Dalam lintasan sejarah peradaban manusia, ilmu pengetahuan selalu menjadi pilar utama yang menggerakkan kemajuan dan membentuk arah kebudayaan. Namun, perkembangan ilmu tidak pernah sepenuhnya netral; ia selalu berakar pada landasan filsafat yang menentukan cara pandang, tujuan, serta penilaian etis dalam penggunaannya. Filsafat sains hadir sebagai disiplin yang menelaah pertanyaan fundamental mengenai apa yang dikaji ilmu (ontologi), bagaimana ilmu diperoleh (epistemologi), dan untuk tujuan apa ilmu dimanfaatkan (aksiologi). Pada era modern, pembahasan filsafat sains kerap didominasi paradigma Barat yang menekankan rasionalitas, empirisme, dan pemisahan antara fakta ilmiah dengan nilai-nilai transenden. Sebaliknya, perspektif Islam menawarkan pendekatan yang tidak memisahkan sains dari spiritualitas. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak hanya menjadi alat untuk memahami fenomena alam, tetapi juga menjadi sarana untuk mendalami kebesaran Allah SWT. Tulisan ini menghadirkan pemikiran reflektif dan kritis terkait konsep filsafat sains dari sudut pandang Islam dengan menonjolkan perbedaannya dari filsafat sains Barat, sekaligus menegaskan kembali bahwa prinsip tauhid merupakan dasar yang harus menjadi pijakan dalam membangun ilmu pengetahuan pada masa kontemporer.
Secara historis, istilah “filsafat” berasal dari bahasa Yunani philosophia yang mengandung makna “cinta terhadap kebijaksanaan,” sementara pelakunya disebut philosophos, yakni individu yang mencari kebenaran melalui proses perenungan. Dalam tradisi Islam, konsep serupa diterjemahkan melalui istilah hikmah atau al-hikmah al-ilahiyyah, yang merujuk pada kebijaksanaan yang bersumber dari dimensi ketuhanan. Filsafat sains sendiri merupakan cabang filsafat yang mempelajari landasan, metode, serta tujuan dari ilmu pengetahuan. Ia berusaha memahami bagaimana pengetahuan terbentuk, apa hakikatnya, dan bagaimana penggunaannya berdampak pada kehidupan manusia. Dalam perspektif Islam, pembahasan mengenai filsafat sains tidak dapat dilepaskan dari nilai tauhid sebagai prinsip fundamental yang menuntun arah pencarian ilmu. Seperti yang ditegaskan oleh Dr. Salamuddin dalam kajian filsafat sains Islam, “ilmu tidak pernah berdiri netral; ia selalu memiliki orientasi tertentu”.
Perbedaan paling mendasar antara filosofi sains Islam dan Barat terletak pada fondasi epistemologisnya. Sains Barat, terutama setelah masa Pencerahan, cenderung menempatkan ilmu sebagai entitas yang terpisah dari agama dan nilai moral. Ilmu dipandang sebagai aktivitas bebas nilai yang hanya mengandalkan rasionalitas dan bukti empiris. Sebaliknya, Islam menekankan bahwa ilmu senantiasa terikat pada dimensi etika, spiritualitas, dan tanggung jawab moral. Pengetahuan tidak sekadar menjadi kumpulan teori, tetapi sarana untuk memahami dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan demikian, filsafat sains Islam berangkat dari prinsip tauhid yang mengakui bahwa semua pengetahuan berasal dari Allah dan harus dikembalikan kepada-Nya. Inilah ciri khas epistemologi Islam yang mengintegrasikan wahyu dengan kekuatan akal manusia secara harmonis.
Ontologi, sebagai cabang filsafat, membahas hakikat keberadaan dan berupaya menjawab pertanyaan mengenai apa yang menjadi objek kajian ilmu. Dalam pemikiran Islam, jawaban atas persoalan ini sangat jelas: alam semesta adalah ciptaan Allah SWT. Allah merupakan Wajib al-Wujud, Zat yang keberadaannya niscaya, sedangkan alam hanyalah Mumkin al-Wujud, yang ada karena diciptakan. Dengan demikian, keberadaan alam bukanlah sesuatu yang berdiri independen, tetapi sebuah manifestasi dari kekuasaan dan kehendak Ilahi. Al-Qur’an berulang kali mengarahkan manusia agar memperhatikan dan merenungi ciptaan Allah, misalnya dalam surah Ali Imran ayat 190 yang menyatakan bahwa pergantian siang dan malam serta penciptaan langit dan bumi merupakan tanda bagi orang-orang yang berakal.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa mempelajari fenomena alam sejatinya merupakan aktivitas spiritual yang memperkuat penghayatan terhadap kebesaran Tuhan. Dalam perspektif ontologi sains Islam, alam bukan semata objek material atau sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan ayat kauniyah yang mencerminkan kebijaksanaan dan kekuasaan Allah. Berbeda dengan paradigma Barat yang cenderung memandang alam sebagai entitas mekanistik yang dapat dimodifikasi sesuka hati manusia, Islam menekankan prinsip keseimbangan dan amanah. Alam harus dijaga dan dihormati sebagai ciptaan Allah, bukan dilemahkan melalui eksploitasi berlebihan. Oleh sebab itu, ilmuwan Muslim tidak hanya dipandang sebagai peneliti, tetapi juga sebagai hamba yang berusaha membaca makna ilahiah melalui observasi ilmiah.
