Di tengah derasnya arus teknologi modern, saya sering merasa bahwa manusia hari ini berlari tanpa benar-benar tahu ke mana tujuannya. Setiap hari muncul inovasi baru: kecerdasan buatan yang semakin cerdas, perangkat digital yang semakin personal, dan otomatisasi yang semakin merasuk ke seluruh lini kehidupan. Namun, di balik hiruk-pikuk kemajuan itu, saya melihat ada sesuatu yang pelan-pelan melemah spirit keilmuan yang dulu menjadi fondasi peradaban Islam. Bagi saya, pertanyaan besarnya adalah: bagaimana umat Islam bisa kembali meneguhkan tradisi ilmiah mereka tanpa terhanyut dalam kegaduhan teknologi?
kita sering kali terjebak dalam dua kelompok. Ada kelompok yang memandang teknologi sebagai ancaman yang berpotensi merusak moral, sehingga segala sesuatu yang “modern” dianggap mencurigakan. Namun di sisi lain, ada juga yang begitu terpesona oleh modernitas hingga menganggap agama tidak relevan lagi dalam ruang sains. Padahal, jika melihat sejarah, Islam justru lahir dan tumbuh sebagai agama yang sangat ramah terhadap ilmu pengetahuan. Al-Qur’an sendiri berulang kali mendorong manusia untuk membaca, merenung, meneliti, dan memahami fenomena alam. Jadi, problem kita hari ini bukan pada relasi Islam dengan sains, tetapi pada cara kita memosisikan diri di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat.
Saya pribadi sering membayangkan bagaimana para ilmuwan Muslim masa klasik seperti Ibn al-Haytham, al-Khawarizmi, Ibn Sina, dan al-Razi akan bersikap jika mereka hidup di era sekarang. Menurut saya, mereka tidak akan menolak teknologi digital, kecerdasan buatan, atau eksplorasi ruang angkasa. Sebaliknya, mereka akan menggunakan seluruh kemajuan itu sebagai alat baru untuk memahami sunnatullah. Mereka akan mengembangkan riset dengan perangkat modern, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai keilmuan yang berakar pada etika Islam: objektivitas, kejujuran intelektual, dan kemanfaatan bagi manusia.
Masalahnya, spirit seperti itu tidak banyak kita temukan hari ini. Dalam banyak kasus, teknologi justru membuat kita semakin konsumtif. Daripada menjadi pencipta, kita lebih sering menjadi penikmat. Daripada menganalisis, kita lebih sering hanya scroll media sosial. Bagi saya, inilah “krisis keilmuan” paling nyata yang kita hadapi. Kita hidup di zaman paling informatif, tetapi juga paling dangkal. Informasi datang tanpa henti, tetapi sedikit yang berubah menjadi ilmu. Dan lebih sedikit lagi yang berubah menjadi hikmah.
Menurut saya, untuk meneguhkan kembali spirit keilmuan Islam di era teknologi modern, ada tiga langkah besar yang perlu dilakukan.
Pertama, mengubah cara pandang kita terhadap teknologi.
Teknologi bukan musuh, tetapi juga bukan tuhan. Ia hanyalah instrumen. Dalam perspektif Islam, teknologi adalah amanah atau alat yang dapat membawa manfaat jika digunakan dengan benar, atau membawa kerusakan jika disalahgunakan. Bagi saya, cara pandang moderat ini penting agar umat tidak menempatkan diri sebagai pihak yang tertinggal dari Barat. Kita harus belajar teknologi, menguasainya, dan menggunakannya untuk kemaslahatan. Rasulullah sendiri mengajarkan Al-Hikmah mengajarkan bahwa hikmah adalah milik orang beriman, dan di mana pun ditemukan, ia berhak mengambilnya.
Kedua, membangkitkan kembali tradisi intelektual yang kritis.
