Siang itu kawasan Kota Tua dipenuhi langkah pengunjung yang datang silih berganti. Di tengah arus orang keluar-masuk bangunan tua, rombongan besar dari SMA SKB 09 tampak menonjol. Sekitar 100 siswa berseragam abu-abu itu berjalan menuju Museum Bank Indonesia, bangunan kolonial berwarna putih dengan pilar megah yang memayungi halaman depannya.
Para siswa memasuki museum dengan tertib namun antusias. Beberapa dari mereka sempat berhenti memotret fasad gedung, sementara lainnya berbincang kecil sambil mengikuti barisan depan. Udara dingin dari lorong museum langsung menyambut rombongan, disertai aroma pengharum ruangan yang lembut, kontras dengan panas Kota Tua di luar.
Pemandu museum membawa mereka ke ruang pertama yang berisi vitrin kaca berisi koleksi uang logam VOC, rupiah lawas, hingga uang kertas dari berbagai periode sejarah. Para siswa merapat, menunduk, memperhatikan detail-detail kecil yang mungkin sebelumnya hanya mereka lihat di buku pelajaran.
Di tengah keramaian kecil itu, seorang siswa bertanya dengan polos,
“Bu, ini koin apa namanya?”
Pemandu memberikan penjelasan singkat mengenai asal dan periode penggunaannya. Beberapa siswa mencatat cepat, sementara yang lain melangkah lagi mengikuti pemandu. Tidak ada sesi duduk, seluruh alur museum memang dirancang untuk dipelajari sambil berjalan dari satu ruang ke ruang berikutnya.
Perubahan suasana mulai terasa ketika pemandu membawa rombongan menuju lorong yang lebih tenang. Seorang sekuriti berdiri di depan sebuah pintu berwarna gelap, menghitung jumlah pengunjung yang akan masuk. Dari penjelasan sekuriti, diketahui bahwa sesi Immersive Arena, ruang pemutaran 4D Mapping milik Museum Bank Indonesia, akan segera dimulai. Kapasitas ruangan dibatasi untuk 20 orang per sesi, sehingga rombongan harus menunggu secara bergiliran.
Saat pintu dibuka, cahaya redup menyemburat dari dalam ruangan. Udara di dalam lebih dingin dan lebih hening, dengan aroma ruangan yang bersih dan modern. Para siswa yang mendapat giliran pertama masuk perlahan, mata mereka mengikuti perubahan suasana yang tampak berbeda dari ruang-ruang sebelumnya.
Ketika proyeksi pertama muncul, ruangan itu berubah seketika. Dinding hitam menyala oleh visual empat dimensi yang bergerak mengelilingi ruangan. Cahaya berpindah cepat dari satu sisi ke sisi lain, menampilkan kisah perjalanan De Javasche Bank, lembaga yang menjadi awal mula terbentuknya Bank Indonesia. Tidak ada layar tunggal; seluruh ruangan berubah menjadi panggung visual.
Para siswa berdiri terpaku. Sebagian memutar tubuh mengikuti alur proyeksi, sebagian lain menengadah ketika pencahayaan bergerak dari atas. Tidak ada percakapan yang terdengar. Suara efek visual dan hembusan AC menjadi latar yang membuat seolah para pengunjung tengah melangkah masuk ke masa lampau.
Pertunjukan berlangsung beberapa menit. Ketika lampu kembali menyala perlahan, ekspresi para siswa tidak langsung berubah. Ada ketertarikan yang tertahan di wajah mereka, seolah mereka belum sepenuhnya keluar dari cerita yang baru saja mereka saksikan.
Aroma pengharum ruangan kembali terasa samar, mengembalikan suasana ke ritme museum yang nyata. Rombongan kembali berkumpul di lorong luar, saling bertukar komentar singkat tentang visual yang baru mereka lihat sebelum melanjutkan perjalanan ke ruang berikutnya.
Bagi para siswa SMA SKB 09, sesi singkat di Immersive Arena menjadi bagian paling memikat dari kunjungan mereka ke Museum Bank Indonesia. Ruang itu bukan hanya menampilkan sejarah, tetapi membuat pengunjung merasakannya secara langsung melalui teknologi empat dimensi yang membungkus mereka dari segala sisi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































