Dahulu, konsep employee engagement adalah “cawan suci” bagi departemen Sumber Daya Manusia (SDM). Perusahaan berlomba-lomba menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa memiliki (sense of belonging), sehingga mereka rela memberikan extra effort—bekerja lembur demi mengejar target, memberikan ide kreatif di luar deskripsi pekerjaan, hingga menjadi “duta” perusahaan di media sosial.
Namun, lanskap ini berubah drastis seiring menguatnya gig economy. Model ekonomi yang mengandalkan kerja kontrak jangka pendek, lepas (freelance), dan berbasis platform ini tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga secara fundamental mengikis kesediaan pekerja untuk memberikan upaya ekstra bagi satu pemberi kerja saja.
Pergeseran Loyalitas ke Kemandirian
Dampak terbesar dari fenomena ini adalah perubahan mentalitas. Pekerja masa kini, terutama Generasi Z dan Milenial yang tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, mulai memandang hubungan kerja sebagai transaksi, bukan lagi pengabdian.
Munculnya gig economy memberikan pesan bawah sadar bahwa “tidak ada pekerjaan yang benar-benar aman.” Ketika korporasi besar bisa melakukan efisiensi atau PHK masal kapan saja, pekerja pun merespons dengan diversifikasi pendapatan. Inilah yang melahirkan fenomena side hustling atau kerja sampingan.
Dampaknya terhadap perusahaan? Fokus pekerja terbagi. Extra effort yang dulunya dicurahkan sepenuhnya untuk inovasi di kantor, kini dialokasikan untuk membangun portofolio pribadi atau menjalankan bisnis sampingan.
Dari “Going Extra Mile” Menjadi “Quiet Quitting”
Gejala tergerusnya engagement ini terlihat nyata melalui tren quiet quitting. Pekerja tetap melakukan tugasnya, namun hanya sebatas apa yang tertulis dalam kontrak. Tidak ada lagi inisiatif berlebih. Bagi mereka, energi adalah komoditas yang mahal; jika perusahaan tidak menjanjikan kepastian jangka panjang atau kompensasi yang sepadan dengan inflasi, mengapa harus memberikan lebih?
Di sisi lain, fleksibilitas yang ditawarkan gig economy membuat standar ekspektasi pekerja meningkat. Mereka melihat bahwa bekerja secara mandiri memungkinkan kontrol penuh atas waktu. Ketika perusahaan konvensional masih menuntut kehadiran fisik yang kaku dan loyalitas tanpa syarat, terjadilah disconnect yang memperlebar jurang keterikatan emosional.
”Di era di mana setiap orang bisa menjadi ‘perusahaan bagi dirinya sendiri’ melalui platform digital, loyalitas tidak lagi bisa dibeli hanya dengan gaji bulanan, melainkan harus dipupuk melalui makna kerja dan penghargaan atas integritas hidup pekerja.”
Redefinisi Engagement untuk Masa Depan
Jika perusahaan ingin tetap kompetitif dan mendapatkan kembali extra effort dari karyawannya, cara-cara lama tidak lagi mempan. Pemilik usaha dan pemimpin organisasi harus menyadari beberapa hal:
- Fokus pada Output, Bukan Kendali: Pekerja yang terbiasa dengan gaya gig economy menghargai otonomi. Memberi kepercayaan lebih pada hasil akhir daripada durasi duduk di meja kantor dapat meningkatkan kembali rasa kepemilikan.
- Upskilling sebagai Bentuk Imbalan: Di dunia yang serba cepat, keterampilan adalah mata uang. Pekerja akan lebih “engaged” jika mereka merasa pekerjaan saat ini membuat mereka lebih berharga di pasar tenaga kerja masa depan.
- Kesejahteraan Mental sebagai Prioritas: Extra effort tidak akan muncul dari pekerja yang mengalami burnout. Perusahaan harus menjamin bahwa loyalitas mereka tidak dibayar dengan kesehatan mental yang hancur.
Gig economy memang telah mendisrupsi tatanan loyalitas tradisional. Namun, ini bukan berarti employee engagement telah mati. Ia hanya sedang berganti rupa. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan menawarkan fleksibilitas dan menghargai ambisi pribadi karyawannya akan tetap mendapatkan upaya terbaik mereka. Sebaliknya, perusahaan yang masih menuntut “loyalitas buta” di tengah zaman yang serba cair ini, harus bersiap menghadapi tenaga kerja yang hanya hadir secara fisik, namun pikirannya berada di tempat lain.
Oleh: Julianto
Mahasiswa Program Magister Ilmu Manajemen Universitas Jenderal Soedirman
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































