Pernah nggak sih kita berhenti sebentar dan bertanya: sebenarnya kita sekolah dan kuliah itu untuk apa? Apakah semata-mata demi nilai bagus, IPK tinggi, atau lulus tepat waktu? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi justru semakin sulit dijawab di tengah realitas pendidikan hari ini.
Di ruang-ruang kelas, kita sering menjumpai peserta didik yang jago menghafal, tetapi gagap ketika diminta menyampaikan pendapat. Ada juga mahasiswa yang lulus dengan IPK membanggakan, namun kebingungan saat harus berhadapan dengan persoalan nyata di masyarakat. Pendidikan seolah sibuk mengejar angka, ranking, dan sertifikat, sementara makna belajar pelan-pelan tersisih.
Sejak lama, sistem pendidikan kita menempatkan nilai sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Ujian, tugas, dan indeks prestasi menjadi penentu apakah seseorang dianggap “berhasil” atau tidak. Akibatnya, proses belajar sering berubah menjadi rutinitas mengejar target. Tidak sedikit mahasiswa yang belajar bukan karena ingin memahami, tetapi karena takut nilai jelek atau tidak lulus mata kuliah.
Padahal, pendidikan sejatinya tidak berhenti pada angka di rapor atau transkrip nilai. Pendidikan seharusnya membantu kita mengenali diri sendiri, mengasah nalar kritis, dan menumbuhkan kepekaan sosial. Ketika fokus utama hanya pada hasil akhir, proses belajar kehilangan ruhnya. Diskusi menjadi formalitas, tugas dikerjakan sekadar menggugurkan kewajiban, dan kreativitas justru tertekan.
Di era digital seperti sekarang, tantangan pendidikan semakin kompleks. Akses informasi terbuka lebar, tetapi kemampuan memilah dan memaknainya justru sering tertinggal. Ironisnya, sistem pembelajaran masih banyak yang berjalan satu arah. Dosen berbicara, mahasiswa mendengar. Guru menjelaskan, siswa mencatat. Padahal, dunia di luar kampus menuntut lebih dari sekadar kemampuan mengingat materi ia menuntut keberanian berpikir, berkomunikasi, dan berkolaborasi.
Sebagai mahasiswa, kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sistem. Ada peran yang bisa kita ambil untuk menghidupkan kembali makna belajar. Mulai dari berani bertanya, aktif berdiskusi, hingga mencoba mengaitkan materi kuliah dengan realitas sosial di sekitar. Ketika kita memposisikan diri bukan hanya sebagai penerima materi, tetapi sebagai subjek pembelajaran, pendidikan akan terasa lebih hidup dan relevan.
Di sisi lain, pendidik dan institusi juga perlu berani berbenah. Pembelajaran yang memberi ruang dialog, menghargai perbedaan pendapat, dan mendorong refleksi akan jauh lebih bermakna dibanding sekadar menuntaskan silabus. Nilai tetap penting, tetapi bukan satu-satunya tujuan. Yang lebih utama adalah proses berpikir dan sikap yang terbentuk di dalamnya.
Pendidikan yang bermakna bukan berarti tanpa aturan atau evaluasi. Justru, evaluasi perlu diarahkan untuk melihat perkembangan cara berpikir, pemahaman, dan kepekaan peserta didik. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya mencetak lulusan yang “lulus”, tetapi manusia yang siap menghadapi kehidupan nyata dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang memanusiakan manusia. Tentang bagaimana ruang kelas menjadi tempat tumbuh, bukan sekadar tempat diuji. Mungkin sudah saatnya kita berhenti hanya bertanya, “berapa nilainya?”, dan mulai bertanya, “apa makna yang kita dapat hari ini?”. Karena dari sanalah pendidikan benar-benar menemukan tujuannya.
Disusun Oleh:
– Neneng Hasanah
– Siti Aisyah
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar S1 Universitas Pamulang Tahun Akademik 2025/2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































