PONOROGO, 9 Februari 2026 – Di tengah pandangan umum yang masih menganggap media sosial sebagai hal tabu di lingkungan pendidikan agama, Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falah Sukorejo, Ponorogo, mengambil langkah revolusioner. Pesantren ini secara resmi mengintegrasikan Digital Marketing ke dalam kurikulum pembelajaran santri sebagai upaya membekali generasi masa depan dengan kecakapan digital dan kemandirian ekonomi.
Langkah berani ini dilakukan bukan tanpa alasan. Pesantren yang baru saja meraih penghargaan Digital Transformation pada ajang Jawa Pos Radar Madiun Education Awards 2025 ini melihat media sosial sebagai sarana dakwah yang krusial di era modern.
Digital Marketing sebagai “Fardhu Kifayah Digital”
Pimpinan Ponpes Darul Falah Sukorejo, Riza Arif Achmadi, S.Th.I, menegaskan bahwa digital marketing bukan sekadar soal mengejar popularitas, melainkan tentang penguasaan alat untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan.
“Jika santri yang memiliki adab dan ilmu agama menjauhi media sosial, maka ruang digital akan didominasi oleh konten yang tidak bermanfaat. Kami mengajarkan digital marketing sebagai ‘Fardhu Kifayah Digital’ agar santri mampu mewarnai jagat maya dengan konten yang edukatif dan beradab,” jelas Riza Arif Achmadi.
Tiga Pilar Transformasi Digital di Darul Falah:
Digitalisasi Khazanah Klasik: Penggunaan aplikasi Kitab Kuning Digital sejak 2021 untuk mempermudah santri mendalami literatur ulama salaf.
Kemandirian Ekonomi (Santripreneur): Pembekalan keahlian copywriting, desain grafis, dan manajemen konten agar santri siap berwirausaha secara mandiri.
Transparansi melalui “Mondok Aja”: Aplikasi khusus yang memungkinkan wali santri memantau perkembangan anak dan administrasi secara real-time.
Perspektif Praktisi: Standar Baru Vokasi Spiritual
Ahmad Madani, praktisi pemasaran nasional sekaligus Sekretaris Jenderal KOMISI (Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia), memberikan apresiasi tinggi atas langkah inovatif ini. Menurutnya, apa yang dilakukan Darul Falah adalah bentuk nyata dari adaptasi pendidikan vokasi di lingkungan religi.
“Banyak yang takut santri terpapar dampak negatif internet, namun Darul Falah memilih untuk mengedukasi bukan membatasi. Dengan mengajarkan strategi digital marketing, mereka sebenarnya sedang membentuk ‘benteng moral’ bagi santri agar mampu membedakan hoaks dan memanfaatkan teknologi untuk kemaslahatan umat,” ujar Ahmad Madani.
Melalui slogan “Mondok Aja”, Pesantren Darul Falah Sukorejo ingin mengirimkan pesan kepada para orang tua bahwa pesantren adalah tempat terbaik untuk mencetak generasi yang tidak hanya Mutafaqqih Fiddin (paham agama), tetapi juga kompeten secara profesional di era kecerdasan buatan (AI).
Tentang Pondok Pesantren Darul Falah Sukorejo: Berlokasi di Sukorejo, Ponorogo, Pesantren Darul Falah adalah institusi pendidikan yang memadukan kurikulum salaf dan modern. Dengan lebih dari 1.500 santri, Darul Falah terus berkomitmen pada transformasi digital untuk menghasilkan lulusan yang beradab, mandiri, dan cakap teknologi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”


































































