Sejarah Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten merupakan salah satu warisan penting dari masa Kesultanan Banten yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran sosial, politik, dan pendidikan Islam pada abad ke-16. Arsitektur masjid ini memperlihatkan proses akulturasi budaya yang harmonis antara Jawa, Tiongkok, dan Eropa, sehingga menunjukkan bahwa penyebaran Islam kala itu mampu beradaptasi dengan budaya lokal tanpa meninggalkan nilai ketauhidan. Masjid ini menjadi bukti historis bahwa Islam hadir dan berkembang melalui pendekatan yang inklusif dan dialogis terhadap budaya setempat.
Simbolisme Arsitektur Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga media dakwah visual yang sarat simbolisme dan nilai filosofis. Setiap elemen arsitekturnya, mulai dari atap tumpang lima, menara, serambi, hingga kolam wudu, mengandung pesan spiritual mengenai ketauhidan, perjalanan manusia menuju Allah, pentingnya ilmu, serta penyucian diri. Perpaduan unsur budaya Jawa, Tiongkok, dan Eropa menunjukkan bahwa Islam hadir dan berkembang melalui akulturasi yang damai, terbuka, dan menghargai keragaman. Dengan demikian, Masjid Agung Banten bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga representasi harmonis antara iman, budaya, dan peradaban.
Makna Filosofis Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten mengandung makna filosofis yang mencerminkan hubungan manusia dengan Allah serta nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial. Atap tumpang lima menjadi simbol rukun Islam dan perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Tuhan, sementara menaranya menandakan semangat dakwah dan penyebaran ilmu. Tata ruang yang terbuka menggambarkan kesetaraan umat, serambi menjadi ruang ukhuwah dan pembelajaran, serta kolam wudu melambangkan penyucian lahir batin. Perpaduan budaya Jawa, Tiongkok, dan Eropa turut mencerminkan sikap toleransi dan harmoni dalam penyebaran Islam di Banten.
Harapan penulis kedepan nya
Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat bahwa arsitektur Masjid Agung Banten bukan hanya bangunan fisik, tetapi representasi nilai tauhid, adab, dan kebijaksanaan Islam yang diwariskan leluhur. Dengan demikian, generasi mendatang terdorong untuk merawat, melestarikan, dan tidak mengubah identitas arsitektur bersejarah secara sembarangan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































