Di balik gelar pendidikan, banyak lulusan muda terutama dari SMA dan SMK yang ternyata menghadapi kecemasan dan tekanan sosial saat mulai mencari arah karir di tengah terbatasnya peluang kerja.
“Sekolah yang tinggi supaya hidup lebih baik.” Kalimat ini mungkin sudah sering kita dengar sejak kecil. Harapannya jelas: dengan pendidikan yang lebih tinggi, masa depan juga akan lebih terjamin. Tapi kenyataannya sekarang, tidak semua berjalan sesuai harapan itu.
Salah satu tantangan yang masih sering dihadapi adalah masalah pengangguran di kalangan lulusan. Data dari Badan Pusat Statistik, tingkat pengangguran terbuka (TPT) jika dilihat dari tingkat pendidikan menunjukkan pola yang tidak jauh berbeda antara tahun 2024 dan 2025. Pada tahun 2024, lulusan SMK masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yaitu sekitar 9,01%, diikuti oleh lulusan SMA sebesar 7,05%. Memasuki tahun 2025, angka tersebut memang mengalami sedikit penurunan, tetapi posisinya tetap sama, di mana lulusan SMK berada di angka 8,63% dan SMA sebesar 6,88%. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan SMA dan terutama SMK masih menjadi kelompok yang paling rentan mengalami pengangguran, meskipun secara pendidikan mereka dipersiapkan untuk masuk ke dunia kerja.
Kondisi ini menunjukkan bahwa proses transisi dari pendidikan ke dunia kerja tidak hanya menjadi tantangan ekonomi, tetapi juga tantangan mental bagi lulusan muda. Dalam proses tersebut, banyak lulusan yang mengalami kecemasan, overthinking terhadap masa depan, serta menurunnya rasa percaya diri ketika belum mendapatkan pekerjaan. Tekanan dari lingkungan sekitar juga sering kali memperburuk kondisi ini, sehingga tidak sedikit yang merasa tertinggal bahkan menganggap dirinya gagal.
Menurut penelitian dalam jurnal Frontiers in Public Health (2024), pengangguran memiliki hubungan yang kuat dengan meningkatnya gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tidak bekerja dapat menjadi salah satu faktor yang memicu munculnya luka psikologis pada individu.
Kondisi ini tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah adanya ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Selain itu, terbatasnya lapangan pekerjaan serta tingginya jumlah pencari kerja juga memperketat persaingan. Di sisi lain, tidak semua lulusan memiliki kesiapan mental dalam menghadapi proses pencarian kerja yang tidak pasti, sehingga memperbesar tekanan yang dirasakan.
Dalam perspektif teori perkembangan karier yang dikemukakan oleh Donald Super, lulusan muda berada pada tahap eksplorasi, yaitu fase ketika individu masih mencoba mengenali diri dan menentukan arah karir. Pada tahap ini, kebingungan dan ketidakpastian merupakan hal yang wajar. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi tekanan psikologis yang lebih dalam.
Selain itu, menurut Albert Bandura melalui konsep self-efficacy, keyakinan individu terhadap kemampuan diri sangat mempengaruhi bagaimana seseorang menghadapi tantangan. Rendahnya kepercayaan diri pada lulusan yang belum bekerja dapat membuat mereka lebih mudah merasa gagal, menghindari peluang, dan terjebak dalam pikiran negatif.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, diperlukan upaya dari berbagai pihak. Dari sisi individu, lulusan perlu mulai mengenali potensi diri, mengembangkan keterampilan tambahan, serta membangun kepercayaan diri dalam menghadapi dunia kerja. Selain itu, dukungan dari lingkungan seperti keluarga dan teman juga penting agar tidak menambah tekanan psikologis yang dirasakan.
Dalam konteks ini, bimbingan konseling karir memiliki peran yang penting dalam membantu lulusan menghadapi masa transisi dari pendidikan ke dunia kerja. Melalui bimbingan ini, individu dapat lebih mengenali potensi diri, seperti minat dan kemampuan, serta memperoleh arahan dalam menentukan langkah karier yang sesuai. Selain itu, bimbingan konseling juga dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan kesiapan mental lulusan dalam menghadapi tekanan selama proses pencarian kerja.
Pada akhirnya, lulus dari pendidikan formal bukanlah jaminan untuk langsung mendapatkan pekerjaan. Proses merintis karier membutuhkan waktu, kesiapan, dan ketahanan mental. Oleh karena itu, selain meningkatkan peluang kerja, penting juga untuk memberikan perhatian pada kondisi psikologis lulusan agar mereka mampu melewati fase ini tanpa kehilangan arah dan kepercayaan diri.
Sinta Tutuhatunewa
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling
Universitas Kristen Indonesia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































