Sudah lebih dari empat bulan Mojtaba Khamenei memegang jabatan paling berkuasa di Iran. Tidak ada foto, tidak ada rekaman video, tidak ada pidato. Dua pernyataan resmi yang ia keluarkan pun hanya muncul dalam bentuk teks, dibacakan oleh penyiar televisi pemerintah. Pemimpin tertinggi Iran itu, secara harfiah, belum pernah terlihat oleh siapapun sejak dilantik pada awal Maret 2026.
Sabtu, 11 Juli 2026, situasi itu kemungkinan berubah. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Mojtaba dijadwalkan memimpin upacara doa bagi mendiang ayahnya di kompleks makam Hazrat Masumeh di Qom. Jika benar terjadi, ini akan menjadi penampilan publik pertamanya sejak perang pecah dan dunia berubah di sekelilingnya.
Pemimpin yang Lahir dari Balik Layar.
Jauh sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Mojtaba Khamenei sudah dikenal sebagai figur yang sengaja memilih untuk tidak terlihat. Tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan secara resmi, tidak pernah berpidato, tidak pernah memberi wawancara kepada media manapun. Pengaruhnya selama bertahun-tahun justru datang dari posisinya yang tidak resmi: mengelola jaringan kantor ayahnya dan membangun hubungan erat dengan para komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dokumen diplomatik AS yang dibocorkan WikiLeaks pada akhir 2000-an pernah menggambarkannya sebagai kekuatan di balik jubah, sosok yang menentukan siapa yang bisa dan tidak bisa mengakses sang ayah. Reputasi itu yang kemudian membuatnya menjadi pilihan logis ketika Majelis Ahli harus menentukan pengganti Ali Khamenei dalam hitungan hari, di tengah situasi perang yang belum reda.
Luka, Keamanan, dan Ketidakhadiran yang Berbicara.
Ketidakhadiran Mojtaba di ruang publik bukan tanpa alasan yang konkret. Serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan ayahnya juga merenggut nyawa ibunya, saudara perempuannya, istrinya, dan anaknya. Dalam serangan yang sama, Mojtaba sendiri dilaporkan mengalami cedera, termasuk luka di bagian wajah, yang menurut sejumlah sumber senior Iran masih dalam tahap pemulihan.
membatasi aktivitas publik Mojtaba karena kekhawatiran terhadap ancaman militer lanjutan. Posisi pemimpin tertinggi Iran kini bukan sekadar jabatan seremonial, melainkan sasaran strategis yang nyata, sebagaimana terbukti pada 28 Februari. Presiden Masoud Pezeshkian yang terakhir menyebut kondisinya pada Mei menyatakan telah bertemu langsung dengan Mojtaba dan menilai kesehatannya terus membaik.
Kemunculan yang Bukan Sekadar Doa.
Jika Mojtaba benar-benar hadir di Qom malam ini, momen itu akan dibaca jauh lebih dalam dari sekadar ritual belasungkawa. Pilihan lokasi bukan kebetulan: kompleks makam Hazrat Masumeh adalah salah satu pusat keagamaan paling penting di Iran, tempat yang memiliki simbolisme besar bagi kalangan ulama Syiah. Tampil di sana berarti tampil di hadapan komunitas yang paling menentukan legitimasi kepemimpinannya.
Ada pertanyaan lebih besar yang selama ini mengambang di seputar ketidakhadiran Mojtaba: siapa yang sebenarnya menjalankan Iran saat ini? Sejumlah analis menilai kendali efektif kini lebih banyak berada di tangan IRGC, yang memang sudah lama membangun hubungan dekat dengan Mojtaba jauh sebelum ia diangkat. Kemunculannya malam ini, jika terjadi, adalah kesempatan pertama bagi Iran untuk mulai menjawab pertanyaan itu ke dunia. Dan bagi dunia, itu adalah kesempatan pertama untuk mulai membaca siapa sebenarnya pria yang kini memegang kendali atas salah satu negara paling berpengaruh di Timur Tengah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































