Pernahkah kamu merasa gelisah hanya karena tidak mengecek Instagram atau TikTok selama beberapa jam? Atau tiba-tiba terlintas di pikiran, “Jangan-jangan ada kabar baru?” Jika iya, bisa jadi kamu sedang mengalami fenomena yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).
FOMO pada dasarnya adalah perasaan takut ketinggalan. Takut kehilangan tren terbaru, tidak ikut dalam cerita yang sedang ramai, tidak terlibat dalam momen seru, atau bahkan tidak dianggap “update” oleh teman-teman. Di era digital seperti sekarang, terutama bagi remaja, perasaan ini sangat mudah muncul karena hampir semua aktivitas dibagikan melalui media sosial.
Setiap hari, kita melihat story teman yang sedang nongkrong, foto liburan, pencapaian lomba, atau sekadar potret estetik di kafe populer. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Padahal, yang kita lihat hanyalah potongan momen terbaik mereka—bukan keseluruhan cerita hidupnya.
Mengapa Remaja Rentan Terhadap FOMO?
Masa remaja adalah fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, pendapat teman sebaya terasa sangat penting. Kita ingin diterima, ingin merasa menjadi bagian dari suatu kelompok, dan tentu saja tidak ingin tertinggal apa pun. Maka tidak heran jika notifikasi kecil saja bisa membuat kita penasaran.
Selain itu, media sosial memang dirancang agar penggunanya betah berlama-lama. Setiap like, komentar, atau view yang kita terima bisa menimbulkan rasa senang. Lama-kelamaan, muncul kebiasaan untuk terus mengecek ponsel karena takut ada sesuatu yang terlewat.
Masalahnya, jika kita terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, rasa percaya diri bisa menurun. Kita mulai berpikir, “Mengapa hidup mereka terlihat lebih menyenangkan?” atau “Kenapa aku tidak sepopuler dia?” Padahal, kenyataannya belum tentu seperti yang terlihat di layar.
Dampak FOMO Jika Diabaikan
Jika FOMO dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental. Kita bisa menjadi lebih cemas, sulit fokus saat belajar, bahkan mengalami gangguan tidur karena terlalu lama scrolling sebelum tidur.
Sebagian remaja juga bisa merasa dirinya tidak cukup baik. Segala hal mulai diukur dari jumlah like, followers, atau seberapa sering diajak berkumpul. Padahal, nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh angka-angka tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, FOMO dapat membuat kita sulit menikmati momen yang sedang terjadi. Saat berkumpul bersama keluarga atau teman, perhatian tetap terfokus pada layar ponsel karena khawatir ada kabar baru. Akhirnya, momen berharga di dunia nyata justru terlewatkan.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Mengatasi FOMO bukan berarti harus berhenti total dari media sosial. Yang terpenting adalah menggunakannya dengan bijak.
Pertama, atur waktu penggunaan media sosial. Tetapkan batas harian agar tidak berlebihan.
Kedua, ingat bahwa media sosial hanyalah sorotan terbaik dari kehidupan seseorang. Orang jarang membagikan kegagalan atau masalah pribadi mereka.
Ketiga, fokus pada pengembangan diri. Kembangkan hobi, rutin berolahraga, atau ikut kegiatan yang kamu sukai. Semakin kamu sibuk dengan hal positif, semakin kecil kemungkinan FOMO muncul.
Keempat, jangan ragu untuk berbagi cerita jika merasa cemas berlebihan. Berbicara dengan teman, orang tua, atau guru BK bisa membantu meringankan beban pikiran.
Penutup
FOMO adalah hal yang wajar, terutama di era media sosial seperti sekarang. Namun, jangan sampai rasa takut ketinggalan justru membuat kita kehilangan kebahagiaan sendiri. Hidup bukan tentang siapa yang paling update, tetapi tentang siapa yang mampu menikmati prosesnya.
Sesekali tidak membuka media sosial bukanlah masalah. Justru, mungkin itu cara terbaik untuk kembali menikmati hidup yang nyata.
Irene Maharani
Universitas Negeri Surabaya 2025
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































