Media sosial selama ini dikenal sebagai ruang berbagi cerita, pencapaian, hingga ekspresi diri. Namun, tren terbaru justru menunjukkan arah sebaliknya. Di kalangan Generasi Z, muncul fenomena yang dikenal sebagai “zero post”, yakni kebiasaan tidak lagi mengunggah konten secara aktif di media sosial, meski tetap menggunakannya setiap hari.
Generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an ini dikenal sangat dekat dengan dunia digital. Namun, alih-alih rajin memposting foto, video, atau status, banyak Gen Z kini memilih menjadi silent user—hadir, tetapi nyaris tak meninggalkan jejak unggahan.
Media Sosial Tak Lagi Jadi Ruang Aman
Salah satu alasan utama fenomena ini adalah tekanan sosial di ruang digital. Media sosial kini bukan sekadar tempat berbagi, tetapi juga arena penilaian. Jumlah likes, komentar, hingga views sering kali menjadi tolok ukur penerimaan sosial.
“Banyak Gen Z merasa capek secara mental. Takut dihakimi, dibandingkan, atau bahkan diserang di kolom komentar,” ujar Dinda (21), mahasiswa di Jakarta. Ia mengaku sudah lebih dari satu tahun tidak mengunggah apa pun di akun Instagram pribadinya.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran makna media sosial dari ruang ekspresi menjadi ruang evaluasi publik yang tidak selalu ramah, terutama bagi anak muda.
Lebih Nyaman Mengamati daripada Berpartisipasi
Alih-alih memposting, Gen Z tetap aktif sebagai pengamat. Mereka menonton story, scroll timeline, dan mengikuti tren, namun tanpa keinginan untuk ikut menampilkan kehidupan pribadi.
Pengamat komunikasi digital menilai hal ini sebagai bentuk kesadaran baru. Gen Z dinilai lebih selektif dalam membagikan identitas diri dan pengalaman personal di ruang publik digital.
“Mereka tidak anti media sosial, tapi lebih berhati-hati. Privasi dan kesehatan mental menjadi pertimbangan utama,” ujar seorang akademisi komunikasi.
Dari Eksistensi ke Proteksi Diri
Jika generasi sebelumnya memandang media sosial sebagai alat eksistensi, Gen Z justru mulai melihatnya sebagai ruang yang perlu dibatasi. Fenomena zero post juga dipengaruhi oleh maraknya konten pamer pencapaian, gaya hidup mewah, serta standar kesuksesan semu yang kerap memicu rasa tidak aman.
Tidak sedikit Gen Z yang akhirnya memindahkan ruang ekspresi ke lingkaran privat, seperti grup WhatsApp, akun close friends, atau bahkan menjauh dari dunia digital sama sekali.
Diam yang Bermakna
Fenomena Gen Z zero post menjadi sinyal penting bahwa media sosial tengah mengalami krisis fungsi. Diamnya Gen Z bukan berarti kehilangan suara, melainkan bentuk perlawanan halus terhadap tekanan algoritma dan budaya viral.
Ke depan, tren ini bisa menjadi refleksi bagi platform digital untuk kembali menciptakan ruang yang lebih manusiawi—bukan sekadar kompetisi popularitas, tetapi tempat aman untuk berekspresi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































