Yogyakarta (MAN 1 Yogya) — Upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya terus digiatkan melalui berbagai pendekatan edukatif. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan diskusi budaya dan pemutaran film yang digelar di aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Yogyakarta pada Jumat (6/3/2026) dengan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pelestarian budaya.
Kegiatan ini menghadirkan Andi Putranto, S.S., M.Sc., dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada serta Ketua Tim Diskusi Budaya dan Bioskop Keliling Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, Feti Susilowati, S.S. Diskusi diikuti murid kelas X MAN 1 Yogyakarta yang tampak antusias menyimak paparan mengenai kekayaan budaya Nusantara.
Kepala Tata Usaha MAN 1 Yogyakarta Bahar Rozaq, S.H., menegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki arti penting bagi penguatan kesadaran budaya di kalangan generasi muda
“Kegiatan ini sangat penting untuk memperkuat kecintaan kita terhadap budaya sekaligus mempererat silaturahmi. Kami berharap diskusi ini menjadi ruang produktif yang melahirkan gagasan-gagasan cemerlang dari para murid,” ujar Bahar.

Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyambut baik kegiatan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai keilmuan dengan kecintaan terhadap kebudayaan bangsa.
“Kami berharap para murid tidak hanya mengenal budaya sebagai pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan leluhur. Kesadaran itulah yang kelak akan mendorong mereka untuk ikut menjaga dan melestarikannya,” ujar Edi.
Sementara itu, Feti Susilowati menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dalam memperluas literasi budaya di kalangan pelajar. Melalui diskusi dan pemutaran film budaya, pihaknya berharap para murid dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai nilai-nilai kebudayaan bangsa.
“Film yang diputar bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pembelajaran untuk mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang kita miliki,” kata Feti.
Dalam sesi materi, Andi Putranto mengajak para murid menelusuri jejak peradaban masa lalu melalui keberadaan candi-candi di Jawa. Ia menjelaskan bahwa candi merupakan warisan leluhur yang tidak hanya bernilai arsitektural, tetapi juga sarat dengan makna kosmologis.
“Candi dapat dipahami sebagai representasi paling kecil dari jagad raya menurut kepercayaan masyarakat yang membangunnya,” ujar Andi.
Dalam pemaparannya, Andi juga mengulas berbagai aspek penting terkait candi, mulai dari relief yang merekam kisah kehidupan masa lalu, persebaran lokasi candi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga proses penentuan lahan pembangunan candi oleh masyarakat masa lampau. Ia juga menyinggung keberadaan sima perdikan, tanah bebas pajak yang pada masa kerajaan diperuntukkan bagi pemeliharaan kawasan suci, termasuk candi dan persawahan di sekitarnya.
Menurut Andi, pelestarian candi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga generasi muda. Cara paling sederhana untuk memulainya adalah dengan mengapresiasi, mengunjungi, dan terus menggali pengetahuan mengenai kebudayaan bangsa.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para murid mengajukan berbagai pertanyaan seputar sejarah candi dan upaya pelestarian situs budaya. Acara ditutup dengan pembagian doorprize bagi peserta yang aktif, menambah semarak kegiatan yang tidak hanya sarat pengetahuan, tetapi juga membangun kedekatan generasi muda dengan warisan budayanya. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































