MALANG — Bagi sebagian orang, dunia kedokteran identik dengan ruang kuliah, praktikum laboratorium, dan rumah sakit. Namun bagi Muhammad Raynan Rizky Akbar, mahasiswa sekaligus aktivis dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, ilmu medis tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu beririsan dengan persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, dan hak asasi manusia (HAM).
Raynan lahir di Malang, 9 April 2005. Sejak menempuh pendidikan tinggi sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran UB angkatan 2023, ia dikenal aktif tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga dalam gerakan mahasiswa dan advokasi isu sosial di Malang Raya. Aktivismenya menjadikan Raynan salah satu figur mahasiswa yang kerap terlibat dalam diskusi publik mengenai demokrasi, pendidikan, dan HAM.
Kesadaran Sosial Sejak Bangku Kuliah
Ketertarikan Raynan pada isu sosial tumbuh seiring dengan perjalanan akademiknya. Di lingkungan kampus, ia aktif mengikuti forum diskusi dan kajian yang membahas kebijakan publik serta persoalan struktural yang berdampak langsung pada masyarakat.
Bagi Raynan, ilmu kedokteran tidak hanya berbicara soal diagnosis dan terapi, tetapi juga tentang memahami faktor sosial, ekonomi, dan politik yang memengaruhi kesehatan masyarakat. Pandangan ini membuatnya meyakini bahwa calon dokter perlu memiliki kesadaran sosial yang kuat.
“Masalah kesehatan sering kali berakar dari ketimpangan. Ketika akses pendidikan, ekonomi, dan hak dasar tidak terpenuhi, dampaknya akan kembali pada kesehatan masyarakat,” pandangan tersebut kerap ia sampaikan dalam forum-forum diskusi mahasiswa.
Aktif dalam Organisasi dan Gerakan Mahasiswa
Peran Raynan dalam dunia kemahasiswaan semakin menonjol ketika ia dipercaya mengemban amanah sebagai Menteri Aksi, Kajian, dan Propaganda BEM FK UB dalam struktur organisasi mahasiswa. Jabatan ini menempatkannya pada posisi strategis dalam perumusan sikap organisasi, penyusunan kajian kebijakan, serta pengorganisasian gerakan mahasiswa.
Dalam menjalankan perannya, Raynan dikenal menekankan pentingnya kajian berbasis data dan analisis akademik. Setiap isu yang diangkat, menurutnya, harus dipahami secara utuh agar tuntutan yang disuarakan memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia terlibat dalam berbagai konsolidasi dan aksi mahasiswa yang menyoroti isu pendidikan, demokrasi, serta penolakan terhadap kebijakan yang dinilai berpotensi mengancam hak sipil. Dalam setiap gerakan, Raynan mendorong mahasiswa untuk tetap menjunjung etika, disiplin intelektual, dan tanggung jawab moral.
Konsistensi Mengawal Isu Hak Asasi Manusia
Sebagai aktivis HAM, Raynan memandang bahwa hak asasi manusia merupakan fondasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, kebebasan berpendapat, hak atas pendidikan, serta perlindungan dari tindakan represif adalah hak dasar yang harus dijaga.
Keterlibatannya dalam berbagai aksi demonstrasi dan aksi simbolik mahasiswa merupakan bagian dari upaya menyuarakan kepentingan publik. Meski demikian, Raynan menegaskan bahwa aktivisme tidak berhenti pada aksi massa semata. Proses edukasi dan penyadaran publik, menurutnya, justru menjadi inti dari gerakan mahasiswa.
Ia juga menilai bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai pengawas kebijakan negara. Ketika ruang kritik menyempit, mahasiswa harus hadir sebagai suara alternatif yang menyampaikan kegelisahan masyarakat secara terukur dan bertanggung jawab.
Menjaga Keseimbangan Akademik dan Aktivisme
Di tengah kesibukan organisasi dan aktivitas advokasi, Raynan tetap berupaya menjaga komitmen akademiknya di Fakultas Kedokteran. Ia menolak dikotomi antara prestasi akademik dan aktivisme.
Menurut Raynan, dunia akademik justru menjadi fondasi penting bagi aktivisme yang sehat. Metode berpikir ilmiah, kemampuan analisis, dan etika akademik menjadi bekal utama dalam menyikapi isu-isu publik secara rasional.
Rekan-rekannya di kampus mengenal Raynan sebagai mahasiswa yang aktif berdiskusi dan kritis terhadap konteks sosial dalam praktik medis. Ia kerap mengaitkan materi perkuliahan dengan realitas ketimpangan akses layanan kesehatan di berbagai daerah.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan kesehatan masyarakat yang menempatkan faktor sosial sebagai determinan utama kesehatan.
The Best Faculty of Medicine Ambassador 2025
Konsistensi Raynan dalam dunia organisasi dan kontribusinya bagi lingkungan kampus mendapat apresiasi dari Universitas Brawijaya. Pada 2025, ia dianugerahi gelar The Best Faculty of Medicine Ambassador.
Gelar tersebut diberikan kepada mahasiswa yang dinilai mampu menjadi representasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kepemimpinan, integritas, dan kepedulian sosial. Sebagai ambassador, Raynan dipandang mampu membawa nilai-nilai fakultas ke ruang publik secara konstruktif.
Meski demikian, Raynan menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan tujuan utama dari aktivitas yang ia jalani. Baginya, pengakuan institusional merupakan konsekuensi dari proses panjang dalam berorganisasi dan berkontribusi.
“Yang paling penting adalah konsistensi. Apakah kita tetap berpihak pada nilai kemanusiaan, terlepas dari ada atau tidaknya penghargaan,” ujarnya.
Visi ke Depan sebagai Calon Dokter
Ke depan, Raynan bercita-cita menjadi tenaga medis yang tidak hanya bekerja di ruang klinis, tetapi juga terlibat dalam advokasi kebijakan kesehatan. Ia meyakini bahwa dokter memiliki posisi strategis dalam memperjuangkan sistem kesehatan yang adil dan inklusif.
Menurutnya, persoalan kesehatan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kebijakan publik dan keberpihakan negara terhadap kelompok rentan. Oleh karena itu, keterlibatan tenaga medis dalam ruang advokasi menjadi hal yang relevan.
Raynan juga menaruh harapan besar pada peran generasi muda dalam menjaga demokrasi. Ia menilai mahasiswa memiliki akses terhadap pengetahuan dan ruang diskusi yang relatif luas, sehingga memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara ketika terjadi ketimpangan.
Inspirasi bagi Mahasiswa
Kisah Muhammad Raynan Rizky Akbar menunjukkan bahwa dunia akademik dan aktivisme tidak harus saling menegasikan. Di usia yang masih muda, Raynan menempuh jalan yang menuntut konsistensi, keberanian, dan kedisiplinan berpikir.
Sebagai mahasiswa kedokteran dan aktivis HAM, Raynan menghadirkan potret generasi muda yang berupaya memadukan ilmu pengetahuan dengan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah perjalanan yang mencerminkan semangat mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah dinamika sosial yang terus bergerak.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































