Siaran-Berita.com, Surabaya – Marsha Rifky Febriansyah, mahasiswa aktif program studi D4 Teknik Informatika di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), membuktikan bahwa indeks sekolah bukanlah penghalang mutlak untuk meraih mimpi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) impian.
Dikenal sebagai pribadi yang kreatif dan mahir di bidang teknologi serta produksi media digital, Marsha membagikan kisah inspiratifnya tentang bagaimana ia berhasil lolos SNBP meskipun berasal dari sekolah yang tidak masuk dalam jajaran “Top 1000”.
Tekad di Tengah Keraguan
Berasal dari SMAS AL-ISLAM KRIAN, Sidoarjo, Marsha menyadari bahwa sekolahnya mungkin tidak memiliki peringkat mentereng secara nasional. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk membidik PENS, salah satu politeknik terbaik di Indonesia.
Dengan rata-rata nilai rapor 89.86, ia sempat dilanda kekhawatiran: Apakah warna biru (diterima) akan muncul di layar pengumuman, ataukah justru warna merah (ditolak)?
Strategi Pemilihan Jurusan: PENS vs ITS
Awalnya, Marsha sempat melirik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Namun, setelah melakukan riset mendalam mengenai bobot penilaian dan tingkat keketatan, ia mengambil langkah strategis.
“Saya melihat pembobotan untuk Teknik Informatika di ITS sangatlah tinggi dibandingkan peminatnya. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih PENS sebagai pilihan utama,” ungkapnya.
Keputusannya membuahkan hasil manis. Ia diterima pada pilihan pertama, yaitu D4 Teknik Informatika, menyisihkan pilihan keduanya, D4 Sains Data Terapan.
Kekuatan Sertifikat dan Konsistensi
Nilai rapor tinggi saja tidak cukup. Marsha menekankan pentingnya sertifikat pendukung. Ia memaksimalkan kuota 3 sertifikat yang disediakan dengan melampirkan bukti prestasi dari olimpiade yang ia ikuti melalui platform media sosial (Instagram).
Tips dari Marsha: “Jangan biarkan kolom sertifikat kosong. Meskipun berasal dari lomba online, selama itu relevan dengan jurusan yang dipilih, itu jauh lebih baik daripada menyertakan sertifikat yang kurang relevan seperti lomba tingkat kelas atau lingkungan rumah.”
Kunci Sukses: Konsultasi dan Keyakinan
Bagi Marsha, perjuangan SNBP bukan hanya soal teknis, tapi juga mental. Ia menyarankan para pejuang PTN untuk:
Yakin dengan pilihan diri sendiri.
Riset mendalam mengenai peluang dan pembobotan nilai di kampus tujuan.
Konsultasi aktif dengan guru BK dan memohon doa restu keluarga sebagai dorongan semangat.
Kisah Marsha Rifky Febriansyah adalah pengingat bahwa dengan strategi yang tepat, sertifikat yang relevan, dan tekad yang kuat, pintu PTN favorit tetap terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa memandang peringkat asal sekolah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”





































































