Isu kesehatan mental (mental health) di kalangan mahasiswa kembali menjadi sorotan tajam di tengah padatnya aktivitas akademik tahun ajaran ini. Di balik postingan media sosial yang memperlihatkan keseruan kehidupan kampus, banyak mahasiswa yang diam-diam berjuang melawan stres berat, kecemasan, hingga kelelahan mental (burnout) yang mengganggu produktivitas mereka.
Fenomena ini bukan hal baru, namun intensitasnya dirasakan semakin meningkat. Berdasarkan penelusuran di beberapa kampus di Medan, hampir seluruh mahasiswa yang ditemui mengaku pernah berada di titik terendah akibat tekanan kuliah. Pemicunya beragam, mulai dari tumpukan tugas yang tidak realistis, tekanan organisasi, hingga ketidakpastian masa depan pasca-lulus.
“Pernah Kak, lumayan sering, karena tugas, kerjaan, dan kehidupan di kampus,” ungkap Syakir, seorang mahasiswa semester akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya.
Ketika ditanya bagaimana cara mengatasinya, mahasiswa memiliki metode penanggulangan (coping mechanism) yang berbeda. Banyak dari mereka memilih untuk menarik diri sejenak (isolasi), tidur berlebihan, mendengarkan musik, atau sekadar mencari hiburan instan melalui media sosial dan kuliner.
“Saya setiap stres pasti cari makanan Kak. Apakah efektif? Bagi saya efektif Kak,” ujar Syakir.
Hal senada diungkapkan Awrey, “Kalau saya kadang-kadang bermain game. Apakah efektif? Saya kadang-kadang sih Kak, karena kan bermain game juga bikin stres juga kalau berlebihan.” Hal ini menunjukkan bahwa banyak mahasiswa belum menemukan cara penanganan stres yang benar-benar solutif.
Faktor lingkungan kampus juga menjadi sorotan. Meskipun kampus seharusnya menjadi tempat menimba ilmu yang nyaman, realitanya tidak selalu demikian. Beberapa mahasiswa merasa lingkungan kuliah saat ini kurang mendukung proses belajar yang sehat secara mental. Kompetisi yang tidak sehat antar teman dan kurangnya empati dari sebagian tenaga pengajar kadang memperburuk keadaan.
Apakah lingkungan kalian saat ini mendukung kalian untuk belajar? “Lumayan mendukung Kak,” ujar keduanya.
Di tengah situasi pelik ini, peran support system menjadi benteng pertahanan terakhir. Bagi kebanyakan mahasiswa, teman sebaya adalah pihak pertama yang memberikan dukungan saat stres melanda, jauh sebelum mereka berani bercerita kepada orang tua atau profesional.
Biasanya siapa ini yang sering memberikan kalian dukungan saat kalian mengalami stres? “Orang tua dan teman,” kata keduanya.
Selain mengandalkan dukungan orang sekitar, kesehatan mental mahasiswa sejatinya dapat dijaga dengan cara mengelola sumber stres sejak awal. Mahasiswa perlu mulai mengenali penyebab stres mereka, apakah karena tugas yang menumpuk atau tenggat waktu (deadline). Dari sana, mahasiswa bisa mulai mengatur prioritas dan menghindari kebiasaan menunda pekerjaan.
Pembuatan jadwal belajar yang realistis, disertai teknik belajar aktif dan waktu istirahat yang cukup, akan sangat membantu mengurangi kelelahan mental. Penting juga untuk menerapkan cara menghadapi stres yang lebih sehat dibandingkan sekadar pelarian sesaat; misalnya dengan manajemen waktu yang baik, fokus mencari solusi atas masalah, atau mendekatkan diri melalui doa untuk menenangkan pikiran.
Tak hanya aspek psikis, kesehatan fisik pun memegang peranan vital. Menjaga pola tidur yang cukup, makan teratur, minum air yang cukup, serta melakukan aktivitas fisik ringan dapat menjaga tubuh tetap bugar dalam menghadapi tekanan akademik. Lingkungan belajar juga perlu dikondisikan senyaman mungkin dan minim gangguan untuk membantu fokus serta produktivitas.
Namun, jika stres berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mahasiswa harus menyadari bahwa mencari bantuan profesional—seperti konseling kampus atau psikolog—adalah langkah yang tepat. Hal ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap diri sendiri.
Kondisi ini menjadi sinyal bagi institusi pendidikan untuk tidak hanya fokus pada pencapaian akademik semata. Kesehatan mental mahasiswa adalah pondasi penting. Tanpa dukungan lingkungan yang sehat dan akses layanan konseling yang lebih terbuka, mahasiswa dikhawatirkan hanya akan menjadi lulusan yang cerdas secara intelektual, namun rapuh secara emosional. Kampus perlu menghadirkan ruang aman agar mahasiswa tidak merasa berjuang sendirian.
Ditulis Oleh: Khairun Nisa Putri, Aisyah Indriati, Ketrin Roma Uli Siringo-Ringo, Farisa Rosalina Nasution, Risky Putra Ramadhan, Nisrina Athira Hasibuan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































