Kurikulum selalu menjadi topik hangat dalam dunia pendidikan, terutama ketika terjadi perubahan dari satu kurikulum ke kurikulum lain. Namun, di balik itu semua perdebatan teknis antara pemerintah, guru, dan pakar pendidikan, ada satu suara yang sering terlupakan: suara pelajar. Padahal, kamilah yang menjadi subjek utama dan merasakan langsung dampak dari setiap perubahan yang terjadi.
1. Kurikulum yang Terlalu “Ideal” Tidak Selalu Realistis Banyak kurikulum dirancang dengan tujuan mulia membangun karakter, meningkatkan kompetensi, hingga menciptakan lulusan yang siap bersaing. Namun, ketika diterapkan, pelajar sering kewalahan. Materi yang padat, tuntutan tugas yang banyak, serta tekanan untuk memahami konsep abstrak dalam waktu singkat membuat proses belajar terasa lebih seperti perlombaan daripada perjalanan memahami ilmu. Sebagai pelajar, kami membutuhkan kurikulum yang realistis, bukan hanya ideal di atas kertas.
2. Pendekatan Pembelajaran Sering Tidak Sesuai Kebutuhan Metode pembelajaran sering kali masih berpusat pada guru. Akibatnya, pelajar menjadi pasif dan hanya fokus memenuhi instruksi, bukan memahami konsep. Padahal banyak dari kami belajar lebih baik melalui diskusi, praktik, studi kasus, atau proyek kreatif. Kurikulum yang baik seharusnya fleksibel dan memberi ruang bagi guru untuk menyesuaikan pendekatan dengan karakteristik kelas.
3. Kurangnya Keterhubungan dengan Dunia Nyata Salah satu keluhan terbesar pelajar adalah: “ini tuh bakal dipakai dimana?” Ketika materi tidak dikaitkan dengan kehidupan nyata, pelajar kehilangan motivasi. Kurikulum seharusnya mampu menjawab pertanyaan ini dengan menghadirkan konteks yang relevan baik melalui contoh konkret, praktik lapangan, maupun proyek yang menantang kemampuan berpikir kritis.
4. Penilaian yang Tidak Mencerminkan Kemampuan Sebenarnya Banyak pelajar merasa penilaian masih terlalu menekankan hafalan dan nilai ujian. Padahal kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kerja sama, komunikasi, dan pemecahan masalah adalah keterampilan yang lebih dibutuhkan di dunia nyata. Kami butuh sistem penilaian yang menilai proses, bukan hanya hasil.
5. Peran Guru Sangat Menentukan Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi penghubung antara kurikulum dan pelajar. Ketika guru tidak mendapat pelatihan yang cukup atau dibebani administrasi yang berlebihan, implementasi kurikulum menjadi tidak optimal. Pelajar ingin guru yang punya waktu dan energi untuk membimbing, bukan hanya mengejar administrasi dan target kurikulum.
6. Apa yang Sebenarnya Kami Butuhkan? Dari sudut pandang pelajar, kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang:
✓ Fleksibel dan relevan, tidak kaku dan jauh dari realita kehidupan.
✓ Menitikberatkan pemahaman, bukan sekadar menyelesaikan materi.
✓ Menghargai keunikan setiap pelajar, termasuk gaya belajar dan minat mereka.
✓ Mendorong eksplorasi dan kreativitas, bukan hanya kepatuhan.
✓ Memiliki sistem evaluasi yang adil, bukan hanya berdasarkan ujian.
Kurikulum seharusnya tidak membuat pelajar merasa tertekan, tetapi membuat kami bersemangat untuk belajar dan berkembang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































