategis. Siapa yang bertanggung jawab ketika AI membuat keputusan yang merugikan? Tanpa kejelasan akuntabilitas, risiko hukum dan reputasi membesar.
Kedua, terdapat biaya tersembunyi dari otonomi. Selain investasi teknologi, perusahaan harus menanggung biaya monitoring, keamanan siber, audit algoritma, dan pelatihan ulang karyawan. Efisiensi jangka pendek dapat tertutup oleh beban jangka panjang jika tidak diperhitungkan.
Ketiga, kepercayaan publik menjadi faktor kunci. Dalam sektor keuangan, kesehatan, agribisnis, atau industri halal, kesalahan sistem otonom dapat merusak legitimasi institusi. Transparansi dan komunikasi publik menjadi bagian dari strategi, bukan sekadar pelengkap.
Keempat, transformasi tenaga kerja tak terelakkan. Perpindahan agency dari manusia ke mesin mengubah struktur pekerjaan. Karyawan perlu beralih dari operator menjadi pengawas dan analis. Reskilling (level up) menjadi kebutuhan mendesak.
Tantangan bagi Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan generasi yang mampu mengelola sistem otonom. Kurikulum Pendidikan tinggi (master/doktor) perlu melampaui aspek teknis, mencakup AI governance, etika teknologi, regulasi, dan manajemen risiko digital.
Universitas juga dapat berperan sebagai pusat audit independen bagi sistem AI. Laboratorium tidak hanya mengembangkan inovasi, tetapi juga menguji keamanan dan kepatuhannya. Dalam konteks Indonesia, penerapan AI agents pada Sektor keuangan, UMKM, pertanian, dan ekonomi syariah memerlukan pendekatan kontekstual. Kesenjangan infrastruktur dan literasi digital harus menjadi bagian dari agenda riset nasional.
Pertanyaan filosofis pun muncul: ketika keputusan penting diambil oleh sistem otonom, di mana letak tanggung jawab moral? Apakah kita siap menerima keputusan mesin sebagai sesuatu yang netral, padahal ia dibentuk oleh asumsi manusia?
Revolusi Tata Kelola
Transformasi AI agents pada akhirnya bukan sekadar revolusi teknologi, melainkan revolusi tata kelola. Organisasi yang berhasil bukan yang tercepat mengadopsi, tetapi yang paling matang membangun infrastruktur pengawasan dan kerangka etisnya.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap lompatan teknologi memerlukan penyesuaian institusional. Kini, era agentic AI menuntut arsitektur tata kelola yang adaptif, akuntabel, dan berorientasi jangka panjang. Monitoring harus menjadi budaya organisasi. Governance harus menjadi strategi inti.
Era AI agents telah dimulai. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita siap secara teknologi, melainkan apakah kita siap secara tata kelola dan moral (kritikal thinking). Di sinilah tanggung jawab peneliti, pengusaha, dan akademisi bertemu bermuara: memastikan bahwa perpindahan agency dari manusia ke mesin memperkuat, bukan melemahkan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan.
*La Mema Parandy
**Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































