Pagi selalu datang lebih cepat bagi Gibran. Ketika sebagian orang masih bergelut dengan mimpi, ia sudah berjalan menyusuri jalan kecil menuju sekolah. Tas lusuh tergantung di pundaknya, berisi buku pelajaran, kapur tulis, dan beberapa lembar kertas yang akan ia gunakan untuk membuat soal latihan bagi murid-muridnya.
Di sekolah kecil tempat ia mengajar, Gibran dikenal sebagai guru yang aktif dan penuh ide. Ia bisa mengubah pelajaran yang sulit menjadi cerita yang menyenangkan. Anak-anak sering menunggu jam pelajarannya dengan wajah cerah, karena mereka tahu kelas Gibran tidak akan pernah membosankan.
Kadang ia mengajar sambil bercerita. Kadang ia mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari lingkungan sekitar. Baginya pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menyalakan rasa ingin tahu.
Namun di balik semangat itu, hidup Gibran sering terasa seperti roda yang berputar tanpa arah pasti. Sebagai guru honorer, penghasilannya tidak pernah benar-benar cukup. Honor yang kecil sering datang terlambat, bahkan kadang harus menunggu berbulan-bulan.

Meski begitu, Gibran jarang mengeluh. Ia selalu berkata pada dirinya sendiri bahwa ilmu yang ia tanamkan pada anak-anak jauh lebih berharga dari apa pun.
Suatu siang yang panas, ketika Gibran sedang membantu seorang murid memahami soal matematika, operator sekolah memanggilnya dari ruang administrasi.
“Pak Gibran, sebentar.”
Gibran menghampiri dengan wajah penasaran.
Operator sekolah itu tersenyum tipis sambil menatap layar komputer.
“Ada kabar baik.”
“Kabar apa, Pak?”
“Nama Bapak masuk daftar penerima insentif dari pemerintah.”
Gibran terdiam beberapa detik, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Serius, Pak?”
“Iya. Memang tidak besar, tapi lumayan.”
Ketika jumlahnya disebutkan, dua ratus ribu rupiah, Gibran justru tersenyum lebar. Bagi orang lain mungkin jumlah itu terasa kecil, bahkan mungkin tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi Gibran, uang itu cukup untuk membeli beras beberapa hari atau membayar listrik di rumah kontrakannya.
Hari itu ia pulang dengan langkah yang terasa ringan.
Malamnya, di kamar kontrakan yang sempit, Gibran menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Ia memfotokopi KTP, mengisi formulir, dan merapikan semuanya ke dalam map plastik yang sudah mulai kusam.
Sesekali ia memandangi map itu sambil tersenyum.
“Lumayan,” gumamnya pelan.
Keesokan paginya ia berangkat lebih awal menuju bank yang menjadi tempat pencairan insentif. Ia mengenakan seragam guru yang sedikit kebesaran. Lengan bajunya menjuntai panjang dan celananya terlihat agak longgar.
Seragam itu sebenarnya sudah lama ia pakai. Ia belum punya uang untuk menjahit atau membeli yang baru.

Di depan bank, beberapa guru lain juga terlihat datang dengan tujuan yang sama. Mereka saling menyapa dengan senyum yang penuh harapan.
Di dalam bank, antrian sudah mengular panjang. Kursi tunggu hampir penuh. Gibran mengambil nomor antrian lalu duduk di pojok ruangan.
Waktu berjalan lambat.
Satu jam berlalu.
Dua jam berlalu.
Orang-orang datang dan pergi. Sementara Gibran tetap duduk dengan sabar, memeluk map berkasnya seolah itu benda yang sangat berharga.

Akhirnya nomor antriannya dipanggil.
“Nomor empat puluh dua.”
Gibran berdiri. Ia berjalan menuju meja teller dengan langkah hati-hati. Tangannya sempat merapikan kerah seragamnya yang sudah agak pudar.
Teller bank itu seorang perempuan muda dengan wajah yang rapi dan ekspresi datar. Ketika Gibran berdiri di depannya, matanya sempat menelusuri penampilan Gibran dari atas hingga bawah.
Ada bisikan kecil yang ia ucapkan kepada rekannya di sebelah.
Gibran sebenarnya mendengar.
Namun ia memilih untuk tidak memikirkannya.
Ia menyerahkan berkas dengan sopan.
“Mba, saya mau mencairkan insentif guru.”
Teller itu mulai mengetik di komputer tanpa banyak bicara.
Beberapa detik kemudian Gibran bertanya dengan hati-hati.
“Mba, kira-kira uangnya bisa diambil semua atau harus disimpan sebagian untuk saldo.”
Teller itu menatapnya sebentar.
“Memang uang yang mau diambil berapa, Pak.”
“Dua ratus, Mba.”
Teller itu langsung mengangkat alis.
“Wah besar sekali. Dua ratus juta ya.”

Beberapa orang di belakang langsung menoleh.
Wajah Gibran mendadak panas. Dadanya seperti ditekan sesuatu.
Dengan suara yang hampir berbisik ia menjawab.
“Bukan, Mba.”
Ia menelan ludah sebentar.
“Dua ratus ribu.”
Ruangan terasa hening sesaat.
Teller itu hanya berkata singkat.
“Oh.”
Nada suaranya berubah dingin. Tangannya kembali mengetik dengan cepat tanpa menatap Gibran lagi.
Beberapa menit kemudian dua lembar uang seratus ribu disodorkan melalui celah kaca.
“Ini Pak.”
Gibran menerimanya dengan hati-hati, seolah dua lembar uang itu sangat rapuh.
Ia mengucapkan terima kasih, lalu berjalan keluar dari bank.

Di luar, matahari siang terasa terik. Gibran berhenti sejenak di bawah pohon kecil di halaman bank. Ia membuka dompetnya dan memandang dua lembar uang itu.
Angin berhembus pelan.
Ada rasa aneh yang mengendap di dadanya. Antara bahagia dan perih.
Dua ratus ribu rupiah.
Jumlah yang bagi sebagian orang bahkan tidak cukup untuk membeli sepatu baru. Tetapi bagi seorang guru honorer seperti dirinya, uang itu adalah hasil dari kesabaran panjang yang sering tidak dihargai.
Gibran menarik napas panjang.
Lalu ia tersenyum kecil.
Di dalam pikirannya terbayang wajah murid-muridnya di kelas. Anak-anak yang selalu menyambutnya dengan tawa dan pertanyaan polos.
Ia memasukkan uang itu kembali ke dalam dompetnya.

Besok pagi ia akan kembali berdiri di depan papan tulis. Mengajar seperti biasa. Bercerita seperti biasa. Tertawa bersama murid-muridnya seperti biasa.
Karena bagi Gibran, menjadi guru bukan tentang berapa besar uang yang diterima.
Tetapi tentang keyakinan bahwa suatu hari nanti, dari bangku-bangku kecil di kelas itu akan lahir orang-orang besar.
Dan mungkin saja, salah satu dari mereka akan tumbuh menjadi seseorang yang akhirnya mengerti betapa berharganya pengorbanan seorang guru.
Sementara itu, Gibran hanya berjalan pelan menyusuri trotoar.
Dengan dua lembar uang di dompetnya.
Dan dengan harga diri yang tetap ia jaga setinggi mungkin.
Penulis: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































