Warga Bandung Raya kini hidup dalam ketakutan yang tak kunjung pergi, seolah setiap langkah yang diambil bisa menjadi langkah terakhir. Sesar Lembang, patahan geologis sepanjang 29 kilometer yang menghubungkan Padalarang hingga Jaten, telah menjadi topik perbincangan nasional setelah BRIN dan BMKG menyatakan bahwa sesar ini memasuki fase kritis. Setelah 560 tahun periode aktivitas tektonik, pergerakan halus tanah sebesar 3-4 mm setiap tahun dianggap cukup mampu memicu gempa besar dengan magnitudo 6,5 hingga 7,0 skala yang mampu melumpuhkan infrastruktur kota, merobohkan ribuan bangunan rapuh, dan menimbulkan korban jiwa di wilayah padat seperti Lembang, Cimahi, Buahbatu, dan Nagreg.
Kekhawatiran ini telah merambat ke berbagai aspek kehidupan: dari percakapan pagi di warung kopi di pinggir sawah Lembang, rapat keluarga di teras rumah Cimahi, hingga doa bersama di masjid dan gereja di waktu senja. Bagi 8 juta penduduk yang bergantung pada Bandung Raya sebagai pusat ekonomi dan budaya di Jawa Barat, Sesar Lembang bukan lagi ilmu pengetahuan abstrak, melainkan ancaman nyata yang telah membentuk opini publik menjadi gelombang emosi yang kompleks antara ketakutan, solidaritas, dan keinginan untuk bertindak.

Bayangkan rutinitas seorang ibu rumah tangga bernama Ibu Sari di Kecamatan Buahbatu.
Pagi itu, sambil menyeduh kopi untuk suaminya yang berangkat kerja ke pabrik di Cimahi, ia membuka ponsel dan melihat video viral di TikTok: retakan dinding rumah sederhana yang semakin lebar, disertai caption “Ini gara-gara sesar aktif atau cuma hujan deras kemarin?” Video serupa muncul seperti jamur di musim hujan—seorang petani di Padalarang mengeluh sumurnya tiba-tiba kering, pemuda di Cisarua merasakan getaran aneh saat tidur di malam hari, dan sopir angkot di Jatinangor berbagi cerita tentang tanah longsor kecil yang menghalangi jalan desa. Kisah-kisah pribadi ini menjadi bahan bakar opini publik, dengan pencarian di Google mengenai “persiapan gempa Sesar Lembang” meningkat hingga 400% dalam seminggu terakhir. Survei informal BPBD Jawa Barat menangkap suara mayoritas: 72% responden mengaku belum siap, menyalahkan bangunan tua era kolonial yang tidak direnovasi, simulasi evakuasi sekolah yang hanya digelar sekali setahun, dan minimnya peta zona rawan yang diberikan ke tingkat RT.Di Pasar Andir, pasar tradisional, para pedagang sayur berbicara tentang “zona merah delapan kecamatan” yang dikeluarkan BMKG, sementara di sekolah dasar, orang tua meminta guru menambahkan latihan gempa ke jadwal harian, lengkap dengan tas darurat yang berisi air galon, obat-obatan, dan senter. Media sosial memperkuat narasi tersebut: Instagram Reels dan X penuh dengan unggahan orang tua yang mengajarkan anak-anak “drop, cover, hold on”, menciptakan efek domino yang menggerakkan kepedulian masyarakat. Hashtag #SiagaSesarLembang menjadi trending topic dengan lebih dari 150.000 postingan dalam beberapa hari, di mana komunitas lokal seperti Dusun Bambu di Lembang memimpin kampanye “Waspada Boleh, Panik Jangan”. Mereka membagikan infografis tentang delapan kecamatan paling rawan Lembang, Cisarua, Parongpong, Cimenyan, Buahbatu, Cilengkrang, Dayeuhkolot, dan Nagreg serta memberi tips praktis seperti memperkuat pondasi rumah dengan bambu, membersihkan saluran drainase untuk mencegah longsor musim hujan, dan menyusun rencana evakuasi banjar. Netizen ramai memuji Sekda Jabar Herman Suryatman atas transparansi laporan BRIN, yang menekankan percepatan penguatan struktur infrastruktur vital sepanjang jalur sesar. Dukungan ini meluas menjadi tuntutan konkret: relokasi rumah sakit seperti RS Hasan Sadikin dari zona inti, pemasangan sensor gempa real-time di 50 titik rawan, dan anggaran darurat Rp500 miliar untuk renovasi gedung sekolah. Cerita inspiratif pun bermunculan, kelompok pemuda RW di Cimahi mengadakan bakti sosial membersihkan sungai Citarum yang rawan banjir pasca-gempa, ibu-ibu PKK di Buahbatu menjahit tas darurat massal untuk tetangga miskin, serta seniman lokal menciptakan mural “Bandung Tangguh” di dinding jalan. Bahkan, komunitas adat Sunda di Gianyar mulai membangun rumah panggung ala jaman dulu, yang terbukti tahan gempa karena fleksibilitas bambu. Opini publik sebagian besar cenderung pada kesiapsiagaan proaktif, menilai pemerintah sebagai mitra, bukan musuh, dalam mitigasi, meski tekanan untuk aksi yang lebih cepat tak pernah berhenti.
