Nama Ayatollah Ali Khamenei selama lebih dari tiga dekade menjadi simbol perlawanan Republik Islam Iran terhadap dominasi Barat, terutama Amerika Serikat dan Israel. Bagi pendukungnya, ia adalah penjaga revolusi Islam dan pembela Palestina. Namun bagi lawan-lawannya, ia merupakan figur keras yang memperpanjang konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sabtu, 28 Februari 2026, menjadi penutup perjalanan panjang tokoh yang membentuk arah politik Iran modern itu. Dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam sejumlah fasilitas strategis di Teheran, Khamenei dilaporkan tewas setelah kompleks kepemimpinannya menjadi target utama operasi udara tersebut. Kabar kematiannya kemudian dikonfirmasi berbagai media internasional dan pejabat Barat, meski sempat memicu simpang siur informasi pada jam-jam awal serangan.
Anak Ulama Sederhana yang Menjadi Pemimpin Revolusi
Ali Khamenei lahir di kota suci Mashhad pada 1939 dari keluarga ulama sederhana. Masa mudanya diwarnai aktivitas intelektual dan perlawanan terhadap rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung Amerika Serikat.
Ia menjadi murid dekat Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam Iran 1979. Revolusi tersebut menggulingkan monarki dan mengubah Iran menjadi republik Islam berbasis ideologi wilayat al-faqih—kepemimpinan politik oleh ulama.
Khamenei bukan hanya aktivis ideologis. Ia pernah dipenjara dan disiksa aparat keamanan Shah. Pada 1981, ia selamat dari percobaan pembunuhan melalui bom yang melukai permanen tangan kanannya—peristiwa yang kemudian memperkuat citra dirinya sebagai “pejuang revolusi”.
Karier politiknya menanjak cepat: menjadi Presiden Iran (1981–1989), sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi menggantikan Khomeini pada 1989.
Palestina sebagai Poros Ideologi
Sejak awal kepemimpinannya, isu Palestina menjadi fondasi kebijakan luar negeri Iran di bawah Khamenei. Ia secara terbuka menyebut Israel sebagai “rezim penjajah” dan menempatkan dukungan terhadap perjuangan Palestina sebagai kewajiban ideologis umat Islam.
Iran di bawah kepemimpinannya memperkuat jaringan perlawanan regional melalui dukungan terhadap kelompok seperti Hamas di Palestina dan Hizbullah di Lebanon—langkah yang oleh Teheran disebut sebagai strategi “poros perlawanan”, namun oleh Amerika Serikat dan sekutunya dianggap ancaman keamanan kawasan.
Retorika anti-Amerika juga menjadi ciri utama pemerintahannya. Sejak krisis nuklir Iran hingga sanksi ekonomi Barat, Khamenei konsisten menolak dominasi Washington di Timur Tengah.
Konflik Berkepanjangan dengan Amerika dan Israel
Ketegangan mencapai puncaknya dalam satu dekade terakhir. Israel berulang kali menuduh Iran mengembangkan kemampuan nuklir militer, sementara Teheran menegaskan programnya bersifat damai.
Serangkaian perang bayangan—serangan siber, pembunuhan ilmuwan nuklir, hingga serangan drone—menjadi pola konflik tak langsung antara kedua negara.
Operasi militer 28 Februari 2026 menandai eskalasi paling terbuka. Serangan udara besar-besaran menargetkan infrastruktur militer dan pusat komando Iran, termasuk lokasi yang diasosiasikan dengan Khamenei sendiri. Ledakan mengguncang Teheran dan memicu balasan Iran terhadap pangkalan Amerika di kawasan Teluk. Kematian Khamenei disebut banyak analis sebagai titik balik geopolitik terbesar Timur Tengah sejak invasi Irak 2003.

Warisan yang Diperdebatkan
Selama 37 tahun berkuasa, Khamenei memegang otoritas tertinggi atas militer, kebijakan luar negeri, peradilan, dan media Iran. Pendukungnya memuji keteguhannya menjaga kedaulatan Iran di tengah tekanan global.
Namun kritik internasional menyoroti rekam jejak penindasan oposisi domestik serta pembatasan kebebasan sipil di dalam negeri.
Bagi dunia Islam, terutama kelompok pro-Palestina, ia dikenang sebagai pemimpin yang konsisten menempatkan isu Palestina di panggung global ketika banyak negara Arab memilih normalisasi hubungan dengan Israel.
Akhir Seorang Figur Revolusioner
Kematian Ali Khamenei bukan sekadar wafatnya seorang kepala negara religius. Ia menandai berakhirnya generasi terakhir pemimpin Revolusi Iran 1979 yang masih berkuasa langsung.
Di Teheran, jutaan warga dilaporkan turun ke jalan dalam suasana berkabung nasional. Sementara di panggung internasional, dunia menghadapi pertanyaan besar: apakah kepergian Khamenei membuka jalan deeskalasi, atau justru memperdalam konflik baru di Timur Tengah.
Seperti revolusi yang melahirkannya, warisan Khamenei kemungkinan akan terus diperdebatkan—antara simbol perlawanan Islam politik dan arsitek konfrontasi panjang melawan Barat. (Yusuf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































