Di tengah adanya isu perubahan iklim dan kesadaran lingkungan, fashion Gen Z mengambil langkah radikal saat ini. Mereka meninggalkan fast fashion demi thrifting dan vintage, sebuah gerakan ‘Kalcer’ yang secara diam-diam menantang sector industri global. Bagi mereka, tampil gaya kini harus disertai etika dan baju bekas adalah sebagai karya orisinalitas itu.
Kalcer adalah cara masyarakat Indonesia menyingkat atau mengindonesiakan kata dari “culture”, yang artinya budaya. Tapi di dunia fashion dan lifestyle, “kalcer” punya makna lebih dari sekedar slang (Yohannes, et al., 2025). Kata ini sering ditujukan untuk gaya hidup, selera fashion, vibe, bahkan sebagai identitas suatu komunitas atau tren tertentu. Contoh kalimat yang sering orang ucapkan seperti “fit lu kalcer banget hari ini,” nah artinya kau punya vibe khas, sesuai budaya fashion tertentu. Berbeda halnya dengan kata “skena,” kata kalcer ini lebih bagaimana cara mengekspresikan outfit yang bakal dibawa. Sedangkan skena ini bagaimana komunitas tempat nongkrong, seperti minat musik, aktivitas, dan circle pertemanan, jadi bukan cuma baju. Kalcer mempunyai gaya fashionnya sendiri yang akan dibahas pada artikel ini.
– Fashion Kalcer
Banyak sekali arah fashion pada kalcer ini, contohnya sebagai berikut:
1. Streetwear kalcer, yaitu gaya ala skateboard, sneakerhead, hoodie, dan cargo pants.
2. Vintage kalcer, yaitu gaya retro adalah respons terhadap fast fashion, menekankan pada keberlanjutan dan penemuan unik dari masa lalu. Biasanya mereka memakai pakaian hasil dari thrift, pakaian denim jadul, dan kaos band lawas.
3. K-pop kalcer, yaitu gaya ala idol korea, biasanya memakai kaos oversized, clean look, dan layering.
4. High Fashion kalcer, yaitu vibes runway, minimalis, elegan, dan brand luxury.
Dengan banyak perubahan gaya yang begitu luas, jelas terlihat bahwa ‘Kalcer’ adalah sebuah gerakan kultural. Gaya ini telah berhasil menantang norma mode lama dan mendorong lahirnya kreativitas. Lalu, apa konsekuensi dan dampak nyata dari revolusi fashion yang dipimpin Gen Z ini? Mari kita selami lebih jauh bagaimana ‘Kalcer’ mengubah lanskap sosial dan ekonomi kita.
– Dampak Positif (Inovasi dan Etika)
Beberapa dampak positif yang dapat dirasakan, yaitu sebagai berikut.
1. Mendorong Sustainable Fashion: Dampak thrifting dan upcycling terhadap pengurangan limbah tekstil.
2. Kebangkitan Brand Lokal: Bagaimana streetwear ‘Kalcer’ membuka peluang besar bagi desainer dan brand lokal untuk bersaing dengan brand global.
3. Ekspresi Diri dan Inklusivitas: Fashion menjadi lebih fleksibel, menghapus batasan gender dan body shaming, fokus pada kenyamanan seseorang.
– Dampak Negatif dan Tantangan (Psikologi dan Ekonomi)
Adapun dampak negative dan tatangan yang harus dihadapi dengan tren kalcer ini, yaitu sebagai berikut.
1. Tekanan Sosial (FOMO): Munculnya tekanan untuk selalu up-to-date dengan item yang sedang viral (hype) agar dianggap “kalcer” (Fear of Missing Out).
2. Gatekeeping dan Elitisme: Meskipun awalnya tak memandang status sosial, sering muncul fenomena gatekeeping di mana komunitas tertentu merasa mereka ‘lebih kalcer’ daripada yang lain, menciptakan outfit shaming terselubung.
3. Greenwashing (Thrift yang Berlebihan): Bagaimana popularitas thrifting justru dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab, atau bagaimana item thrift yang bagus menjadi mahal dan sulit diakses masyarakat berpenghasilan rendah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































