Di tengah derasnya arus informasi, digitalisasi, dan tekanan ekonomi global, banyak orang merasa semakin sulit untuk menjaga keseimbangan antara keuangan dan kesehatan batin. Ketika dompet menipis, kecemasan muncul — dan hal ini bukan sekadar persoalan uang, tetapi persoalan eksistensi, pilihan, dan nilai hidup.
Krisis Finansial dan Krisis Kesehatan Mental: Data Tak Bisa Diabaikan
Berbagai survei dan penelitian menunjukkan hubungan kuat antara ketidakpastian finansial dan penurunan kesehatan mental. Dalam survei terbaru, lebih dari setengah responden melaporkan bahwa mereka merasa stres atau cemas tentang keuangan pribadi paling tidak beberapa hari setiap minggu.
Sebuah penelitian longitudinal yang dilakukan pada masa awal pandemi menemukan bahwa meningkatnya stres finansial — akibat utang, berkurangnya tabungan, atau pendapatan yang berkurang — secara signifikan berkorelasi dengan penurunan kesehatan mental.
Survei global “Your Money Financial Security Survey” menunjukkan bahwa setidaknya separuh orang dewasa di berbagai negara besar mengaku stres tentang keuangan pribadi — banyak yang merasa hidup “gaji ke gaji” (living paycheck to paycheck).
Sementara itu, menurut survei 2024 oleh penyelenggara pinjaman konsumen di Amerika Serikat, sekitar 80% orang dewasa melaporkan merasa cemas soal keuangan mereka, dengan 34% menyebut kecemasan sebagai sedang hingga parah.
Ini artinya: krisis finansial bukan hanya soal matematika — utang, cicilan, atau inflasi — tetapi soal psikis. Uang yang kurang — atau rasa bahwa keuangan tidak aman — bisa memicu kecemasan, depresi, insomnia, dan berbagai gangguan kesehatan mental lainnya.
Digitalisasi, Konsumsi, dan Ilusi Kebebasan: Tantangan Baru
Di era digital, akses ke layanan keuangan makin mudah. Kredit instan, e-wallet, paylater, kartu kredit, dan layanan finansial berbasis daring telah menjangkau lebih banyak orang. Di satu sisi, ini meningkatkan inklusi finansial. Namun di sisi lain, kemudahan ini juga meningkatkan risiko terjebak dalam utang dan konsumsi impulsif — terutama bagi mereka yang kurang literasi finansial.
Kemudahan bertransaksi sering memudar-kan “rasa sakit” dalam pengeluaran: membeli apa saja terasa gampang, seperti hanya menekan tombol. Fenomena ini bisa memicu apa yang disebut oleh beberapa pemikir sebagai “psikopolitik konsumsi” — di mana manusia makin dikendalikan oleh impuls keinginan, bukan oleh pertimbangan rasional.
Di sinilah peran penting refleksi filosofis. Seperti yang diajarkan oleh para filsuf klasik: kebajikan bukan soal mengejar sebanyak-banyaknya — melainkan soal mengenal batas, menimbang nilai, dan menetapkan tujuan hidup yang bermakna.
Dari Kebebasan ke Beban: Paradox “Pilihan Tanpa Batas”
Menurut pemikir eksistensialis seperti Søren Kierkegaard, kebebasan manusia bisa menjadi beban — karena terlalu banyak pilihan bisa membuat kita bingung, kehilangan arah, atau bahkan cemas. Saat banyak pintu terbuka — cicilan di mana-mana, promosi belanja setiap saat, kredit instan — kita tidak selalu memiliki waktu atau kemampuan untuk mempertimbangkan mana yang benar-benar penting.
Akibatnya: keputusan impulsif jadi mudah, utang menumpuk, ketidakpastian hidup makin membayang. Kebebasan finansial berubah menjadi kecemasan finansial.
Kebijaksanaan Praktis: Kembali ke Filsafat Klasik
Filsuf Yunani kuno, Aristoteles, mengenalkan konsep phronesis — kebijaksanaan praktis. Bukan sekadar teori atau pengetahuan abstrak, phronesis adalah kemampuan menimbang, memilih, dan bertindak dengan bijak sesuai konteks. Dalam pengelolaan keuangan, phronesis berarti pandai merencanakan, menabung, menghindari konsumsi impulsif, dan mengambil keputusan jangka panjang, bukan hanya jangka pendek.
