Kegiatan Perpustakaan Keliling yang diselenggarakan oleh Venezia Membaca kembali dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, bertempat di Taman KNPI Cileungsi. Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 08.15 WIB sebagai bagian dari agenda rutin penguatan budaya literasi di ruang publik. Pelaksanaan kegiatan pada pagi hari dipilih untuk menghadirkan suasana belajar yang tenang, terbuka, dan kondusif bagi interaksi intelektual yang sederhana namun bermakna.

Meskipun pada pelaksanaan kali ini belum terdapat kunjungan masyarakat atau peserta umum, kegiatan tetap berlangsung sebagaimana direncanakan. Tiga orang pengurus yang hadir memanfaatkan waktu pelaksanaan dengan tetap menjalankan fungsi utama kegiatan, yaitu menjaga keberlangsungan ruang literasi terbuka serta memelihara aktivitas pembelajaran bersama. Kehadiran pengurus dalam kegiatan ini mencerminkan komitmen terhadap konsistensi program, di mana keberadaan ruang literasi dipandang sebagai tanggung jawab berkelanjutan yang tidak semata bergantung pada jumlah kehadiran peserta.

Selama rentang waktu kegiatan, para pengurus mengisi agenda dengan diskusi reflektif mengenai dinamika sejarah Indonesia, khususnya perbandingan kondisi sosial-politik pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Pembahasan dilakukan secara informal namun tetap berlandaskan perspektif historis yang rasional dan analitis. Diskusi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengayaan pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana menjaga budaya berpikir kritis dan dialog intelektual yang menjadi bagian penting dalam ekosistem literasi.

Pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan bahwa perpustakaan keliling tidak hanya berfungsi sebagai layanan peminjaman atau penyediaan bahan bacaan, melainkan juga sebagai ruang belajar yang fleksibel dan adaptif. Bahkan dalam situasi dengan partisipasi terbatas, kegiatan tetap memiliki nilai edukatif melalui proses pertukaran gagasan, penguatan pemahaman sejarah, serta pemeliharaan kebiasaan membaca dan berdiskusi. Dengan demikian, aktivitas literasi dipahami sebagai proses berkelanjutan yang tidak selalu bergantung pada keramaian, melainkan pada konsistensi kehadiran dan keberlanjutan praktik belajar.

Lebih jauh, pelaksanaan kegiatan pada pagi hari di ruang publik terbuka menegaskan pentingnya keberadaan lingkungan sosial yang mendukung interaksi intelektual secara santai namun bermakna. Ruang publik dalam konteks ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga berfungsi sebagai arena pembelajaran sosial yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dengan pengetahuan secara langsung, sederhana, dan mudah diakses.

Secara keseluruhan, kegiatan Perpustakaan Keliling pada Sabtu pagi tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam merawat ruang literasi masyarakat. Kehadiran pengurus, pelaksanaan diskusi, serta pemanfaatan waktu secara produktif menunjukkan bahwa literasi tidak hanya diukur dari kuantitas partisipasi, tetapi juga dari kualitas komitmen untuk terus menjaga keberlangsungan aktivitas belajar. Dengan semangat tersebut, kegiatan ini diharapkan tetap menjadi fondasi bagi pengembangan budaya membaca, dialog, dan refleksi pengetahuan di tengah masyarakat.
