Di sebuah kelas pelatihan online untuk para karyawan, seorang peserta berusia 42 tahun mengaku frustasi. “Saya sudah berpengalaman kerja 15 tahun, tapi platform ini memperlakukan saya seperti anak sekolah,” keluhnya. Fenomena ini menunjukkan masalah mendasar dalam pembelajaran digital, tidak semua orang bisa diajar dengan cara yang sama.
Dalam era transformasi digital, jutaan orang dewasa kini mengakses pembelajaran melalui platform online mulai dari kursus pengembangan karier, pelatihan keterampilan baru, hingga program sertifikasi profesional. Namun, banyak yang mengalami kesulitan bukan karena keterbatasan kemampuan, melainkan karena pendekatan pembelajaran yang tidak sesuai.
Apa Itu Andragogi?
Andragogi adalah ilmu dan seni mendidik orang dewasa, istilah yang dipopulerkan oleh Malcolm Knowles, seorang ahli pendidikan Amerika pada tahun 1970-an. Berbeda dengan pedagogi yang fokus pada pendidikan anak, andragogi mengakui bahwa orang dewasa belajar dengan cara yang berbeda.
“Orang dewasa bukan gelas kosong yang perlu diisi. Mereka datang dengan pengalaman, kebutuhan spesifik, dan kemampuan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri,” jelas Dr. Sarah Wijaya, dosen pendidikan orang dewasa dari Universitas Indonesia, Rabu (11/12).
Knowles mengidentifikasi lima karakteristik utama pembelajar dewasa: mereka lebih mandiri, memiliki pengalaman hidup yang kaya, belajar karena kebutuhan peran sosial mereka, ingin pembelajaran yang langsung bisa diterapkan, dan lebih termotivasi oleh faktor internal daripada eksternal.
Lima Pilar Pembelajaran Digital Andragogis
1. Kemandirian dan Fleksibilitas
Platform pembelajaran digital yang efektif untuk orang dewasa harus memberikan kontrol penuh kepada peserta. Mereka bisa memilih materi mana yang ingin dipelajari terlebih dahulu, menentukan kecepatan belajar, dan menyesuaikan dengan jadwal kerja mereka.
“Jangan paksa mereka mengikuti modul 1, 2, 3 secara berurutan. Biarkan mereka melompat ke topik yang paling mereka butuhkan saat itu,” kata Budi Santoso, praktisi e-learning yang telah mendesain program pelatihan untuk berbagai perusahaan.
2. Pembelajaran Berbasis Pengalaman
Orang dewasa belajar paling baik ketika bisa menghubungkan materi baru dengan pengalaman mereka. Platform digital dapat menggunakan studi kasus nyata, simulasi, atau proyek yang relevan dengan pekerjaan mereka.
Sebuah perusahaan teknologi di Bandung berhasil meningkatkan efektivitas pelatihan karyawannya hingga 70% setelah mengganti video tutorial dengan simulasi interaktif yang mencerminkan situasi kerja sebenarnya.
3. Relevansi Langsung
“Tunjukkan manfaatnya di menit pertama, atau mereka akan tutup aplikasinya,” tegas Maria Handayani, pengelola platform kursus online yang memiliki 50.000 pengguna dewasa.
Orang dewasa tidak punya waktu untuk materi yang tidak jelas kegunaannya. Setiap modul harus menjelaskan bagaimana pengetahuan tersebut bisa diterapkan dalam pekerjaan atau kehidupan mereka hari itu juga.
4. Interaksi dan Komunitas
Meski belajar secara digital, orang dewasa tetap membutuhkan interaksi dengan sesama. Forum diskusi, grup WhatsApp, atau sesi webinar langsung memungkinkan mereka berbagi pengalaman dan belajar dari rekan seprofesi.
“Kadang insight terbaik bukan dari instruktur, tapi dari sesama peserta yang punya pengalaman serupa,” ungkap Andi, peserta pelatihan manajemen yang aktif di forum diskusi kelasnya.
5. Umpan Balik Konstruktif
Berbeda dengan nilai ujian untuk anak sekolah, orang dewasa membutuhkan umpan balik yang membangun dan kontekstual. Bukan sekadar “nilai 75”, tetapi penjelasan spesifik tentang apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki, serta bagaimana cara memperbaikinya.
Tantangan di Lapangan
Penerapan prinsip andragogi dalam pembelajaran digital menghadapi beberapa hambatan. Kesenjangan akses internet dan perangkat digital masih menjadi masalah, terutama di daerah terpencil. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan masih ada 20% daerah di Indonesia dengan akses internet terbatas.
Literasi digital yang beragam juga menjadi tantangan. “Ada peserta yang sangat mahir teknologi, ada juga yang baru pertama kali menggunakan aplikasi video conference,” cerita Rini, fasilitator pelatihan digital marketing.
Peran fasilitator pun berubah. Mereka bukan lagi guru yang mengajar dari depan kelas, tetapi pendamping yang membantu peserta menavigasi pembelajaran mereka sendiri.
Masa Depan Pembelajaran Dewasa
Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan adaptive learning membuka peluang besar. Platform bisa menyesuaikan konten secara otomatis berdasarkan kemajuan dan gaya belajar masing-masing individu.
Namun, teknologi tetaplah alat. “Yang paling penting adalah menghormati orang dewasa sebagai pembelajar yang aktif dan mandiri, bukan objek yang pasif,” tegas Dr. Sarah.
Beberapa perusahaan dan lembaga pelatihan di Indonesia mulai menerapkan prinsip andragogi dengan hasil menggembirakan. Tingkat penyelesaian kursus meningkat, dan yang lebih penting, peserta benar-benar bisa menerapkan pembelajaran dalam pekerjaan mereka.
Di era yang menuntut pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), memahami cara orang dewasa belajar bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Dengan pendekatan yang tepat, pembelajaran digital dapat menjadi kunci pemberdayaan jutaan pekerja Indonesia menghadapi perubahan zaman.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