Menurut saya, problem kita hari ini bukan pada kurangnya akses ke pengetahuan, tetapi kurangnya kemampuan untuk berpikir mendalam. Kita diajarkan menghafal lebih banyak daripada memahami. Kita sibuk mencari jawaban instan daripada mengejar proses belajar. Padahal, tradisi ilmu dalam Islam selalu menekankan proses: berdiskusi, berdebat, melakukan tahqiq, dan melakukan ijtihad. Di era digital, kemampuan berpikir kritis justru lebih dibutuhkan. Kita hidup di zaman ketika informasi palsu, bias algoritma, dan polarisasi digital sangat mudah masuk ke ruang pribadi kita. Maka, kemampuan memilah dan memahami menjadi ibadah intelektual baru yang harus kita latih.
Ketiga, mengembalikan etika sebagai inti dari pencarian ilmu.
Salah satu perbedaan mendasar antara sains modern dan sains Islam menurut saya terletak pada orientasinya. Sains modern sering kali mengagungkan objektivitas yang terputus dari nilai moral seolah-olah selama sesuatu bisa dilakukan, maka itu boleh dilakukan. Sains Islam tidak demikian. Ilmu selalu harus bersandar pada nilai, terutama nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Bagi saya, inilah yang perlu ditegakkan di tengah perkembangan teknologi hari ini. Ketika kecerdasan buatan bisa mengambil alih pekerjaan manusia, ketika data pribadi bisa dimanfaatkan untuk manipulasi, ketika manusia mulai tergantung pada teknologi bahkan untuk hal-hal paling mendasar kita butuh etika yang kokoh agar kemajuan tidak berubah menjadi bumerang.
Menurut saya, umat Islam memiliki potensi besar untuk memimpin diskusi tentang etika teknologi global. Mengapa? Karena Islam punya pandangan integral tentang manusia bukan hanya sebagai makhluk biologis, tetapi juga spiritual, sosial, dan moral. Prinsip-prinsip seperti maslahah, keadilan, amanah, hifzh al-nafs, dan hifzh al-‘aql sangat relevan dijadikan dasar etika teknologi hari ini. Jika dikembangkan, nilai-nilai ini dapat menjadi alternatif dari etika teknologi yang kini didominasi oleh paradigma Barat.
Namun, semua itu tidak akan terjadi jika umat Islam hanya menjadi konsumen teknologi. Menurut saya, kita harus mulai masuk ke ruang-ruang strategis: riset kecerdasan buatan, analisis data, teknologi medis, energi terbarukan, dan ekologi digital. Kita perlu melahirkan ilmuwan yang tidak hanya menguasai sains, tetapi juga memahami nilai-nilai Islam. Kita perlu cendekiawan yang bisa menjembatani wahyu dan data, teks dan algoritma, nilai dan inovasi.
menurut saya, Pada akhirnya kita harus meneguhkan kembali spirit keilmuan Islam bukan berarti kembali ke abad pertengahan atau mengulang kejayaan masa lampau. Spirit keilmuan Islam adalah keberanian untuk berpikir, keberanian untuk mencari, dan keberanian untuk bertanggung jawab terhadap ilmu yang kita hasilkan. Spirit itu adalah keyakinan bahwa setiap fenomena alam merupakan tanda-tanda Tuhan (ayat kauniyah), dan bahwa mencari ilmu adalah bagian dari ibadah.
Di tengah ledakan teknologi modern, saya melihat kesempatan besar bagi umat Islam untuk bangkit. Teknologi memberi kita akses tak terbatas pada informasi, membuka ruang kolaborasi global, dan mempersingkat jalur menuju riset-riset inovatif. Yang kita butuh kan hanyalah keberanian untuk memulai untuk tidak hanya memakai teknologi, tetapi ikut menciptakannya. Untuk tidak hanya membaca data, tetapi mengolahnya menjadi hikmah. Untuk tidak hanya mengagumi sains, tetapi menjadikannya jalan menuju kemaslahatan manusia.
Menurut saya, inilah saatnya umat Islam bergerak. Bukan untuk mengejar bayang-bayang kejayaan masa lalu, melainkan untuk membangun peradaban baru yang memadukan kekuatan akal dan kedalaman spiritual. Peradaban yang menghargai teknologi, tetapi tidak diperbudak olehnya. Peradaban yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan sekadar alat. Peradaban yang benar-benar mencerminkan pesan utama Islam: kemuliaan manusia melalui ilmu, akhlak, dan keadaban.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































