Dari kue mungil berwarna pastel hingga dessert cup dengan hiasan bunga kering, tren dessert estetik kian menjamur di media sosial. Foto-fotonya menghiasi Instagram dan TikTok, seakan rasa manisnya bukan hanya untuk lidah, tetapi juga untuk kamera. Namun, pertanyaannya: apakah tren ini benar-benar soal cita rasa, atau lebih tentang tampilan yang fotogenik?
Estetika sebagai Daya Tarik Utama
Tidak bisa dipungkiri, visual adalah faktor penting dalam tren dessert modern. Topping warna-warni, plating artistik, hingga kemasan unik dirancang agar menarik perhatian. Bahkan sebelum mencicipi, orang sudah “kenyang” secara visual.
Bagi pelaku bisnis, estetika menjadi strategi pemasaran yang ampuh. Foto dessert yang cantik bisa langsung viral dan mendatangkan pelanggan, tanpa perlu banyak promosi konvensional.
Rasa: Faktor Kedua?
Meski tampilannya menggoda, tidak semua dessert estetik sebanding dengan rasanya. Ada yang hanya enak dipandang tetapi biasa saja di lidah. Hal ini memunculkan kritik bahwa tren kuliner kini lebih mengejar sensasi visual ketimbang kualitas rasa.
Namun, sebagian inovasi berhasil menggabungkan keduanya: cantik untuk kamera, sekaligus lezat di mulut. Dessert sehat berbahan rendah gula atau organik, misalnya, menjadi tren baru yang menyatukan estetika dan nutrisi.
Budaya “Makan dengan Mata”
Fenomena ini mencerminkan budaya baru: orang kini makan bukan hanya untuk kenyang, tetapi juga untuk dilihat. Aktivitas sederhana seperti menikmati dessert berubah menjadi ajang berbagi estetika di media sosial. Kamera sering kali “mencicipi” lebih dulu sebelum mulut.
Bagi sebagian orang, pengalaman kuliner terasa kurang lengkap tanpa dokumentasi. Makanan menjadi bagian dari gaya hidup digital, bukan sekadar kebutuhan biologis.
Kesimpulan
Tren dessert estetik adalah potret bagaimana kuliner bertransformasi di era media sosial. Ia bisa menjadi hiburan visual sekaligus pengalaman rasa, tetapi juga berisiko menomorduakan kualitas di balik tampilan.
Pada akhirnya, dessert terbaik bukan hanya yang cantik difoto, tetapi juga yang menghadirkan kepuasan nyata saat disantap. Karena kamera mungkin bisa dimanjakan sekali klik, tetapi lidah tidak bisa dibohongi.
Penulis: Enjelin Amanda Dewi
Sumber gambar: canva.com