Di era digital saat ini, banyak mahasiswa yang mengalami perubahan gaya hidup dengan ditandai oleh meningkatnya aktivitas multitasking, yaitu melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan, seperti mengerjakan tugas kuliah sambil mendengarkan musik, membuka media sosial, atau sekedar membalas pesan-pesan. Multitasking sering dianggap sebagai strategi efektif dalam menyelesaikan beberapa tugas yang menumpuk. Namun, dalam perspektif biopsikologi, kebiasaan multitasking justru dapat membebani fungsi kognitif seseorang, seperti memengaruhi konsentrasi, memori kerja, dan perhatian. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa memahami dampak sesungguhnya dari kebiasaan multitasking terhadap fungsi kognitif, khususnya dalam konteks pembelajaran dan performa akademik.
Fungsi kognitif mencakup proses mental, seperti persepsi, memori, perhatian, dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Fungsi ini diatur oleh sistem saraf pusat, terutama pada bagian prefrontal cortex yang bertanggung jawab terhadap fungsi eksekutif, seperti pengambilan keputusan, penghambatan respons, dan pengaturan perhatian. Ketika mahasiswa melakukan kegiatan dengan multitasking, otak harus berpindah secara cepat dari satu tugas ke tugas lainnya, atau dikenal dengan task switching. Proses ini membuat otak membutuhkan kapasitas memori kerja yang besar serta kontrol inhibisi yang kuat untuk menyaring mana informasi yang tidak relevan.
Menurut Susanti, Hasmira, dan Sukarnih Putri (2023), Fungsi eksekutif merupakan aspek yang penting dalam proses aktivitas belajar, karena dapat memengaruhi kemampuan pengambilan keputusan, pengaturan informasi, dan perilaku kognitif adaptif. Sebagai pusat fungsi eksekutif, prefrontal cortex berfungsi sebagai pusat eksekutif yang akan bekerja lebih keras ketika mahasiswa melakukan kegiatan secara multitasking, sehingga kebiasaan ini dapat berpotensi menurunkan efisiensi kognitif.
Penelitian yang dilakukan oleh Wulandari dan Hendrawan (2024) juga menunjukkan bahwa kebiasaan multitasking media dapat memberikan pengaruh terhadap penurunan performa kontrol inhibisi pada pelajar. Seseorang yang sering melakukan kebiasaan multitasking dapat mengalami kesulitan dalam menyaring stimulus yang tidak relevan, sehingga lebih mudah terdistraksi saat mengerjakan tugas kognitif. Namun, Penelitian tersebut juga mencatat bahwa multitasking tidak secara signifikan memengaruhi fleksibilitas kognitif atau memori kerja. Hal ini menunjukkan bahwa dampak multitasking bersifat selektif terhadap fungsi kognitif tertentu, terutama pada perhatian dan inhibisi.
Selanjutnya pada penelitian yang dilakukan oleh Khairunnisa dkk. (2022) menemukan bahwa lebih dari 70% mahasiswa terbiasa melakukan kebiasaan multitasking media pada saat mereka belajar atau menyelesaikan tugas kuliah. Mereka merasa multitasking dapat membantu mengurangi kebosanan dan dapat lebih cepat membantu dalam menyelesaikan tugas. Namun, multitasking terbukti dapat mengurangi kualitas pemrosesan informasi dan durasi konsentrasi seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan efisiensi fungsi kognitif, meskipun tidak secara langsung dirasakan oleh individu.
Selain itu, terdapat penelitian yang dilakukan oleh Fauzy, dkk (2023) yang menyatakan bahwa mahasiswa yang sering melakukan kebiasaan multitasking justru merasa cepat lelah, mudah terdistraksi, dan mengalami kesulitan dalam mengingat informasi yang baru dipelajari. Aktivitas multitasking dapat menyebabkan overstimulasi pada sistem kognitif karena otak harus bekerja memproses berbagai stimulus visual dan auditori secara bersamaan. Kondisi ini dapat melemahkan memori jangka pendek dan konsentrasi.
