Yogyakarta – Dunia seni tradisi Yogyakarta kembali kehilangan salah satu sosok terbaiknya. Seniman ketoprak dan dagelan Mataram, Sumisih Yuningsih, yang dikenal luas dengan nama panggung Yu Beruk atau Mbok Dhe Beruk, meninggal dunia pada Sabtu (14/02) sekitar pukul 08.40 WIB.
Kabar wafatnya Yu Beruk dikonfirmasi oleh seniman dan budayawan Yogyakarta, Bambang Paningron. Dalam pernyataannya, ia menyebut almarhumah berpulang dengan tenang setelah cukup lama berjuang melawan sakit.
“Innalillahi wainnailaihi roji’un, telah meninggal dunia dengan tenang Budhe Yuningsih (Mbok Dhe Beruk) pagi ini,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu pagi.
Jenazah almarhumah direncanakan dimakamkan pada hari yang sama pukul 16.00 WIB dari rumah duka di Yogyakarta.
Tetap Aktif di Tengah Sakit
Meski kondisi kesehatannya menurun dalam beberapa waktu terakhir, Yu Beruk disebut tetap aktif berkesenian. Ia masih terlibat dalam sejumlah kegiatan, baik secara on air maupun off air. Dedikasinya pada dunia seni tak surut hingga akhir hayat.
Bagi kalangan seniman tradisi di Yogyakarta, sosok Yu Beruk bukan hanya pelaku seni, tetapi juga penjaga nilai. Ia dikenal ramah, terbuka, dan tak segan berbagi pengalaman dengan generasi muda.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar, terutama bagi dunia Ketoprak dan dagelan Mataram—dua genre seni pertunjukan rakyat yang telah lama menjadi denyut kebudayaan Jawa.
Tumbuh dari Panggung ke Panggung
Perjalanan kesenian Yu Beruk tak bisa dilepaskan dari lingkungan keluarganya. Ayahnya adalah seorang pemain ketoprak. Sejak kecil, ia kerap diajak menonton bahkan mengikuti pertunjukan dari satu panggung ke panggung lain.
Dari pengalaman itulah kecintaannya pada seni tradisi tumbuh. Ketika memasuki usia remaja, ia mulai terlibat langsung bermain ketoprak bersama sang ayah. Panggung menjadi ruang belajarnya—tempat ia mengasah rasa, dialog, hingga kemampuan membangun karakter.
Di rumahnya pun terdapat sanggar tari tradisi. Menurutnya, seni tari memiliki keterkaitan erat dengan ketoprak, terutama dalam membangun gestur dan penghayatan peran. Lingkungan yang sarat nuansa kesenian itu membentuknya menjadi seniman yang lentur dan adaptif.
Lawakan Ceplas-ceplos yang Melekat
Selain piawai dalam memainkan peran-peran dramatik, Yu Beruk juga dikenal sebagai pelawak dengan gaya khas. Lawakannya ceplas-ceplos, spontan, dan dekat dengan keseharian masyarakat.
Ia mampu mengolah kritik sosial dalam balutan humor tanpa kehilangan esensi tradisi. Dalam setiap pementasan, ia bukan hanya mengundang tawa, tetapi juga menyisipkan pesan.
Kehadirannya di atas panggung selalu dinanti. Karakter Mbok Dhe Beruk yang kuat, ekspresif, dan membumi menjadi identitas yang sulit tergantikan.
“Menjadi Ketoprak Harus Bisa Ngethoprak”
Dalam sejumlah kesempatan, Yu Beruk kerap membagikan pandangannya tentang profesi seniman ketoprak. Baginya, menjadi pemain ketoprak bukan sekadar tampil di panggung, tetapi tentang kemampuan menyesuaikan diri dalam setiap peran.
“Menjadi seniman ketoprak itu harus punya cita-cita bisa ngethoprak,” ujarnya suatu ketika.
Yang ia maksud, seorang pemain harus mampu beradaptasi di dalam organisasi atau kelompok mana pun. Ia harus siap memainkan karakter sesuai arahan sutradara, tanpa kehilangan ruh perannya.
“Saya menjadi ketoprak di situ harus menyesuaikan peran dari sutradara seperti apa,” tuturnya.
Prinsip itu yang ia pegang hingga masa tuanya. Disiplin, terbuka pada arahan, dan setia pada pakem menjadi fondasi perjalanan panjangnya di dunia seni tradisi.
Warisan yang Tak Tergantikan
Hingga usia senja, Yu Beruk tetap mengabdikan hidupnya untuk melestarikan dan mengembangkan ketoprak. Ia menjadi teladan bahwa seni tradisi bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan dan identitas.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan komunitas seni Yogyakarta. Namun karya, semangat, dan dedikasinya akan terus hidup di panggung-panggung ketoprak—dalam tawa penonton dan tepuk tangan yang tak pernah benar-benar usai.
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, sosok seperti Yu Beruk menjadi pengingat bahwa seni tradisi tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Dan hari ini, Yogyakarta bukan hanya kehilangan seorang seniman, tetapi juga penjaga ingatan kolektifnya. (Yusuf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































