Pernah nggak sih kamu merasa hari yang kamu jalani rasanya berat banget? Nggak punya tempat cerita, ingin rasanya dipeluk, atau hanya ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan banyak hal? Nggak apa-apa, itu normal kok. Semua orang pasti pernah ada di posisi itu.
Di tengah capeknya badan dan ramainya pikiran, hal-hal kecil seperti ingin makan makanan favorit bisa terasa menenangkan, seakan mampu membuat hari menjadi sedikit lebih baik. Nah, ada alasan kenapa semangkuk mie hangat, roti kesukaan, atau minuman manis bisa membuat hati terasa sedikit lebih ringan.
Inilah yang kita kenal sebagai Comfort Food yakni makanan yang bukan hanya mengisi perut, tetapi juga memberikan rasa nyaman dan memberi pelukan emosional yang kita butuhkan.
Lalu, apa sih yang membuat makanan memiliki kekuatan psikologis seperti itu?
Secara sederhana, comfort food dapat diartikan sebagai makanan yang membuat kita merasa aman, nyaman, dan pulih secara emosional. Van strien, Gibson, banos, Cebolla, dan Winkens (2019) dalam temuannya menjelaskan bahwa comfort foods dapat meningkatkan suasana hati menjadi lebih baik dan lebih positif saat seseorang menikmati makanan yang enak dan menyenangkan.
Yang menarik, comfort food bisa berbeda-beda bagi tiap orang. Ada yang merasa nyaman dengan makanan berkuah panas seperti soto atau mie ayam, ada yang memilih makanan manis seperti es krim, dan ada juga yang menemukan ketenangan hanya dari jajanan masa kecil. Beberapa emosi negatif seperti stres, cemas juga sering membuat seseorang melarikan diri ke makanan. Makanan yang biasanya dijadikan comfort food ialah makanan yang berkarbohidrat atau mengandung gula.
Namun yang menarik adalah bagaimana comfort food bisa membuat kita menjadi lebih nyaman di tengah lelahnya hari yang kita Jalani?
Di balik setiap suapan comfort food, ada reaksi kimia cepat yang terjadi dalam tubuh. Ketika kita menyantap makanan yang kita sukai, yang sering kali mengandung karbohidrat atau lemak seperti mi ayam, otak langsung mengaktifkan reward system. Tubuh secara naluriah mencari cara tercepat untuk meredakan stres, dan makanan lezat mampu memicu pelepasan dopamin, yakni hormon yang memberikan rasa senang seketika. Proses ini juga membantu meningkatkan produksi serotonin, hormon yang membawa rasa tenang dan bahagia. Secara bersamaan, hormon-hormon ini bekerja untuk meredakan gelombang stres dan kecemasan yang diakibatkan hormon kortisol yang melonjak. Dengan kata lain, semangkuk comfort food menjadi cara cepat tubuh kita untuk menenangkan diri sejenak di tengah hiruk pikuk dan dan beratnya hari
Comfort food juga merupakan makanan yang memiliki memori sendiri dalam diri kita. Hal ini disebut nostalgic food, Beberapa makanan memiliki ikatan dengan memori masa kecil, momen keluarga, atau pengalaman bahagia yang membuat hati terasa nyaman. Inilah alasan mengapa makanan-makanan tertentu terasa begitu dirindukan. Bukan semata karena kelezatannya, melainkan karena setiap suap menyimpan kembali kenangan kehangatan dan kebersamaan di masa lalu.
Meskipun comfort food bisa membuat kita merasa lebih baik, bukan berarti kita harus selalu mengandalkannya saat merasa stres. Karena biasanya comfort food yang dipilih itu mengandung lemak atau gula yang tinggi, kita juga perlu membatasi diri dalam mengonsumsi atau mengganti comfort food jadi lebih sehat. Misalnya, jika comfort foodmu makanan manis seperti es krim, bisa diganti dengan yogurt toping buah atau smoothies.
Pada akhirnya, comfort food bukan hanya tentang makanan. Ia adalah bentuk kecil dari upaya kita untuk bertahan, merasa aman, dan menemukan jeda di tengah hari yang melelahkan. Boleh sekali bagi kita untuk mencari kenyamanan lewat makanan, selama kita tetap tahu batas dan tetap menjaga diri dengan baik. Kadang, semangkuk makanan hangat memang tidak bisa menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi, tapi setidaknya ia bisa membuat langkah kita menjadi sedikit lebih ringan.
Referensi:
van Strien, T., Gibson, E. L., Banos, R., Cebolla, A., & Winkens, L. H. (2019). Is comfort food actually comforting for emotional eaters? A (moderated) mediation analysis. Physiology & behavior, 211, 112671.
Benton, D. (2002). Carbohydrate ingestion, blood glucose and mood. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 26(3), 293-308.
Shaleh, A. R. 2020. Bahagia dan Bermakna. CV AA Rizky
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