Dalam sudut pandang biopsikologi, kebiasaan multitasking dapat menyebabkan peningkatan pada aktivitas prefrontal cortex dan parietal lobe. yang berperan dalam pengaturan perhatian. Ketika seseorang melakukan aktivitas secara multitasking, daya kerja memori jangka pendek (working memory) menjadi terbagi, sehingga dapat mempersulit kerja otak dalam menyimpan dan memproses informasi baru dengan optimal. Proses ini juga dapat mengganggu encoding memory, yaitu tahap awal dalam pembentukan memori jangka panjang. Akibatnya, mahasiswa justru lebih sulit dalam memahami dan mengingat materi pembelajaran.
Selain itu, aktivitas yang dilakukan secara multitasking dapat memicu peningkatan aktivitas pada sistem limbik, terutama ketika stimulus yang digunakan bersifat menarik atau menyenangkan seperti mendengarkan musik atau memutar sebuah video. Aktivitas sistem limbik dapat mengganggu fungsi prefrontal cortex, sehingga dapat mengurangi kemampuan regulasi perhatian dan pengambilan keputusan.
Kebiasaan multitasking dalam jangka panjang dapat menyebabkan penurunan efektivitas belajar, mengurangi ketahanan konsentrasi mahasiswa, dan memperlambat pemrosesan informasi. Mahasiswa yang sering melakukan aktivitas multitasking cenderung memerlukan waktu yang lebih lama dalam menyelesaikan tugas dan memiliki performa akademik yang cenderung lebih rendah dibandingkan mahasiswa yang hanya fokus pada satu tugas (single-tasking). Selain itu, multitasking yang berlebihan juga dapat menimbulkan kelelahan kognitif sehingga dapat menyebabkan stres akademik.
Multitasking memiliki dampak yang signifikan terhadap fungsi kognitif mahasiswa, terutama pada konsentrasi, kontrol inhibisi, dan perhatian. Kebiasaan multitasking dapat membebani prefrontal cortex dan working memory, yang berperan penting dalam proses belajar. Meskipun multitasking terlihat efisien, justru menurut pandangan biopsikologi, kebiasaan ini justru dapat menurunkan efektivitas belajar dan kualitas pemrosesan informasi. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk membatasi multitasking pada saat belajar atau saat mengerjakan tugas dan menerapkan strategi single-tasking untuk mendukung performa akademik dan kesehatan kognitif.
REFRENSI
Tambun, A. R. Y., Yudoko, G., & Aldianto, L. (2024). The cognitive costs of multitasking: A critical examination of its impacts on learning, brain structure, and long-term cognitive function. The International Journal of Business & Management, 12(9), 70–74. https://doi.org/10.24940/theijbm/2024/v12/i9/BM2409-012
Wulandari, A., & Hendrawan, D. (2024). Multitasking Media dan Kinerja Fungsi Eksekutif pada Siswa Sekolah Menengah di Indonesia. Jurnal Kependidikan. Jurnal Hasil Penelitian Dan Kajian Kepustakaan Di Bidang Pendidikan, Pengajaran, Dan Pembelajaran , 10 (2), 802–812. https://doi.org/10.33394/jk.v10i2.11657
Khairunnisa, Y., Ramadhan, FS., Pramudyo, KE., Nitisara, MR., & Darajat, R. . (2022). Multitasking Media Akademik dan Binge-Watching pada Mahasiswa Universitas Padjadjaran. Jurnal ILMU KOMUNIKASI. 19 (2), 249–266. https://doi.org/10.24002/jik.v19i2.4037
Fauzy, E. R., Muwahidah, M., Oktiaputri, A., & Widian, W. (2023). Persepsi Mahasiswa terhadap Aktivitas Multitasking dan Komunikasi dalam Perkuliahan Daring. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3 (2), 112-124. https://doi.org/10.17509/artikulasi.v3i2.69722
Susanti, D., Hasmira, . H., & Sukarnih Putri, M. (2023). Peran Fungsi Eksekutif Otak pada Perkembangan Anak. Jurnal Pendidikan Indonesia , 4 (01), 22–32. https://doi.org/10.59141/japendi.v4i01.1524
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































