Jakarta – Di tengah gemerlap pusat Jakarta, saat arus kendaraan terus menggulung dan orang – orang bergegas pulang menembus kemacetan, pemandangan muncul dari salah satu sudut Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno (GBK) Jumat malam (14/11/2025). Di tempat yang biasanya dipenuhi para pelari, Komunitas Bermain berkumpul untuk memainkan permainan tradisional seperti lompat karet, benteng dan suit monopoli yang akrab dengan masa kecil.
Komunitas bermain dibangun pada 4 Agustus 2024. Sejak saat itu, komunitas ini rutin mengadakan kegiatan setiap Jumat malam. Tujuannya untuk melepas penat setelah hari-hari sibuk. Sebagian peserta datang mengenakan pakaian olahraga, sementara yang lain masih memakai ID card kantor. Ada yang datang sendiri, ada pula yang datang berkelompok.
Meski jadwal pukul 18:00 WIB, permainan jarang berlangsung tepat waktu. Mereka menunggu beberapa peserta dirasa cukup. Setelah pemanasan singkat, lingkaran besar dibentuk, dan kelompok dibagi lewat hitungan “satu dan dua”.
Permainan pertama malam itu adalah lompat karet. Ketua masing-masing kelompok melakukan suit batu, gunting, kertas untuk menentukan siapa yang mendapatkan giliran melompat terlebih dahulu, sementara yang kalah menjadi pemegang karet. Setelah posisi ditentukan, dua peserta memegang karet panjang dan peserta pertama bersiap melakukan lompatan pembuka.

Di antara permainan, Interaksi begitu alami. Orang-orang yang awalnya belum saling mengenal bisa langsung akrab. Sebagian saling bertukar cerita sambil menunggu giliran bermain.
Setiap kali seorang peserta berhasil melewati karet tanpa menyentuh, teman-teman bersorak pelan dan menepuk tangan. Namun jika gagal mereka langsung memicu tawa ramai. Salah satu peserta yang menunggu giliran tanpak ragu, menggumam “Aduh, gimana ya…bisa ngga ya?”.
Usai lompat karet, permainan berlanjut ke benteng. Kelompok kembali dibagi lewat hitungan “satu-dua”, kali ini dengan jumlah peserta lebih banyak. Setelah suit dilakukan dan ditentukan pemenangnya, kelompok itu berhak melakukan serangan awal. Meski begitu mereka tetap harus menjaga benteng.
Setiap kelompok berbisik menyusun strategi siapa yang maju menyerang, siapa yang mengecoh, dan siapa yang menjaga di area belakang. Peserta dari kelompok penyerang langsung berlari lincah mencoba menyentuh benteng lawan, sementara kelompok lainnya menutup celah perlawanan. Suara langkah kaki bergema di lapangan, bercampur dengan sorakan dan tawa pecah di tengah Jumat malam.

Permainan tradisional terkahir malam itu adalah suit monopoli. Peserta menyusun sepatu mereka secara memanjang sebagai pembatas, mirip seperti jalan kecil. Sebelum mulai, seluruh peserta melakukan suit untuk menentukan siapa yang berhak jalan terlebih dahulu.
Setelah urutan awal ditetapkan, permainan dimulai. Setiap peserta harus berjalan menggunakan satu kaki menyusuri jalur sepatu. Di setiap pertemuan, mereka melakukan suit batu, gunting, kertas. Jika menang, mereka langsung melompat maju. Namun jika kalah, mereka harus keluar dari jalur. Saat satu peserta gugur, orang yang berada di barisan belakang harus bergegas menghampiri posisi pemenang suit untuk melanjutkan permainan agar ritmenya tetap cepat.
Antreannya mengular panjang, tetapi justru itulah yang membuat suasana semakin seru. Banyak yang menunggu sambil bercanda, menyoraki teman yang kalah suit, atau tertawa melihat ada yang gugur bahkan sebelum sempat maju satu langkah.
Beberapa peserta mengaku kegiatan ini menjadi cara untuk menghilangkan kepenatan. “Aku baru ikut satu kali, seru banget jarang-jarang bisa ketawa lepas sama orang baru,” ujar Cyntia, pekerja yang masih menggunakan kemeja bermotif garis.
Peserta lainnya Sofian, menyebut kegiatan ini membantunya menurunkan stres hari-hari sibuk. “setelah bekerja menghadapi tekanan di kantor, kegiatan ini membantu menetralkan stres. Jadi saat pulang, saya bisa lebih rileks dan menikmati waktu di rumah,” katanya.
Malam semakin larut, namun semangat mereka tetap tidak mereda. Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang serba cepat, permainan ini tradisional menjadi penutup setelah lima hari menjalani rutinitas. Sejenak, mereka seperti kembali menjadi anak-anak, tertawa, berlari, dan melupakan penat sebelum kembali pada rutinitas kota.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































