Lagi nongkrong sambil ngopi, obrolan mendadak jadi agak berat tapi tetap relate. Kita lagi bahas fenomena budaya baca yang sekarang makin “menipis”. Ibarat kopi sachet yang kebanyakan air, literasi kita tuh hambar, tapi kita semua akting seolah-olah semuanya baik-baik saja. 🤡
Jujur aja, baca teks panjang sekarang rasanya kayak dapet tugas berat. Belum juga mulai baca, baru lihat paragrafnya yang numpuk aja udah bikin mata layu dan pengen skip.
Coba deh iseng kirim file aturan atau PDF penting ke grup chat. Pasti langsung ada yang komen: “Spill intinya dong, Kak,” atau “Tolong dong bikin ringkasannya.”
Oke, kita coba rangkum pakai bahasa yang paling gampang dimengerti. Eh, pas rangkumannya dikirim, masih ada yang nanya: “Jadi intinya gimana?” Lah? 🤦♂️ Ini literasi apa mie instan? Maunya tinggal telan tapi males banget buat nyari tahu bumbunya apa aja.
Problemnya sekarang makin nyata: netizen lebih milih konten video daripada tulisan. Setuju nggak? Ya mau nggak mau harus setuju sih. Tulisan tiga paragraf dianggap “berat banget”, tapi video lima menit ditonton sampai habis, padahal isinya cuma muter-muter dan sebenarnya bisa diringkas jadi dua kalimat doang.
Asal ada visual yang estetik, transisi yang oke, dan subtitle gede-gede, langsung ngerasa paham. Soal infonya bener atau hoax, itu urusan belakangan. Yang penting dapet asupan visual dulu, mikirnya mah kalau lagi mood aja.
Intinya, teks itu nggak kalah pinter, cuma kalah vibes aja. Literasi kita “keok” bukan karena kita nggak mampu, tapi karena kita udah kecanduan yang serba instan, serba cepat, dan serba visual. Pengen dapet info tuh kayak makan mie instan: buka bungkus, seduh, kenyang tanpa baca komposisi.
Pas kopi udah mau habis, kita cuma bisa ketawa miris. Di zaman digital ini, tulisan sebenarnya masih penting banget, tapi pembacanya makin dikit dan makin eksklusif. Sisa-sisa “orang lama” yang masih mau baca ya paling ketemunya di pojokan kafe lagi ngopi, ngeluhin keadaan, tapi tetep sambil baca. 😌☕
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































