Islam adalah agama yang menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Sejak turunnya wahyu pertama, yaitu Iqra’ (bacalah), Islam telah menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Ilmu dalam pandangan Islam tidak hanya berkaitan dengan aspek duniawi, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk mengenal Allah SWT dan memahami ciptaan-Nya. Al-Qur’an menyebut kata ‘ilm lebih dari tujuh ratus kali, menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Dalam QS. Az-Zumar [39]: 9, Allah menegaskan, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Ayat ini memperlihatkan bahwa kemuliaan seseorang bukan diukur dari status sosialnya, melainkan dari keluasan dan kebermanfaatan ilmunya.
Pada awal perkembangan Islam, para penuntut Islam tidak ada perbedaan. Pada saat Rasulullah masih hidup, semua sahabat diberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman tentang ajaran Islam oleh Rasulullah Saw. Namun, tidak semua sahabat dapat memanfaatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari beliau. Hal ini dapat dipahami karena para sahabat mempunyai pekerjaan dan aktivitas yang beraneka ragam. Islam mengajarkan bagaimana membentuk sebuah kebudayaan dan membahas lebih mendalam membentuk peradaban yang sempurna. Islam bukan sekadar “ajaran langit” yang tidak menyentuh kehidupan riil umat manusia. Islam sebagai agama, tidak lengkap kalau tidak mengatur semua perkara umat manusia (Zamzami, 2015).
Nabi Muhammad SAW juga menegaskan pentingnya ilmu dengan sabdanya, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah). Pada masa beliau dan para sahabat, kegiatan belajar tidak hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga meluas ke bidang kedokteran, astronomi, dan matematika. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk mempelajari segala bentuk ilmu yang membawa kemaslahatan. Dalam sejarah peradaban Islam, terutama pada masa keemasan (abad ke-8 hingga ke-13 M), lahir para ilmuwan besar seperti Al-Khwarizmi, Ibn Sina, Al-Biruni, dan Ibn al-Haytham yang tidak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga berperan penting dalam perkembangan sains dunia.
Pandangan kontemporer juga memperkuat bahwa Islam merupakan agama ilmu. Muhammad Zainal Abidin (2022) dalam artikelnya “Konsep Ilmu dalam Islam: Tinjauan Terhadap Makna, Hakikat, dan Sumber-sumber Ilmu” menjelaskan bahwa ilmu dalam Islam mencakup tiga sumber utama: wahyu (qauliyyah), alam (kauniyyah), dan manusia (‘insiyyah). Dengan demikian, konsep ilmu Islam jauh lebih luas dibandingkan dengan sains Barat yang hanya bertumpu pada rasionalitas dan empirisme. Pandangan ini diperkuat oleh Maskur Rosyid (2025) dalam tulisannya “Revitalization of Islamic Knowledge”, yang menyatakan bahwa salah satu tantangan besar umat Islam saat ini adalah adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Oleh karena itu, diperlukan sistem pendidikan yang mampu mengintegrasikan keduanya agar ilmu menjadi sarana ibadah sekaligus kemajuan peradaban.
Pengaruh Islam Sebagai Sebuah Agama dan Peradaban Modern
Islam merupakan sebuah agama yang dipercaya sebagai agama yang memiliki sifat universal, dinamis, dan humanis. Islam juga dipercaya sebagai agama yang akan kekal sepanjang waktu. Agama yang memiliki kitab suci Alquran ini juga dipercaya telah memiliki orisinal dari Allah swt, dengan rosul terakhir-Nya, yaitu nabi Muhammad Saw. Sebagaimana yang telah termaktub dalam Q.s. al Ahzab/33:40. Dalam ajaran Islam tidak hanya diperuntukkan kepada satu kelompok atau wilayah saja, melainkan ajaran Islam untuk seluruh umat manusia yang berada di alam semesta ini.(Adawiyah, 2019)Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi pedoman hidup bagi umat manusia untuk tunduk dan berserah diri hanya kepada-Nya. Sedangkan Nurcholish Madjid agama adalah suatu kepercayaan, pemandu kehidupan sebagai acuan bagi jati diri seseorang. Lantas peradaban itu sendiri adalah kumpulan seluruh hasil budi daya manusia menuju perubahan dan kemajuan serta mensejahterakan hidup.
Agama adalah matriks dan pandangan hidup (worldview) yang melaluinya seluruh aktivitas manusia, usaha, kreasi dan pemikiran mengambil tempat atau posisi. Ringkasnya Islam adalah agama sebagai satu cara hidup yang total (a total way of life). Sejalan dengan Muhaimin menegaskan bahwa agama adalah jalan, jalan hidup atau jalan yang harus ditempuh oleh manusia dalam kehidupannya di dunia ini. Maka dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa Islam sebagai agama yang menjadikan pandangan hidup bagi manusia. Jadi orang yang beragama akan teratur dalam kehidupannya.
Faktor Penyebab Peradaban Islam dapat Runtuh dan Berkembang
Ketika membahas masalah kehidupan manusia tidak terlepas dari sisi agama, ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan, seni, budaya dan lain sebagainya. Dari semua aspek tersebut dapat terjadi kemajuan dan kemunduran yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Namum, dalam sebuah perkembangan peradaban pada era klasik dan modern banyak perubahan yang terjadi sesuai tingkat kemajuan intelektual manusia. Bahkan pada era sekarang semua perkembangan peradaban semakin dinikmati oleh setiap manusia, berbeda dengan zaman Rasulullah SAW yang pada era beliau begitu signifikan untuk menciptakan perubahan yang sangat pesat melalui berbagai cara yang dilakukan untuk mendapatkan perkembangan peradaban yang sempurna.
Hasilnya semua manusia di dunia mengakui bahwa Rasulullah SAW sebagai panutan seluruh umat.Adapaun faktor-faktor yang perlu dicermati dari perkembangan peradaban seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebagai berikut: Pandangan hidup Islam sebagai pondasi membangun peradaban Islam, b. Perkembangan ilmu pengetahuan, c. Stabilitas sosial dan politik. Ketiga faktor tersebut sangat memberikan dampak positif bagi masyarakat, ketika Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT tidak lain hanya untuk memberikan dan membangun pondasi keimanan yang kuat bagi masyarakat. Karena sesuai sabda beliau “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Dengan demikian pondasi awal untuk kebangkitan peradaban Islam harus mengedepankan peradaban moral dan memperkokoh keimanan untuk mencetuskan pandangan hidup yang sangat berpengaruh dalam perkembangan peradaban yang sempurna.
Dengan demikian, Islam adalah agama yang tidak hanya menghargai ilmu, tetapi menjadikannya sebagai inti dari ibadah dan peradaban. Sejarah telah menunjukkan bahwa ketika umat Islam mengutamakan ilmu, maka lahirlah kemajuan besar di berbagai bidang. Sebaliknya, ketika semangat ilmiah mulai pudar, maka kemunduran pun terjadi. Oleh karena itu, umat Islam modern harus kembali menumbuhkan budaya ilmiah yang berlandaskan nilai-nilai Islam, agar ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan menuju kemajuan yang beretika, berkeadilan, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.
Sejarah menunjukkan bahwa kejayaan Islam pada masa klasik lahir karena umat menjadikan ilmu sebagai pondasi utama pembangunan. Oleh sebab itu, dalam konteks modern, umat Islam perlu menumbuhkan kembali semangat ilmiah yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis, serta mengembangkan sistem pendidikan yang memadukan sains dan keimanan. Dengan demikian, Islam sebagai agama ilmu akan kembali melahirkan peradaban yang maju, beretika, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































