Yogyakarta — Di tengah masih kuatnya stigma terhadap orang dengan HIV (ODHIV) dan kelompok transpuan, ruang dialog yang inklusif kembali dibangun di Yogyakarta. Semangat perlindungan hak asasi manusia yang selama ini menjadi bagian dari diskursus publik, termasuk merujuk pada nilai-nilai universal seperti “Prinsip Yogyakarta 2006”, kini diterjemahkan dalam langkah konkret melalui kolaborasi antara komunitas dan media.
Pada Selasa (7/4), Yayasan Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya) merangkul puluhan jurnalis dari berbagai media di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam forum bertajuk “Menguatkan Hak ODHIV dan Transpuan di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat pemahaman media dalam memberitakan isu keberagaman, kesehatan, dan hak kelompok minoritas secara lebih sensitif dan berperspektif kemanusiaan.
Program Manager Yayasan Kebaya, Ruly Maray, mengatakan fokus utama lembaga saat ini mencakup pendampingan ODHIV, isu lansia, dan pemberdayaan kelompok minoritas.
“Saat ini kami memang lebih fokus pada perawatan orang dengan HIV dan isu-isu lansia, juga pada pemberdayaan kelompok minoritas. Jadi kita memang lebih menyasar ke sana,” ujar Ruly.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran negara dalam setiap proses penyusunan regulasi, baik di tingkat nasional maupun daerah, agar berpihak pada prinsip hak asasi manusia dan keberadaban sosial.
“Negara wajib hadir untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi aspek hak asasi manusia. Kami berharap mereka yang duduk di legislasi bisa memperjuangkan kemajuan peradaban bangsa yang inklusif,” katanya.
Direktur Yayasan Kebaya Yogyakarta, Vinolia, menyoroti peran strategis media dalam membentuk persepsi publik. Menurut dia, pemahaman jurnalis terhadap komunitas sangat menentukan kualitas pemberitaan.
“Kami tidak mau ditulis LGBT, kami transpuan. Harapan kami para jurnalis menempatkan kami sebagai bagian dari kehidupan, bukan penyimpangan atau penyakit. Tidak ada yang salah selama kami melakukan hal positif,” kata Vinolia.
Pernyataan itu menjadi penegasan penting di tengah masih seringnya pemberitaan yang menggunakan istilah atau sudut pandang yang dinilai menyudutkan kelompok transpuan. Dalam forum tersebut, media didorong untuk menghadirkan liputan yang berbasis fakta, empati, dan tidak memperkuat stigma.
Sebagai bagian dari sesi diskusi, jurnalis senior Shinta Maharani berbagi pengalaman peliputan isu kelompok minoritas di berbagai wilayah. Ia mengingatkan agar jurnalis menghindari pertanyaan yang berpotensi menimbulkan rasa terhakimi.
“Saat wawancara jangan gunakan kalimat yang menyudutkan, misalnya jangan tanyakan bagaimana perasaan sebagai ODHIV,” ujar Shinta.
Menurutnya, media memiliki tanggung jawab besar dalam memerangi stigma terhadap HIV dan AIDS. Ia juga memberikan panduan praktis dalam penulisan berita, seperti menghindari narasi bahwa HIV adalah “vonis kematian”, tidak mengasosiasikan HIV hanya dengan kelompok minoritas seksual, serta menjaga kerahasiaan status seseorang tanpa persetujuan.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono, Financial Manager Yayasan Kebaya Yogyakarta, secara terbuka membagikan kisah pribadinya sebagai ODHIV. Ia mengaku membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk menerima kenyataan setelah dinyatakan positif HIV.
“Saat pertama kali tahu, saya merasa dunia runtuh. Butuh waktu tiga tahun untuk benar-benar meyakinkan diri bahwa ini bukan akhir dari hidup saya,” ungkap Pramono.
Ia menambahkan, dukungan keluarga menjadi titik balik penting dalam proses penerimaan diri.
“Ketika saya akhirnya jujur kepada keluarga besar, respons mereka justru memberi kekuatan. Dari situ saya belajar bahwa HIV bukan akhir, tetapi awal untuk hidup lebih sehat dan lebih sadar,” katanya.
Pramono kini aktif mendampingi ODHIV lain agar tidak merasa sendiri menghadapi stigma sosial. Baginya, keterbukaan dan edukasi publik adalah langkah penting untuk memutus rantai diskriminasi.
Forum yang digelar Yayasan Kebaya ini diharapkan menjadi pijakan untuk membangun praktik jurnalistik yang lebih inklusif, sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai ruang dialog keberagaman dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara. (Yusuf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




























































