Dulu, jadi kepala desa itu kayak rebutan kursi empuk. Orang-orang berbondong-bondong maju, bukan karena panggilan jiwa, tapi ada yang tergiur dana desa yang miliaran. Biaya politik ratusan juta pun dikejar. Ada yang jual sawah, ada yang gadai kebun, bahkan ada yang berani ngutang. Pokoknya mikirnya satu: “Nanti juga balik modal.”
Eh… masuk Tahun 2026, semua pada bengong. Dana desa dipangkas sangat besar, sebagian dialihkan buat pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Desa yang tadinya pegang 800 juta sampai 1 miliar, sekarang cuma dikasih kisaran 200–300 juta. Itu pun sudah harus dibagi-bagi: BLT, Ketahanan Pangan, Stunting, dan program prioritas lainnya. Sisa buat bangun apa? Paling bangun harapan.
Padahal, kita sama-sama tahu, pembangunan fisik desa itu selama ini napasnya dana desa. Jalan rusak? Dana desa. Drainase mampet bikin banjir? Dana desa. Posyandu reyot? Dana desa. Rumah warga roboh? Ya… tanya dana desa lagi.
Sekarang, kepala desa siap-siap dapat pertanyaan rutin dari warga:
“Pa Kades, ini jalan udah bolong kayak balong, kapan dibangunnya?”
“Pa Kades, saluran air rusak, hujan dikit rumah kebanjiran.”
“Pa Kades, rumah si anu ambruk, kapan dibantu?”
Pertanyaannya banyak, dananya sedikit. Yang jawab cuma satu orang: kepala desa. Tahun 2026 ini, boleh dibilang jadi tahun penuh tanya, tapi minim jawaban.
Bagi desa yang PAD-nya sudah besar, mungkin masih bisa senyum tipis. Mau dana desa turun, bahkan dihapus, masih bisa cari napas dari usaha desa. Tapi buat desa yang PAD-nya nol koma nol, ya cuma bisa berharap program dari kabupaten atau provinsi.
Masalahnya, pemda juga lagi pusing. Dana Transfer ke Daerah (TKD) dipangkas, anggaran seret. Akhirnya, yang terjadi sekarang: gubernur pusing, bupati pusing, kepala desa pusing, jadi pusing berjamaah.
Muncul pertanyaan yang dulu dianggap bercanda, sekarang jadi serius: “Kalau begini terus, apa nanti ada pengunduran diri kepala desa berjamaah?”
Karena jadi kepala desa sekarang bukan lagi soal gengsi atau kuasa, tapi soal kuat-kuatan mental menghadapi pertanggungjawaban dan keluhan warga setiap hari.
Dan jangan kaget kalau nanti musim pemilihan kepala desa tiba, malah sepi peminat. Bukan karena rakyat tak cinta desa, tapi karena kursinya panas… dan dananya dingin.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































