Ramadan senantiasa menghadirkan wajah Islam yang paling indah penuh kasih, kebersamaan, dan kepedulian. Di berbagai penjuru dunia, umat Islam menyambut bulan suci ini dengan ragam tradisi yang beraneka, namun memiliki ruh yang sama: menguatkan iman dan mempererat ukhuwah. Salah satu tradisi yang sarat inspirasi adalah Ma’idaturrahman di Mesir.
Secara bahasa, ma’idah berarti hidangan, sedangkan ar-Rahman merupakan salah satu Asmaul Husna yang bermakna Maha Pengasih. Dengan demikian, Ma’idaturrahman dimaknai sebagai “hidangan dari kasih sayang Allah.” Tradisi ini diwujudkan melalui penyediaan meja-meja panjang di jalanan atau halaman masjid yang dipenuhi sajian berbuka puasa. Siapa pun dapat duduk dan menikmati hidangan tersebut tanpa memandang status sosial, asal-usul, maupun latar belakang.
Tradisi ini bukan sekadar budaya, melainkan refleksi nyata dari ajaran Islam tentang berbagi dan memuliakan orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا (الترمذي)
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini menjadi fondasi kokoh bagi lahirnya berbagai gerakan sosial di bulan Ramadan, termasuk Ma’idaturrahman. Di Mesir, suasana menjelang Magrib memiliki nuansa yang begitu khas. Beberapa menit sebelum azan magrib berkumandang, jalanan dipenuhi relawan yang menyiapkan kurma, roti, serta hidangan khas setempat. Bahkan, apabila ada seseorang yang masih dalam perjalanan saat azan tiba, warga sekitar dengan ramah akan mempersilakan, bahkan “menarik”nya untuk turut berbuka bersama. Tak jarang, orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal menjadi akrab dalam satu meja kebersamaan.
Spirit Ma’idaturrahman sejatinya selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:
وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا ٨
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)
Ayat ini menegaskan bahwa memberi dalam keadaan lapang merupakan kebaikan, namun memberi dari sesuatu yang kita cintai adalah sebuah kemuliaan.
Lantas, bagaimana implementasinya di Indonesia?
Di berbagai daerah, kita mengenal tradisi berbagi takjil gratis, buka puasa bersama di masjid, hingga gerakan “war takjil” yang dikemas kreatif oleh generasi muda. Di lingkungan madrasah, kegiatan berbagi makanan kepada masyarakat, membersihkan masjid, maupun menyelenggarakan buka puasa bersama merupakan wujud nyata dari semangat tersebut.
Sebagai pendidik dan peserta didik, kita dapat menjadikan Ma’idaturrahman sebagai inspirasi dalam pendidikan karakter. Ramadan adalah laboratorium akhlak. Di dalamnya, murid belajar tentang empati, kepedulian, gotong royong, serta keikhlasan. Nilai-nilai ini selaras dengan visi pendidikan yang tidak hanya melahirkan generasi unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Lebih dari itu, tradisi ini juga mengajarkan moderasi beragama. Meja berbuka yang disiapkan untuk siapa saja menunjukkan bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tidak ada sekat sosial, tidak ada diskriminasi. Semua duduk sejajar, menikmati nikmat Allah bersama.
Di tengah kehidupan modern yang kian cenderung individualistik, semangat Ma’idaturrahman menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati lahir dari berbagi. Sebab, meja terbaik bukanlah yang dipenuhi hidangan mewah, melainkan yang sarat niat tulus dan hati yang lapang. Semoga Ramadan tahun ini tidak hanya menguatkan hubungan kita dengan Allah, tetapi juga semakin mempererat ikatan kita dengan sesama. (plk)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































