Mahasiswa Kelompok 9 Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan program edukasi pengenalan profesi interaktif ala “Kidzania” di Sekolah Luar Biasa (SLB) Al-Azhar, Medan Johor, Sabtu (25/10/2025). Kegiatan ini diusung sebagai implementasi dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) ke-10 tentang pengurangan kesenjangan (Reduced Inequalities) sekaligus upaya menghapus intoleransi terhadap penyandang disabilitas di lingkungan pendidikan.
Inisiatif ini lahir dari kesadaran kolektif mahasiswa akan stigma sosial yang kerap mengikis kepercayaan diri penyandang disabilitas. Dalam kerangka pendidikan berbasis luaran (Outcome Based Education/OBE), proyek ini dirancang tidak hanya sebagai pemenuhan tugas akademik, melainkan wujud nyata pembentukan ‘Karakter Bintang’ mahasiswa USU yang peduli, inklusif, dan solutif. Mengusung tema besar H.O.P.E (Harmony, Opportunity, Potential, Empowerment), para mahasiswa menyulap ruang kelas menjadi zona simulasi profesi yang inklusif.
Kegiatan ini lahir dari kesadaran kolektif mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang bergabung dalam Kelompok Disabilitas 9 untuk memberikan empati dan dukungan kepada teman-teman penyandang disabilitas yang kepercayaan dirinya sering menurun akibat stigma sosial. Dengan semangat inklusi, mereka mengadakan acara Zona Edukasi di SLB Al Azhar Medan, mengadaptasi konsep simulasi profesi ala Kidzania.
Ketua Kelompok Disabilitas 9, Nalita Cerbiana Ginting, menjelaskan bahwa metode simulasi profesi dipilih untuk memberikan pengalaman nyata yang mungkin selama ini sulit diakses oleh anak-anak berkebutuhan khusus.
“Tujuan utama kami adalah membuka ruang bagi siswa SLB untuk mengenal dan mencoba berbagai peran. Kami ingin mereka menemukan ruang ternyaman untuk berekspresi, sekaligus membuktikan kepada masyarakat bahwa di balik keterbatasan, terdapat potensi luar biasa yang layak dihargai,” ujar Nalita.
Antusiasme peserta bahkan sudah terlihat sebelum acara dimulai. Salah satu momen menyentuh (human interest) terjadi ketika seorang siswa datang lebih awal mengenakan seragam polisi cilik lengkap, menunjukkan semangat tinggi untuk menyambut peran barunya hari itu.
Selama acara berlangsung, suasana terlihat sangat hidup dan penuh keceriaan. Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan sambutan dari dosen fasilitator, dan ketua panitia yang membuat suasana menjadi hangat dan akrab. Setelah itu, rangkaian perkenalan setiap divisi yang membuat anak-anak semakin mengenal para kakak dan abang yang hadir. Ice breaking yang diberikan panitia sukses mencairkan suasana; anak-anak terlihat antusias bergerak, tertawa, dan mengikuti gerakan dengan penuh semangat.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menghadirkan lima pos profesi layaknya kota “Kidzania” mini dengan memanfaatkan properti ramah lingkungan dari bahan daur ulang. Di pos Dokter, siswa belajar empati dengan mengobati boneka menggunakan stetoskop dan perban. Di pos Polisi, siswa bermain peran menangkap “pencuri” menggunakan pistol mainan dari kardus bekas. Kreativitas siswa juga diasah di pos Chef saat membuat kue, pos Arsitek dengan menyusun lego bangunan, serta pos Pelukis di mana mereka mewarnai sketsa custom dengan hasil yang memukau.
Suasana semakin hangat dengan hadirnya Dosen Fasilitator, Ibu Afrita, yang turut memberikan dukungan. Kegiatan tidak hanya berhenti pada simulasi. Sebagai simbol penerimaan, mahasiswa memberikan paper stars dalam botol plastik dan buket bunga dari pipe cleaners buatan tangan kelompok 9 kepada setiap kelompok siswa.
“Ini adalah simbol bahwa mereka berharga, penuh warna, dan memiliki masa depan yang bersinar,” tambah salah satu anggota tim.
Puncak kebersamaan ditandai dengan aksi cap tangan warna-warni sebagai simbol jejak kreativitas dan komitmen bersama untuk saling mendukung.
Bagi pihak sekolah, kegiatan ini menjadi angin segar. Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremonial semata, melainkan menjadi pemicu kolaborasi lanjutan antara mahasiswa, guru, dan orang tua. Dengan memperkenalkan dunia kerja sejak dini, diharapkan karakter tanggung jawab, percaya diri, dan kemandirian siswa dapat terbangun.
“Harapan kami, pengalaman ini menjadi pondasi agar sekolah semakin percaya diri menerapkan pendidikan inklusif. Kami ingin anak-anak merasa kemampuan mereka dihargai, dan guru mendapatkan inspirasi metode pembelajaran baru yang menyenangkan,” tutup Nalita.
Dokumentasi lengkap keseruan kegiatan ini dapat disaksikan melalui kanal YouTube MKWK USU berikut: https://youtu.be/gJR1cq4CDo8?si=nOaZuvwyTxuoC1IW
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































