Kadang saya melihat kehidupan sosial sekarang seperti berjalan tanpa arah. Orang-orang berkumpul, tapi sering tidak benar-benar hadir. Kita hidup berdekatan, tapi rasanya jauh. Perubahan ini pelan, tapi terasa di banyak hal. Saya merasa ada sesuatu yang hilang dari cara kita berhubungan sebagai manusia. Di tengah hidup yang serba cepat, kita sering mengutamakan tugas dan target, lalu melupakan hubungan. Padahal hubungan sosial itu bukan sekadar ngobrol atau bertemu. Intinya adalah menyadari bahwa kita tidak hidup sendirian. Ada orang lain yang juga punya cerita, perasaan, dan kebutuhan. Ketika kesadaran itu mulai pudar, hubungan sosial ikut melemah. Menurut saya, masalah sosial hari ini muncul karena kita jarang benar-benar melihat orang lain. Kita mudah menilai, tetapi sulit mendengar. Kita cepat merespons, tetapi jarang memahami. Humanisme mengingatkan bahwa setiap manusia punya nilai sejak lahir, tanpa syarat. Kalau kita berpegang pada itu, hubungan sosial bisa terasa lebih hangat dan tidak sekaku sekarang.
Untuk memperbaiki keadaan, kita tidak perlu langkah besar. Hal kecil pun bisa berarti, seperti menyapa tetangga, menanyakan kabar teman, atau meluangkan waktu mendengarkan seseorang tanpa terburu-buru memberi solusi. Tindakan sederhana seperti itu bisa mengembalikan rasa terhubung yang selama ini makin tipis. Pada akhirnya, hidup sosial yang sehat berawal dari sikap peduli. Kita tidak bisa mengubah semua orang, tapi kita bisa mulai dari diri sendiri. Dengan sedikit empati dan keinginan untuk memahami, hubungan antar manusia bisa tumbuh lagi. Dan mungkin, dari sana kita bisa membangun lingkungan yang lebih manusiawi dan nyaman untuk semua.
Kadang kita lupa bahwa hubungan sosial bukan hanya urusan antarindividu, tapi juga soal iklim sosial yang kita ciptakan bersama. Lingkungan yang penuh rasa curiga membuat orang saling menjauh, sementara lingkungan yang saling mendukung membuka ruang aman bagi siapa pun. Ini menunjukkan bahwa suasana sosial sebenarnya dibentuk oleh sikap-sikap kecil yang dilakukan terus menerus.
Jika kita mau jujur, semua orang butuh rasa diterima. Tidak ada yang ingin hidup dalam tekanan atau dinilai setiap saat. Dengan menunjukkan penerimaan dan tidak cepat menghakimi, kita membantu orang lain merasa lebih ringan. Bila sikap seperti ini tumbuh di banyak tempat, saya percaya kehidupan sosial kita bisa kembali lebih hangat, lebih manusiawi, dan tidak sesunyi sekarang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































