Yogyakarta — Sutradara kenamaan Hanung Bramantyo mengajak publik untuk membuka ruang tafsir baru terhadap sejarah Indonesia melalui medium film. Ajakan itu ia sampaikan dalam sesi temu wicara bertajuk “Sejarah vs Sinema: Perang Fiksi dan Fakta” yang berlangsung di Ruang Cinema Gedung 6 Universitas Amikom Yogyakarta, Senin (1/12).
Dalam forum tersebut, Hanung mengupas filosofi kreatif di balik film terbarunya The Hole atau Bolong, sebuah karya yang berangkat dari peristiwa sejarah Indonesia yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya.
“Diskusi hari ini bukan semata soal film saya, tetapi tentang bagaimana kita memandang sejarah dan sinema. Saya ingin mengajak teman-teman memahami alasan mendasar kenapa film ini dibuat,” ujar Hanung di hadapan peserta dialog.
Teror sebagai bahasa horor yang sesungguhnya
Hanung menjelaskan bahwa The Hole dibangun dari prinsip horor yang ia nilai sering disalahartikan industri. Menurutnya, esensi horor bukan sekadar jump scare, melainkan atmosfer teror yang mengancam nyawa dan memicu ketakutan eksistensial.
Ia kemudian mengaitkan pendekatan sinemanya dengan gagasan semiolog Roland Barthes yang menempatkan fiksi sebagai sistem tanda. “Dalam fiksi, yang penting bukan apakah ceritanya benar, tetapi bagaimana teks membentuk makna dan mempengaruhi penonton,” jelasnya. Karena itu, lanjut Hanung, film tidak berkewajiban memindahkan realitas secara mentah—justru kekuatan sinema terletak pada kemampuannya membangun tafsir dan menggugah pembacaan baru.
Sejarah sebagai dialog lintas waktu
Dalam diskusi yang berlangsung intens, Hanung menyinggung dua pendekatan besar dalam penulisan sejarah. Ia lebih sejalan dengan pemikiran Edward Hallett Carr yang melihat sejarah sebagai dialog antara masa kini dan masa lalu.
Menurut pandangan ini, sejarawan selalu bertindak sebagai penafsir, sehingga setiap rekonstruksi sejarah tak pernah benar-benar steril dari konteks zaman. Gagasan tersebut, kata Hanung, berbeda dengan pendekatan Leopold von Ranke yang menempatkan dokumen asli sebagai rujukan kebenaran absolut.
“Sejarah tidak bergerak secara tunggal. Cara kita melihat fakta hari ini berbeda dengan cara orang melihatnya 50 tahun lalu,” tegasnya.
Menggeser fokus dari tokoh besar ke konteks sosial
Hanung juga mengkritisi kecenderungan narasi sejarah yang terlalu menonjolkan tokoh besar sebagai motor perubahan. Menurutnya, peristiwa sejarah tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang membentuknya.
“Kita sering terjebak pada sosok, pada figur. Padahal sejarah bergerak karena masyarakat dan keadaan yang melingkupinya,” ujarnya.
Melalui The Hole, Hanung berharap penonton dapat melihat kembali bab-bab sejarah Indonesia yang selama ini belum terungkap tuntas, sekaligus memahami bahwa sinema memiliki ruang luas untuk menafsirkan ulang masa lalu.
Dialog tersebut ditutup dengan diskusi interaktif, di mana para peserta — mayoritas mahasiswa sinema dan komunikasi — menyampaikan pertanyaan seputar etika representasi, ruang imajinasi, hingga batas antara fakta dan fiksi dalam film sejarah.
Dengan film terbarunya, Hanung tampak tidak hanya ingin menghibur, tetapi juga mengajak publik berdialog dan melihat sejarah dengan kacamata yang lebih kritis, lebih luas, dan lebih manusiawi. (Yusuf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































