Di era globalisasi yang semakin pesat, arus pertukaran budaya berlangsung tanpa batas. Pengaruh budaya populer dari berbagai negara, khususnya dari Korea Selatan, kini sangat mudah masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Media sosial menjadi pintu utama penyebaran tren tersebut, membuat perubahan gaya hidup dan fashion terjadi begitu cepat. Salah satu fenomena yang tengah mencuri perhatian publik adalah tren fashion “Ngortis”, yang terinspirasi dari boygroup baru bernama Cortis.
Korea Selatan telah lama dikenal sebagai pusat industri kreatif Asia, terutama dalam musik, drama, dan fashion. Gaya para idol K-Pop menjadi acuan bagi banyak anak muda karena tampilannya yang edgy, eksperimen warna yang berani, hingga outfit yang terlihat modis namun tetap nyaman. Mulai dari streetwear, oversized outfit, layering outfit hingga penggunaan aksesori unik seperti beanie, gelang metalik, choker, dan tas kecil sling bag, semua menjadi tren yang mudah diadaptasi oleh remaja dan mahasiswa Indonesia. Lewat platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, visual para idol K-Pop tersebar luas dan cepat diikuti. Fenomena ini menunjukkan bahwa globalisasi tidak hanya memengaruhi tren budaya, tetapi juga cara anak muda mengekspresikan identitas dan gaya pribadi mereka.
Isu terbaru yang ramai di media sosial adalah kemunculan boygroup baru bernama Cortis. Kehadiran mereka langsung mencuri perhatian publik, terutama di platform TikTok. Tidak hanya musiknya, tetapi juga gaya fashion mereka yang unik menjadi sorotan. Para penggemar menyebut tren ini sebagai “Ngortis”, yaitu gaya berpakaian yang meniru atau terinspirasi dari penampilan Cortis.
Kehadiran tren Ngortis memberikan sejumlah dampak positif bagi generasi muda, di antaranya:
1. Mendorong kreativitas dalam berpakaian.
Anak muda terdorong untuk lebih eksploratif dalam memilih outfit, mencampur warna, dan bermain dengan aksesori. Mereka merasa lebih bebas mengekspresikan diri.
2. Meningkatkan kepercayaan diri
Tren ini memberi ruang bagi pengikutnya untuk berani tampil berbeda dan percaya dengan gaya yang mereka pilih.
3. Memicu pertumbuhan ekonomi kreatif
Pelaku UMKM fashion lokal mulai membuat produk dengan gaya Ngortis, seperti pakaian streetwear, aksesori unik, hingga koleksi eksperimental yang terinspirasi dari tren tersebut.
Walaupun membawa banyak manfaat, tren global seperti Ngortis juga menghadirkan tantangan. Salah satunya adalah potensi tergerusnya identitas fashion lokal. Ketika anak muda terlalu fokus mengikuti gaya luar, ada kemungkinan kekayaan budaya lokal seperti motif batik, tenun, atau gaya etnik modern menjadi kurang terangkat. Selain itu, konsumsi tren global secara berlebihan dapat mendorong pola fast fashion, yang berdampak pada lingkungan dan gaya hidup konsumtif. Pengaruh media sosial juga membuat sebagian anak muda merasa tekanan untuk selalu tampil trendi agar tidak ketinggalan zaman.
Generasi muda sebenarnya dapat mengimbangi pengaruh global dengan cara:
1. Mengadaptasi tren luar tanpa meninggalkan unsur lokal
2. Mengapresiasi karya fashion Indonesia
3. Menggabungkan gaya modern dengan identitas budaya
4. Serta memilih tren yang sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti arus
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































