Gresik – Di bawah terik siang yang menyengat, sekelompok mahasiswa tampak sibuk memasang tiang bambu setinggi dua meter di persimpangan jalan Desa Asempapak. Bukan tiang bendera atau papan reklame biasa, melainkan sebuah penunjuk arah yang “hidup” — ia menyerap cahaya matahari di siang hari dan menyalakan dirinya sendiri begitu malam tiba. Karya ini lahir dari tangan mahasiswa peserta Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, yang selama beberapa bulan terakhir bergelut dengan bambu, kabel, dan panel surya demi satu tujuan sederhana: memastikan tak ada lagi warga atau tamu yang tersesat mencari alamat, sekalipun di tengah gelapnya malam desa.
Persoalan yang mereka jawab sebenarnya terdengar remeh, namun nyata dirasakan warga seharihari. Desa Asempapak, yang terus berbenah dengan balai desa, tempat ibadah, sekolah, posyandu, hingga sejumlah UMKM, ternyata belum memiliki penanda arah yang memadai di titik-titik strategisnya. Akibatnya, pendatang maupun warga dari luar wilayah kerap kebingungan mencari lokasi, dan masalah itu makin terasa begitu matahari terbenam — saat penunjuk arah konvensional tak lagi terbaca dan warga hanya bisa mengandalkan tanya sana-sini atau aplikasi peta yang sinyalnya belum tentu bersahabat.

Dari situ, ide penunjuk arah bertenaga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pun dirancang. Bukan sekadar papan kayu bercat, alat ini dilengkapi panel surya berkapasitas 5–10 Watt yang dipasang di puncak tiang, terhubung dengan baterai penyimpan energi, solar charge controller, sensor cahaya otomatis, dan lampu LED hemat energi. Siang hari, panel menyerap sinar matahari dan mengisi baterai; begitu senja turun, sensor cahaya otomatis akan menyalakan LED tanpa perlu ada yang menekan saklar — persis seperti lampu jalan modern, hanya saja versi mini dan mandiri energi. Tiang penyangga sengaja dipilih dari bambu setinggi sekitar 200 cm, dipadukan dengan papan penunjuk berukuran 60–70 cm yang teksnya dibuat dengan cat dan stiker reflektif agar tetap terbaca jelas meski diterpa sorot lampu kendaraan di malam hari.
“Kemajuan sebuah desa tidak selalu diukur dari besarnya proyek infrastruktur,” ujar Muhammad Thufail Musta’in, salah satu anggota tim pengabdian. Ia menyebut hal-hal sederhana seperti penunjuk arah justru sering luput dari perhatian, padahal keberadaannya berperan besar dalam menghadirkan kenyamanan, keteraturan, dan bahkan memperkuat citra desa di mata pengunjung.
Proses pengerjaannya sendiri tak instan. Tim mahasiswa — yang terdiri dari lintas jurusan, mulai dari Manajemen, Psikologi, hingga Teknik Informatika — memulainya dengan survei lokasi bersama perangkat desa untuk menentukan titik pemasangan paling strategis, dilanjutkan perancangan desain, pemotongan bambu, perakitan panel surya dan instalasi LED, pengecatan, hingga akhirnya pemasangan di titik-titik yang telah disepakati.
Tak berhenti di situ, mahasiswa juga menggelar sosialisasi kepada warga tentang cara merawat alat, sekaligus menyusun modul pemeliharaan sederhana agar fasilitas ini bisa terus berfungsi jauh setelah mereka menyelesaikan masa pengabdian.
Bagi warga, kehadiran alat ini terasa langsung manfaatnya. “Penunjuk arah bertenaga surya ini sangat membantu warga dalam mencari lokasi secara lebih mudah dan jelas, terlebih pada malam hari,” tutur Bapak Faizin, Ketua RT 02 RW 01 Desa Asempapak. Ia berharap inovasi sederhana ini dapat terus dirawat bersama-sama oleh warga, sebagai bentuk kepedulian terhadap fasilitas umum sekaligus wajah baru desanya.

Setiap unit penunjuk arah bisa memuat tiga hingga lima papan informasi sekaligus — mengarahkan warga ke balai desa, tempat ibadah, sekolah, hingga fasilitas umum lain — dan dirancang mampu menyala mandiri selama 6 jam tanpa bergantung sedikit pun pada listrik PLN. Perawatannya pun sederhana: cukup membersihkan permukaan panel surya secara berkala dan mengecek kondisi lampu serta sambungan kabel. Sebuah solusi kecil, namun dirancang matang agar benar-benar bisa hidup lama di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar papan penanda, program yang berlangsung sejak Maret hingga Juli 2026 ini menjadi contoh nyata bagaimana Teknologi Tepat Guna bisa lahir dari kolaborasi mahasiswa dan pemerintah desa — sederhana, ekonomis, namun berdampak. Pemanfaatan energi surya sebagai sumber listrik utama pun menjadi langkah kecil dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil, sekaligus memperkenalkan konsep energi terbarukan langsung ke tengah keseharian warga desa.
Pada akhirnya, penunjuk arah berbasis tenaga surya di Desa Asempapak membuktikan bahwa inovasi tak harus mahal atau rumit untuk terwujud. Bermodalkan bambu, sinar matahari, dan semangat gotong royong, mahasiswa dan warga desa bersama-sama menghadirkan fasilitas publik yang lebih informatif, aman, dan berkelanjutan — sekaligus menjadi secercah inspirasi bagi desadesa lain yang ingin merintis langkah serupa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































