Peksos dan Sosiologi Keluarga Menjadi Jembatan Penolong di Tengah Badai Masalah Sosial Remaja.
Masa remaja seringkali dijadikan sebagai musim badai. Emosi yang meledak-ledak, pencarian jati diri yang membingungkan, hingga godaan pergaulan bebas seperti kumpul kebo atau kasus hamil di luar nikah, menjadi tantangan besar yang kerap membuat para orang tua mengelus dada.
Namun, ketika “badai” itu benar-benar menerjang, apa yang biasanya dilakukan masyarakat? Sayangnya, penghakiman dan pengusiran seringkali menjadi respon pertama.
Di akhir peran Pekerja Sosial (Peksos) hadir sebagai jembatan penolong, bukan dengan membawa tongkat penghukum, melainkan dengan “kacamata” Sosiologi Keluarga.
Seorang Peksos profesional mengetahui bahwa remaja yang terjebak dalam masalah sosial tidak hidup di ruang hampa. Dengan menggunakan ilmu Sosiologi Keluarga, Peksos memandang remaja bukan sebagai “terdakwa”, melainkan sebagai bagian dari sebuah sistem yang sedang tidak stabil. Ibarat sebuah pohon yang layu, Peksos tidak hanya menyemprot daunnya. Mereka memeriksa akarnya, yaitu keluarga. Apakah komunikasi di rumah macet? Apakah ada peran ayah atau ibu yang hilang? Atau jangan-jangan, masalah ini adalah “warisan” trauma dari generasi sebelumnya yang belum selesai?
Sosiologi keluarga bekerja menjadi solusi:
1. Membaca “Peta Rahasia” (Genogram)
Peksos menggunakan alat yang disebut Genogram untuk memetakan sejarah keluarga hingga tiga generasi. Sering kali terungkap bahwa kasus hamil di luar nikah atau perilaku bebas saat ini adalah pola yang pernah terjadi di masa lalu. Dengan memahami peta ini, Peksos membantu keluarga memutus rantai tersebut agar tidak berlanjut ke generasi berikutnya.
2. Merapikan Peran yang Berantakan
Saat remaja bermasalah, suasana rumah biasanya menjadi kacau. Orang tua saling menyalahkan dan anak merasa semakin terasing. Peksos hadir untuk menata ulang peran tersebut. Mereka membantu ayah kembali menjadi pelindung, ibu menjadi pendengar yang baik, dan anak kembali merasa memiliki rumah yang aman untuk pulang.
3. Mengubah Stigma Menjadi Dukungan
Stigma negatif masyarakat bisa membuat remaja dan keluarganya merasa “mati kutu”. Sosiologi keluarga mengajarkan bahwa dukungan sosial (social support) adalah obat terbaik. Peksos bertindak sebagai mediator yang menghubungkan kembali keluarga dengan lingkungan sosialnya, memastikan hak remaja dan calon bayi tetap terlindungi secara hukum dan kesejahteraan.
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memiliki pengaruh terbesar terhadap perkembangan dan dinamika kehidupan seseorang. Keluarga menjadi agen sosialisasi pertama dan juga sebagai sumber konflik utama. Oleh karena itu, Sosiologi Keluarga memberikan pemahaman bagi Peksos dalam melakukan intervensi yang lebih efektif dengan memahami akar masalah klien.
Sosiologi keluarga adalah landasan bagi peksos karena keluarga adalah mikro-kosmos masyarakat—masalah keluarga mencerminkan isu sosial yang lebih luas. Tanpa pemahaman ini, intervensi peksos berisiko gagal atau malah mengecewakan (misalnya, menghancurkan anak tanpa solusi sistem). Dengan sosiologi keluarga, peksos mampu meningkatkan efektivitas layanan (praktik berbasis bukti), mendorong perubahan struktural bukan sekedar bantuan sementara, memberdayakan keluarga untuk ketahanan jangka panjang.
Anggota:
– Merias Rohliharta Girsang (250902011)
– Regina Sifra Melowdi (250902063)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



























