Namun, pemandangan ini tidak sepenuhnya seragam; ada suara skeptis yang menambah warna pada diskusi publik.
Di forum online seperti Reddit r/indonesia, Kompasiana, dan grup Facebook “Geologi Amatir Jabar”, sebagian kecil warga menyuarakan pandangan kontra yang tajam. “Ini hoaks berulang sejak abad ke-15, mana ada gempa besar benar-benar yang tercatat?” tulis akun populer bernama @GeoSunda1771, yang membagikan data historis: gempa signifikan terakhir di wilayah itu terjadi berabad-abad lalu, dan pergerakan sesar hanyalah proses geologis normal seperti di San Andreas. Mereka menuduh media melakukan sensasionalisasi demi klikbait, mengalihkan perhatian dari ancaman lebih serius seperti subsiding Bandung, penurunan tanah hingga 15 cm per tahun akibat penggunaan pompa air tanah berlebih oleh industri tekstil.Kelompok ini, meski minoritas di bawah 20% berdasarkan polling informal di X, menambahkan nuansa penting: alarmisme berlebih bisa memicu hysteria massal, harga properti anjlok, dan relokasi panik yang sia-sia. Mereka menyerukan pendekatan rasional berbasis sains, fokus pada pemantauan GPS InSAR dan edukasi tanpa sensasi, daripada ketakutan irasional yang justru melemahkan ketangguhan masyarakat. Meski suara ini sering dengar, ia tetap menjadi kunci penting dalam memahami bagaimana perubahan pendapatan mempengaruhi opini publik. Di sisi lain, Bandung terus berjalan dengan kota yang telah ditempa oleh bencana masa lalu, dari longsor Ciwidey 2016 hingga gempa Cianjur 2022 yang menewaskan ratusan jiwa. Di balik hiruk-pikuk narasi digital yang ramai di TikTok, Instagram, dan X, warga tetap menjalani rutinitas: anak-anak berlari ke sekolah dengan tas darurat baru, pedagang warung kopi tetap ramai melayani pelanggan sambil memantau berita BMKG, dan keluarga berkumpul di teras rumah saat maghrib, berbagi cerita sambil memperhatikan tanah di bawah kaki. Musim hujan yang membasahi Jawa Barat kini memperburuk risiko longsor sekunder, menjadikan cerita ini pengingat pahit bahwa kesiapsiagaan bukan monopoli pemerintah, melainkan pesta kolektif seluruh masyarakat. Di tengah fase krisis yang tak terduga, Bandung Raya berdiri tegak, berharap ilmu pengetahuan, solidaritas, dan doa bisa menahan tragedi yang mengintai. Opini publik ini, dengan segala kompleksitasnya, menjadi kekuatan tersendiri mendorong mitigasi yang tidak hanya reaktif, tetapi visioner untuk masa depan kota yang lebih aman.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