Epistemologi mengkaji asal-usul serta metode memperoleh pengetahuan. Dalam tradisi Barat, dua aliran besar mendominasi pembahasan epistemologi, yakni rasionalisme yang menekankan akal, dan empirisme yang mengutamakan pengalaman inderawi. Islam menawarkan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mengakui keberadaan beberapa sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Pertama, wahyu berupa Al-Qur’an dan hadis menjadi sumber tertinggi yang memberikan arah, nilai, dan tujuan bagi aktivitas ilmiah. Kedua, akal berfungsi sebagai instrumen berpikir yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk mengolah data dan memahami struktur ciptaan-Nya. Ketiga, indera menjadi sarana mengamati realitas empiris. Keempat, ilham atau intuisi memberikan kedalaman pemahaman spiritual bagi hati yang bersih.
Integrasi seluruh sumber ini menegaskan bahwa dalam Islam, ilmu tidak hanya dinilai berdasarkan validitas empiris maupun logika murni, tetapi juga melibatkan dimensi moral dan spiritual. Pemikir Muslim seperti al-Kindi, Ibn Sina, dan al-Farabi membuktikan bahwa sains dan iman dapat berjalan beriringan; mereka mengembangkan disiplin kedokteran, astronomi, dan matematika tanpa meninggalkan keyakinan tauhid. Al-Kindi bahkan menegaskan bahwa tujuan utama pencarian ilmu adalah “meniru cara kerja Tuhan sejauh yang dapat dijangkau akal manusia”. Berbeda dengan tradisi Barat modern yang menjadikan akal sebagai otoritas tunggal, Islam menempatkan akal sebagai alat yang harus tunduk pada wahyu. Dengan paradigma epistemologi yang seimbang, sains Islam mampu menghindarkan manusia dari krisis moral yang semakin nyata dalam perkembangan teknologi masa kini.
Aksiologi menelaah nilai dan tujuan ilmu pengetahuan, khususnya terkait arah penggunaannya. Dalam sudut pandang Islam, ilmu selalu berkaitan dengan dimensi ibadah dan tidak pernah berada dalam posisi netral. Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh aktivitas manusia, termasuk pencarian ilmu, seharusnya diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana disebut dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56. Tujuan ilmu dalam Islam mencakup beberapa aspek penting: pertama, mendekatkan manusia kepada Allah melalui pemahaman terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya. Kedua, memberikan manfaat nyata bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Ketiga, menjaga keseimbangan ekologis dan moral agar ilmu tidak digunakan untuk kerusakan.
Konsep eco-sufisme dalam diskursus Islam kontemporer mencerminkan kesadaran bahwa sains harus berpadu dengan spiritualitas. Memahami alam berarti menghormati ciptaan Tuhan, bukan menguasainya secara serakah. Etika ilmuwan dalam Islam juga memiliki posisi sentral, menuntut sikap jujur, amanah, rendah hati, serta berorientasi pada kemaslahatan. Dalam kerangka ini, ilmuwan sejati tidak diukur semata-mata dari temuannya, tetapi dari niat dan kontribusinya bagi kebaikan. Berbeda dengan orientasi sains modern yang kadang menjadikan teknologi sebagai sarana dominasi, Islam memandang manusia sebagai khalifah yang bertugas merawat bumi. Dengan demikian, ilmu menjadi sumber keberkahan, bukan kehancuran.
Filsafat sains Islam menawarkan paradigma yang komprehensif dalam memahami hakikat ilmu. Ia tidak hanya mencakup aspek rasional dan empiris, tetapi juga mengintegrasikan dimensi etika, spiritualitas, dan tujuan moral. Dalam kerangka ontologis, Islam menegaskan bahwa alam adalah ciptaan Allah dan merupakan tanda kekuasaan-Nya. Pada sisi epistemologi, Islam menempatkan wahyu, akal, indera, dan intuisi sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Di bidang aksiologi, Islam memberikan orientasi bahwa ilmu harus digunakan untuk ibadah, kemaslahatan, dan menjaga keseimbangan alam.
Pendekatan ini menjadi relevan di tengah tantangan modern berupa krisis moral dan melemahnya spiritualitas. Filsafat sains Islam berupaya mengembalikan ilmu pada tujuan hakikinya, yakni sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sekaligus membentuk kehidupan yang lebih bermakna. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam membangun kembali tradisi keilmuan yang berlandaskan tauhid sehingga ilmu tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menyucikan hati dan membimbing manusia menuju kebijaksanaan yang sejati.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































