Setiap anak datang ke sekolah dengan cerita, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda-beda. Tidak ada dua peserta didik yang tumbuh dengan cara yang sama. Hal ini membuat proses pendidikan menjadi dinamis dan menuntut pendidik untuk memahami karakteristik perkembangan mereka. Pemahaman tersebut bukan hanya penting secara teoritis, tetapi juga krusial dalam praktik pembelajaran nyata (Khotimah, Maemonah, & Rahmi, 2021).
1. Anak Bukan Kertas Kosong: Mereka Membawa Latar Belakang yang Berbeda
Peserta didik membawa beragam pengalaman emosional, kondisi keluarga, dan gaya belajar yang unik. Perbedaan ini memengaruhi cara mereka menerima informasi, merespons tugas, dan berinteraksi di kelas. Penelitian lima tahun terakhir menunjukkan bahwa lingkungan sosial dan latar belakang keluarga menjadi faktor penting dalam perkembangan akademik dan karakter peserta didik (Sari & Putra, 2020; Dewi & Rachman, 2025).
Pemahaman perkembangan membantu pendidik melihat apa yang terjadi di balik perilaku anak, bukan hanya menilai apa yang terlihat.
2. Masa Perkembangan adalah Fase Pencarian Jati Diri
Masa anak hingga remaja adalah periode eksplorasi diri, perubahan minat, dan dinamika emosi yang kadang membingungkan. Perubahan tersebut bukan tanda ketidakstabilan, tetapi bagian dari tahapan perkembangan psikososial
(Nurhadi & Wulandari, 2022).
Dengan memahami tahapan perkembangan kognitif, sosial, moral, dan emosional, pendidik dapat memberikan bimbingan yang lebih tepat dan tidak reaktif.
3. Perkembangan Tidak Hanya Tentang Prestasi Akademik
Banyak peserta didik yang terlihat “bermasalah” sebenarnya sedang mengalami tekanan emosional. Penelitian terbaru menekankan bahwa perkembangan sosial-emosional memiliki peran besar dalam keberhasilan belajar dan perilaku di sekolah (Utami & Prasetyo, 2023).
Misalnya:
– – Anak yang sulit fokus tidak selalu malas.
– – Remaja yang membantah tidak selalu tidak hormat.
Pemahaman seperti ini mendorong pendidik untuk melihat peserta didik sebagai manusia dengan kebutuhan emosional yang sama pentingnya dengan kebutuhan akademik.
4. Lingkungan Belajar yang Aman Mempercepat Perkembangan
Peserta didik berkembang lebih optimal dalam lingkungan yang aman secara fisik, mental, dan emosional. Lingkungan belajar yang suportif terbukti meningkatkan motivasi, keberanian, dan rasa percaya diri (Hasanah & Lestari, 2021).
Kelas yang memberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan melakukan kesalahan akan membuat peserta didik lebih siap berkembang.
5. Peran Guru: Pendamping, Bukan Penguasa
Dalam lima tahun terakhir, banyak penelitian menguatkan bahwa peran guru sebagai fasilitator dan pendamping jauh lebih efektif dibanding pendekatan otoriter (Dewi & Rachman, 2025; Wijayanti, 2024).
Guru yang memahami perkembangan peserta didik akan:
– – lebih sabar menghadapi perubahan perilaku,
– – lebih bijak dalam menetapkan aturan,
– – lebih tepat memberi motivasi,
– – lebih peka terhadap kebutuhan individual.
Ini menunjukkan bahwa teori perkembangan bukan sekadar materi kuliah, melainkan keterampilan profesional yang perlu dimiliki setiap pendidik masa kini.
Penutup
Memahami perkembangan peserta didik adalah pondasi penting dalam proses pendidikan. Ini bukan hanya tentang mengenal teori Piaget, Erikson, atau Kohlberg, tetapi tentang bagaimana teori itu diterapkan di ruang kelas.
Ketika pendidik mampu melihat peserta didik secara utuh cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi maka proses belajar akan jauh lebih bermakna. Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya membuat anak pintar, tetapi menuntun mereka tumbuh sebagai manusia yang matang, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Penulis:
1. Cindy Aulia Rahmah [ 251012400174 ]
2. Elsa Triyaningsih [ 251012400183 ]
3. Karina Sihab [ 251012400120 ]
4. Mira Amelia Putri [ 251012400140 ]
UNIVERSITAS PAMULANG TANGERANG SELATAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR SEMESTER GANJIL TAHUN 2025/2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