Dalam situasi sekarang: ketika banyak pilihan finansial tersedia, kita butuh phronesis agar tidak terseret arus konsumsi, kredit, dan gaya hidup semu. Butuh kesadaran: bahwa kebahagiaan tidak selalu sebanding dengan konsumsi.
Kenapa Filsafat Ekonomi — Bukan Hanya Literasi Finansial — Diperlukan
Saat ini, banyak kampanye literasi finansial menekankan anggaran (budgeting), utang, tabungan, dan instrumen keuangan. Itu penting. Tetapi literasi saja tak cukup. Tanpa fondasi nilai dan kebijaksanaan, pengetahuan bisa sia-sia — orang bisa tahu cara buat anggaran, tetapi tetap tergoda membeli barang konsumtif.
Filsafat ekonomi — sebagai kombinasi antara refleksi nilai, kesadaran diri, dan manajemen keuangan — menawarkan kerangka lebih holistik: membantu individu menyusun prioritas hidup, merumuskan tujuan jangka panjang, membangun kesejahteraan yang tidak hanya finansial, tetapi juga mental dan moral.
Ini menjadi sangat relevan di masa sekarang, ketika tekanan ekonomi, inflasi, ketidakpastian pekerjaan, dan pergeseran sosial semakin cepat. Tanpa kerangka nilai, kita rentan terseret arus konsumsi — dan akhirnya kehilangan makna.
Ancaman Kolektif: Dari Individu ke Risiko Sosial
Ketika banyak orang menghadapi kecemasan finansial dan mental, dampaknya bisa meluas: retaknya produktivitas, meningkatnya stres komunitas, melemahnya solidaritas sosial, bahkan potensi krisis sosial. Penelitian terbaru di sejumlah negara menunjukkan bahwa stres finansial di masa pasca-krisis (seperti pandemi) menjadi pendorong utama penurunan kesejahteraan mental — yang pada gilirannya mempengaruhi kesehatan masyarakat secara luas.
Artinya: fenomena ini bukan hanya persoalan pribadi, melainkan persoalan kolektif. Masyarakat modern perlu membangun kembali “kebijaksanaan publik” — yakni kesadaran bersama bahwa stabilitas ekonomi harus dibarengi dengan kesejahteraan mental, nilai hidup, dan solidaritas.
Menuju Masyarakat dengan “Kesadaran Nilai dan Finansial”
Sebagai tanggapan atas krisis ini, kita butuh:
Pendidikan finansial yang tidak hanya mengajarkan cara mengatur uang, tetapi juga mengajarkan refleksi nilai, tujuan hidup, dan kebijaksanaan — semacam “etika finansial”.
Kesadaran individu bahwa konsumsi bukanlah tolok ukur kebahagiaan; kebahagiaan sejati membutuhkan keseimbangan antara kebutuhan materi, mental, dan sosial.
Kebijakan publik yang mendukung literasi ekonomi & mental, akses kredit yang bertanggungjawab, dan sistem keuangan inklusif namun aman — agar digitalisasi finansial tidak justru memperdalam ketidaksetaraan dan kecemasan.
Komunitas & dialog publik: membicarakan keuangan bukan sekadar dalam konteks angka, tetapi dalam konteks kehidupan, nilai, dan kebahagiaan bersama.
Kesimpulan: Uang, Kebebasan, dan Makna Hidup
Krisis finansial — utang, gaji yang pas-pasan, inflasi, ketidakpastian — bisa saja terjadi pada siapa saja. Dan ketika hal itu terjadi, konsekuensinya bukan sekadar soal kehilangan barang atau kenyamanan, tetapi bisa tentang kehilangan rasa aman, ketenangan batin, dan makna hidup.
Filsafat mengingatkan kita bahwa manusia tidak sekadar makhluk ekonomi — kita adalah makhluk reflektif, makhluk nilai, makhluk yang mencari makna. Bila kita memandang uang sekadar sebagai alat konsumerisme, kita akan kehilangan kendali. Tetapi bila kita belajar memanajemen keuangan dengan kebijaksanaan — mengutamakan nilai, bukan nafsu — kita bisa menjaga kesejahteraan finansial sekaligus ketenangan batin.
Maka dari itu: di era ketidakpastian ini — di tengah inflasi, kredit mudah, e-wallet, dan globalisasi gaya hidup — apa yang paling kita butuhkan bukan semata “cara cepat kaya”, tetapi “cara hidup yang bijak”.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































