Lamongan, Jawa Timur – Di tengah arus deras persaingan global, sektor UMKM dituntut untuk tidak hanya unggul dalam kualitas, tetapi juga dalam presentasi visual. Di Desa Balungtawun, Lamongan, tuntutan ini dijawab tuntas melalui sebuah program pengabdian masyarakat (Abdimas) yang berhasil mentransformasi produk pangan rumahan menjadi komoditas siap saing di kancah digital, mencapai standar ‘Foodgrammer-Ready’.
Inisiatif edukatif strategis ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan implementasi nyata dari Visi jangka panjang Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis Hukum dan Ilmu Sosial (FBHIS) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Program ini secara langsung berfokus pada desain kemasan yang estetis (aesthetic packaging) dan strategi visualisasi, elemen krusial dalam dunia Digital Entrepreneurship dan Ekonomi Kreatif.
1. Implementasi Visi 2038: Manajemen UMSIDA Wujudkan Digital Entrepreneurship
Program Abdimas yang digelar pada hari Jum’at, 21 November 2025, ini dipimpin oleh dua figur kunci Prodi Manajemen UMSIDA: Bapak Mochammad Rizal Yulianto, SE., MM, selaku Ketua Program Studi, dan Bapak Muhammad Yani, SE., MM, Dosen Program Studi Manajemen.
Program ini adalah manifestasi konkret dari Visi Program Studi Manajemen FBHIS UMSIDA, yaitu:
Menjadi Program Studi Manajemen yang Unggul dan Inovatif dalam Pengembangan Digital Entrepreneurship serta Manajemen Bisnis yang Berorientasi pada Ekonomi Kreatif Berdasarkan Nilai-Nilai Islam Untuk Kesejahteraan Masyarakat pada tahun 2038 di tingkat ASEAN.
Bapak Rizal Yulianto menjelaskan bahwa menjadikan produk Ibu-ibu PKK Balungtawun ‘Foodgrammer-Ready’ adalah langkah awal yang strategis dalam mengembangkan Digital Entrepreneurship di tingkat akar rumput.
“Visi kami adalah menciptakan pengusaha yang adaptif terhadap teknologi. Di era ini, kemasan adalah alat komunikasi digital yang paling efektif. Melalui pelatihan ini, kami menanamkan nilai-nilai inovasi dan kreativitas sesuai Visi 2038, mengubah perspektif bahwa kemasan adalah cost menjadi investasi vital dalam branding ekonomi kreatif,” tegas Bapak Rizal Yulianto.
2. Jurus Rahasia Aesthetic Packaging: Mengapa Kemasan Menentukan Penjualan Digital
Dalam pelatihan ini, Dosen Manajemen UMSIDA mengajarkan konsep bahwa produk harus mampu ‘berbicara’ secara visual. Konsep Level Foodgrammer yang diusung merujuk pada standar visual yang memicu konsumen untuk melakukan unboxing atau review di media sosial.
“Kualitas rasa saja hanya memenangkan pelanggan setelah pembelian. Kualitas kemasan yang aesthetic adalah yang memenangkan perhatian dan memicu keputusan pembelian awal, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z,” ujar Bapak Muhammad Yani. Ia menambahkan bahwa fokus pelatihan adalah menciptakan branding yang Bersih, Modern, dan Informatif, sejalan dengan prinsip manajemen bisnis yang etis dan berorientasi pada kesejahteraan.
Fakta Data Pemasaran Global: Sebuah studi oleh Smithers (2024) memproyeksikan bahwa Packaging Design yang berorientasi E-commerce mampu meningkatkan Click-Through Rate (CTR) produk hingga 40%. Di Indonesia, Food and Beverage yang memiliki visual appeal kuat di Instagram dan TikTok terbukti memiliki engagement rate rata-rata 2.5 kali lebih tinggi. Ini membuktikan bahwa aesthetic packaging adalah kunci digital entrepreneurship.
3. Implementasi Program di Lapangan: Menguasai Tools Low-Cost, High-Impact
Pelaksanaan program pada hari Jum’at, 21 November 2025, di Balai Desa Balungtawun, melibatkan Ibu-Ibu PKK sebagai peserta utama, menunjukkan fokus pada Kesejahteraan Masyarakat yang tertuang dalam Visi Prodi.
Pelatihan ini bersifat hands-on. Dosen Manajemen UMSIDA memberikan modul low-cost namun high-impact, termasuk:
Teknik Fotografi Produk: Menggunakan smartphone dan pencahayaan alami untuk menghasilkan foto kualitas Foodgrammer.
Desain Sederhana: Pemanfaatan aplikasi gratis untuk re-design logo dan label agar lebih profesional.
Struktur Kemasan: Edukasi mengenai tata letak informasi (logo, P-IRT, tagline) yang persuasif.
“Kami ingin ibu-ibu mandiri. Mereka harus menjadi digital entrepreneur yang mampu mengelola aset visualnya sendiri,” tambah Bapak Yani, sembari memimpin sesi praktik mendesain ulang label produk olahan lokal Balungtawun.
4. Sinergi Tiga Pilar: Kampus, Komunitas, dan Pemerintah Daerah
Signifikansi program ini semakin kuat dengan kehadiran Sekretaris Daerah (Sekda) Lamongan. Kehadiran pejabat tinggi daerah ini menegaskan bahwa inisiatif kampus selaras dengan agenda pembangunan daerah dalam memperkuat Ekonomi Kreatif.
Perwakilan Sekda Lamongan mengapresiasi upaya UMSIDA. “Kami bangga melihat UMSIDA tidak hanya mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga mewujudkan Visinya hingga ke desa. Transformasi visual ini adalah fondasi yang kuat. Jika produk lokal kita terlihat profesional, kita siap bersaing di pasar ASEAN, sesuai cita-cita UMSIDA,” ujar beliau, menandakan adanya sinergi yang kuat dalam mendukung kewirausahaan berbasis nilai-nilai Islam.
5. Balungtawun sebagai Model: Menuju UMKM Unggul dan Inovatif ASEAN 2038
Kisah sukses Balungtawun menjadi sebuah best practice tentang bagaimana Visi akademis yang ambisius dapat diwujudkan di tingkat komunitas. Dengan membekali Ibu-ibu PKK dengan senjata kemasan yang aesthetic, Dosen Manajemen UMSIDA telah menempatkan mereka pada jalur untuk menjadi digital entrepreneur yang inovatif.
Program ini membuktikan bahwa pendidikan manajemen bisnis yang unggul, ketika diintegrasikan dengan teknologi dan diarahkan pada ekonomi kreatif, adalah mesin utama untuk mencapai Kesejahteraan Masyarakat. Balungtawun kini siap menjadi studi kasus UMKM yang mampu bersaing, sejalan dengan target UMSIDA mencapai keunggulan di tingkat ASEAN pada tahun 2038.
Penulis : ST
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































