Mengapa warna merah pada delima merah begitu mencolok dan mudah memikat perhatian? Warna merah delima sering diasosiasikan dengan kesegaran dan kematangan, namun daya tariknya tidak hanya terletak pada penampilan semata. Di balik rona yang mencolok itu, terdapat serangkaian proses biokimia yang bekerja dengan presisi, menghasilkan pigmen khas pada aril buah. Bagaimana senyawa penyusun warna tersebut terbentuk, dan apa hubungannya dengan kualitas visual yang kita nikmati pada setiap biji delima? Mari kita telusuri keterkaitan antara biokimia buah dan keindahan warna yang dihasilkannya.
Buah Delima
Delima berasal dari Eropa Tenggara dan Asia. Tanaman ini kini tersebar di daerah subtropik hingga tropik, mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Terdapat tiga varietas delima yang dikenal luas, yaitu delima putih, delima merah, dan delima hitam dengan tangkai berwarna hitam. Kulit buah delima keras namun permukaannya halus dan memiliki warna yang beragam, seperti hijau keunguan, putih kekuningan, cokelat kemerahan, atau ungu kehitaman, kadang disertai bercak-bercak berwarna lebih tua. Buah ini termasuk jenis buah buni dan berbentuk bulat dengan diameter antara 5 cm hingga 12 cm. Bagian dalamnya mengandung banyak biji kecil yang tersusun tidak beraturan. Setiap biji berbentuk bulat panjang bersegi agak pipih dan memiliki tekstur keras. Warna biji bervariasi antara merah, merah jambu, atau putih, memberi kontras menarik dengan daging buah di sekitarnya (Dalimartha dan Adrian, 2011).
Buah Delima Merah
Buah delima merah (Punica granatum L.) termasuk dalam famili Punicaceae (Permatasari et al., 2023). Delima adalah buah yang berasal dari tanaman yang tumbuh di daerah beriklim hangat. Buah ini memiliki ukuran dan bentuk yang mirip dengan jeruk besar, dengan kulit luar yang keras untuk melindungi bagian dalamnya. Bagian dalam buah delima terdiri dari banyak biji kecil yang tersebar merata, masing-masing dilapisi oleh daging buah berwarna merah tua. Daging biji ini memiliki rasa yang segar dan sedap, memberikan sensasi manis dan sedikit asam yang khas. Struktur biji yang renyah dengan lapisan daging yang juicy membuat delima populer sebagai buah segar maupun bahan tambahan pada berbagai hidangan. Warna merah keemasan dari aril buah semakin menambah daya tarik visual delima, menjadikannya buah yang tidak hanya nikmat, tetapi juga memikat mata (Kurniawan, 2024).
Di antara berbagai pigmen alami, antosianin merupakan kelompok senyawa yang paling menentukan profil warna buah delima. Antosianin adalah pigmen larut air yang termasuk dalam kelompok flavonoid (Febriati et al., 2022). Senyawa ini banyak ditemukan pada jaringan tanaman, terutama pada kulit dan aril delima. Struktur kimianya memungkinkan antosianin memunculkan beragam rona merah, ungu, dan biru, tergantung pada kondisi lingkungan sel tempat pigmen tersebut berada.
Pada buah delima, kandungan polifenol pada delima merah terdiri dari dua komponen utama. Komponen pertama adalah antosianin, yang mencakup delphinidin, cyanidin, dan pelargonidin, yang memberikan warna merah pada kulit dan daging buah. Komponen kedua adalah tanin yang larut dalam air, seperti punicalagin, pedunculagin, punicalin, gallagic, dan asam ellagic ester dari glukosa. Tanin ini menyumbang sekitar 92% dari sifat antioksidan buah delima. Kandungan tanin yang berfungsi sebagai antioksidan paling banyak terdapat pada kulit buah, sekitar 26%. Keberadaan antosianin dan tanin tidak hanya memengaruhi warna dan rasa, tetapi juga meningkatkan nilai gizi buah (Rakhmawati et al., 2011).
Aktivitas enzim terkait biosintesis pigmen meningkat seiring maturasi buah sehingga warna tampak lebih intens. Proses ini dipengaruhi faktor internal seperti aktivitas genetik serta faktor eksternal seperti cahaya dan suhu. Selain itu, pH memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas antosianin dan dapat mengubah warnanya. Pada pH tinggi, antosianin cenderung berwarna biru, kemudian berubah menjadi ungu, dan akhirnya menunjukkan warna merah pada pH rendah. Faktor lain yang memengaruhi pigmen antosianin adalah jenis pelarut dan kondisi pH larutan tempat antosianin berada. Antosianin umumnya lebih stabil dalam larutan asam dibandingkan larutan netral atau alkali. Pada buah delima, yang memiliki pH relatif rendah, kondisi ini mendukung stabilitas antosianin sehingga warna merah pada aril lebih pekat dan konsisten, menjadikannya ciri khas visual buah tersebut (Permatasari et al., 2023).
Stabilitas antosianin dalam delima dipengaruhi oleh paparan oksigen, cahaya, dan suhu. Paparan berlebih dapat memicu degradasi pigmen sehingga warna memudar. Oleh karena itu, kondisi pascapanen memiliki peran penting dalam mempertahankan kualitas warna buah dan produk olahannya seperti jus maupun konsentrat. Dari sudut pandang kesehatan, antosianin tidak hanya memberikan warna tetapi juga berkontribusi pada kapasitas antioksidan buah delima. Senyawa ini berperan sebagai penangkap radikal bebas dan sering dikaitkan dengan manfaat fisiologis seperti dukungan terhadap kesehatan kardiovaskular dan aktivitas antiinflamasi.
Identitas merah pada buah delima merah merupakan hasil interaksi kompleks antara komposisi antosianin, kondisi fisiologis sel, serta faktor lingkungan. Pemahaman mengenai mekanisme ini memberikan perspektif ilmiah yang lebih luas mengenai bagaimana pigmen menentukan kualitas visual dan nilai fungsional buah.
Referensi
Febriati, A. P., Zahra, F. B. P., Yundasari, N., dan Yuniarsih, N. 2022. Manfaat Ekstrak Buah Delima (Punica Granatum L.) Sebagai Zat Aktif dalam Formulasi Sediaan Kosmetika. Jurnal Health Sains. Vol.3(6): 793-797.
Dalimartha, S., dan Adrian, F. 2011. Khasiat buah dan sayur. Depok: Penebar Swadaya Grup
Kurniawan, I. 2024. Mengenal Buah-Buahan. Bandung: Nuansa Cendekia.
Permatasari, R., Putra, F. V., dan Maharani, S. 2023. Potensi Buah Delima Merah (Punica Granatum L.) Sebagai Pewarnaan Alternatif Pengganti Eosin pada Pewarnaan Papanicolaou. SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat. Vol. 2(1): 288-295.
Rakhmawati, M., Qadriyati, I., dan Wijayanti, L. 2011. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Buah Delima Merah (Punica granatum) terhadap Jumlah dan Jenis Leukosit pada Tikus Putih yang Dipapar Gelombang Rlektromagnetik Ponsel. Biofarmasi. Vol. 9(2): 55–61.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































