Ada kalanya sebuah warna mampu “berbicara” lebih keras daripada kata-kata dan pada kunyit, warna kuning emasnya seolah berteriak tentang kekuatan yang tersembunyi di balik rimpang sederhana ini. Dari dapur tradisional sampai laboratorium modern, kunyit terus memikat perhatian karena pigmen utamanya, kurkumin, yang bukan hanya membuat masakan tampak hangat dan bersinar, tetapi juga menyimpan potensi besar dalam dunia kesehatan.
Kurkumin adalah senyawa polifenol yang bertanggung jawab atas warna kuning khas kunyit. Sebagai pewarna alami, kurkumin telah digunakan selama berabad-abad, terutama dalam masakan Asia dan sebagai bahan pewarna tekstil. Secara kimia, kurkumin memiliki struktur yang memungkinkan aktivitas antioksidan kuat, sehingga dapat menetralkan radikal bebas yang merusak sel. Penelitian yang dilakukan oleh Hewlings dan Kalman (2017), menunjukkan bahwa kurkumin mampu memengaruhi berbagai jalur inflamasi dalam tubuh, seperti NF-κB dan COX-2, yang berperan dalam pembentukan peradangan kronis.
Sifat antiinflamasi kurkumin telah diuji dalam berbagai studi, terutama dalam kaitannya dengan osteoartritis. Panahi et al. (2014), melakukan uji klinis acak terkontrol plasebo pada pasien osteoartritis lutut dan menemukan bahwa suplementasi kurkuminoid mampu menurunkan tingkat nyeri serta meningkatkan fungsi sendi secara signifikan. Hasil ini makin menegaskan bahwa pigmen yang selama ini kita kenal sebatas pewarna masakan, ternyata bisa memberi manfaat fisiologis yang cukup berarti.
Namun, efektivitas kurkumin tidak selalu mudah dicapai karena masalah bioavailabilitas tubuh manusia hanya menyerap kurkumin dalam jumlah sangat kecil. Inilah sebabnya mengapa banyak tradisi memasak memadukan kunyit dengan lemak atau lada hitam. Shoba et al. (1998), menemukan bahwa piperin, senyawa dalam lada hitam, mampu meningkatkan penyerapan kurkumin hingga 20 kali lipat. Penemuan ini kemudian diterjemahkan ke berbagai formulasi suplemen modern yang menggunakan piperin, nanopartikel, atau kompleks fosfolipid untuk meningkatkan efektivitasnya.
Selain sebagai antiinflamasi, kurkumin juga banyak dikaji karena aktivitas antioksidannya. Meta-analisis oleh Tabrizi et al. (2019), menunjukkan bahwa suplemen kurkumin mampu menurunkan biomarker inflamasi seperti CRP, IL-6, dan TNF-α pada berbagai kelompok pasien. Aktivitas antioksidan ini diyakini berasal dari kemampuan kurkumin untuk menangkap radikal bebas serta meningkatkan aktivitas enzim pertahanan tubuh seperti SOD dan glutathione peroxidase.
Kurkumin memiliki keunggulan sebagai pewarna alami yang stabil terhadap panas dan memiliki tingkat toksisitas yang sangat rendah. Banyak industri makanan memanfaatkannya untuk memberi warna kuning cerah pada minuman, saus, mentega, hingga produk olahan lainnya. Stabilitas warna ini sebagian besar dipengaruhi oleh pH dan keberadaan cahaya, sehingga produsen perlu mempertimbangkan formulasi agar warna tetap cerah. Pemanfaatan pewarna alami seperti kurkumin juga menjadi tren yang semakin menguat seiring meningkatnya permintaan konsumen akan produk yang lebih “clean label”.
Meski begitu, penggunaan kurkumin sebagai suplemen tetap harus dilakukan dengan bijak. Penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk memastikan dosis efektif, keamanan jangka panjang, serta interaksi potensial dengan obat lain. Beberapa studi mencatat bahwa konsumsi dosis tinggi kurkumin dapat mengganggu metabolisme obat tertentu atau menimbulkan ketidaknyamanan pencernaan pada sebagian orang. Karena itu, para ahli menyarankan konsultasi terlebih dahulu sebelum penggunaannya dalam bentuk suplemen dosis tinggi.
Kunyit, dengan warna kuning emasnya yang memikat, adalah contoh nyata bagaimana bahan tradisional dapat menembus batas waktu dan budaya, tetap relevan dari dapur sederhana hingga laboratorium modern. Pigmen kurkumin di balik warnanya bukan hanya memperindah makanan, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai penelitian ilmiah yang terus berkembang. Dari pewarna alami hingga agen antiinflamasi, kunyit membuktikan bahwa keindahan warna dapat menjadi pintu masuk menuju potensi besar bagi kesehatan manusia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































