Di MA Al Muhajirin Koba, nama Janurianto Syahputra (28) yang akrab dipanggil Putra bukan hanya dikenal sebagai pengajar fisika. Lebih dari itu, ia merupakan sosok yang menjadi tempat pulang bagi banyak murid yang pernah merasa tidak percaya diri, kehilangan arah, dan membutuhkan seseorang yang benar-benar peduli. Putra hadir bukan sekadar sebagai guru, melainkan sebagai pendamping hidup yang mengajarkan bahwa kesuksesan lahir dari ketekunan, karakter baik, dan keberanian melihat diri lebih dalam.
Metode mengajar Putra tidak pernah kaku. Setelah menjelaskan materi, ia tidak kembali duduk dan membiarkan suasana hening. Ia memilih bercerita, menggugah, dan memancing diskusi tentang masa depan, karakter, dan tantangan hidup. “Habis nulis tuh Bapak nggak diem duduk di meja, Biasanya Bapak sambil cerita, kayak gitu. Sambil ngobrol tentang masa depan mereka, tentang motivasi mereka. Nah, itu mungkin yang Bapak selihkan dalam proses pembelajaran di kelas,” ujarnya dengan nada santai.
Mengajar dengan Hati, Membimbing dengan Waktu
Tak cukup hanya di kelas, Putra menggunakan banyak waktunya di luar jam pelajaran untuk mendampingi murid-muridnya. Bimbingan sering berlanjut hingga malam, bahkan kadang sampai lewat tengah malam. “Bahkan di rumah, Bapak sering dimarahi ibu karena jarang ada di rumah, lebih banyak di luar. Ibu bilang, “Cobalah di rumah dulu, jangan keluar terus.” ujarnya sambil tertawa kecil. Baginya, transfer ilmu bukan satu-satunya tugas guru. Ada tanggung jawab moral untuk menguatkan karakter, mengarahkan masa depan, sekaligus mengubah pola pikir.
Putra sadar benar bahwa banyak murid membutuhkan ruang aman untuk bercerita, berdiskusi, dan salah sekalipun. Ruangan PIK-R, tempat ia paling sering melakukan bimbingan, telah menjadi saksi dari proses panjang itu. Dari diskusi karya ilmiah, tawa, permintaan maaf, hingga momen-momen murid menang lomba dan datang berlari sambil berkata, “Pak, aku lolos!” Semuanya terukir di ruangan yang tidak terlalu besar itu. “Kenangan paling kuat itu terjadi di sini. Dari pertikaian kecil sampai kegembiraan besar, semua terjadi di ruangan PIK-R,” ujarnya sambil tersenyum.
Potensi yang Dilihat dari Dalam, Bukan Permukaan
Dalam perjalanan panjang sejak 2012, Putra belajar membaca karakter dan potensi murid. Ia percaya bahwa setiap anak, bahkan yang pendiam sekalipun, menyimpan kemampuan besar. “kenapa Bapak bisa bilang anak pendiam punya potensi? Atau anak yang nakal pun punya potensi? Karena semua orang memang dasarnya punya potensi. Soal dia mau berkembang atau tidak, itu kembali lagi pada dirinya masing-masing.,” ujarnya. Ia pernah melihat perubahan besar pada salah satu murid pendiam, yang awalnya takut bicara, lalu perlahan berani mengemukakan pendapat yang ternyata sangat berbobot.
Putra juga sering mencontohkan perjalanan murid-murid sebelumnya seperti Ucup (19), Asep (19), dan Raja (18). Kisah-kisah itu ia gunakan sebagai cermin bagi murid baru. “Itu sering banget Bapak cerita. Kenapa Bapak bercerita? Itu bisa jadi gambaran buat mereka bahwa ternyata banyak loh anak-anaknya, yang nggak bisa apa-apa dulu, gak mau nyoba dulu, tapi berikutnya jadi bisa,” ujarnya. Namun, ia juga jujur bahwa masa kini membawa tantangan baru. Ada murid yang bukan hanya kehilangan semangat, tetapi juga menjauh. “Nah itu yang Bapak bingung harus ngapain Bapak panggil pun dia masih tipenya menjauh, Bapak ajak ngobrol pun masih gak mau,” ujarnya dengan nada pelan.
Menjadi Dewasa Bersama Murid-Muridnya
Kemenangan dan kegagalan sama-sama menjadi pelajaran penting dalam bimbingan Putra. Ia tidak ingin murid merasa hebat hanya karena menang, namun juga tidak ingin mereka kehilangan diri ketika kalah. “Setiap orang ada waktunya. Kalau sekarang belum menang, bukan berarti kamu tidak bisa. Mungkin waktumu belum sekarang,” ujarnya tegas. Setiap kali muridnya menyalahkan diri setelah kalah lomba, ia mengangkat kembali semangat mereka dengan kata-kata yang sama: ” Kita boleh ambisi untuk menang, tapi kita juga harus menyediakan satu tempat untuk kekalahan.” Ujarnya sambil tersenyum.
Motivasi yang ia bagikan tidak hanya untuk murid yang berprestasi, tetapi juga untuk murid yang mulai kehilangan percaya diri. “Cuma, fase yang Bapak gunakan adalah fase untuk menanyakan dulu sekarang. Fase yang kayak, ngapain kadang-kadang ikut, ngapain bang, sayang loh bang, kayak gini bang, kasih motivasi tanya, kasih motivasi, tanya, kasih motivasi cuma untuk solusi-solusi berikutnya,” ujarnya. Kadang ia pun merasa lelah, bukan karena mengajar, tetapi karena melihat murid yang tiba-tiba menjauh. Namun, Putra tetap mencoba memahami. “Bapak belajar lagi. Guru itu juga belajar dari anak-anaknya. Belajar bagaimana mengendalikan, bagaimana mendampingi,” tambahnya.
Inspirasi yang Ia Dapat, Ia Wariskan Lagi
Cara Putra mengajar banyak dipengaruhi oleh sosok-sosok penting dalam hidupnya: orang tua dan Bude yang dulu ia tinggali di Jogja. “Beliau mengajarkan bahwa berbuat baik itu harus ikhlas dan jangan berharap balasan,” ungkap Putra. Nasihat itu melekat kuat dalam dirinya. Ia tidak pernah menginginkan hadiah atau pujian; ia hanya ingin muridnya tumbuh menjadi manusia yang kuat. Bahkan, momen paling menyentuh bagi Putra bukan ketika muridnya menang lomba, tetapi ketika seorang anak menulis ucapan sederhana saat Hari Guru: “Terima kasih Pak, sudah mengajarkan saya.” Itu, bagi Putra, sudah lebih dari cukup.
Tak banyak guru yang mampu menyentuh murid hingga ke titik paling dalam kepercayaan diri, keberanian, kedewasaan, kesabaran, dan rasa tanggung jawab. Putra melakukannya bukan dengan cara yang rumit, tetapi dengan hati yang tidak pernah lelah mendengar dan membimbing. Dari ruangan PIK-R yang hangat, lahirlah banyak langkah kecil yang mengantarkan muridnya pada perubahan besar. Putra selalu berkata: “Tujuan bapak bukan hanya menghasilkan juara, tapi membentuk manusia yang siap menghadapi dunia.” Dan di MA Al Muhajirin Koba, ucapan itu terbukti bukan sekadar kalimat—melainkan karya nyata.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































