Saya merupakan seseorang yang mengalir dua darah di dalam diri saya, bunda saya keturunan Jawa dan ayah saya yang terlahir asli dari keturunan Minangkabau. Kelahiran saya sebagai anak pertama membawa berkah besar bagi keluarga saya, saya lahir asli di Padang dan selama saya hidup banyak sekali pembelajaran, kebudayaan dan tradisi yang ada di Kota Padang ini. Selama saya memperhatikan daerah tempat saya tinggal, banyak sekali masyarakat yang menjual bengkuang sebagai oleh-oleh masyarakat luar provinsi maupun mancanegara sehingga memiliki julukan sebagai Kota Bengkoang. Ini didasari dari banyaknya bengkuang yang tumbuh di sekitar Padang dan sekitarnya lalu dijual baik sebagai makanan maupun sebagai kosmetik. Sejarah menyatakan bahwasanya bengkuang yang dulu disebut sebagai “bingkuang” tumbuh subur dan menjadi salah satu oleh-oleh khas dari Kota Padang karena budidaya yang begitu gampang tetapi sering kali julukan ini sudah memudar pada saat zaman sekarang.
Selain dari keunikan julukan Kota Padang, tradisi Kota Padang yang menarik atensi saya adalah tradisi Mamukek yang dilakukan oleh para nelayan sekitar wilayah pesisir pantai Kota Padang. Kota Padang sendiri memiliki kondisi geografis yang dominan lautan sehingga masyarakat sekitar Padang memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan. Penjelasan terkait tradisi lebih dalam sudah saya kutip dari Jurnal Budaya “Tradisi mamukek atau menangkap ikan menggunakan jaring pukat yang lebar. Prosesnya dikenal dengan maelo pukek (menarik pukat). Sebab cara ini benar-benar dilakukan dengan tangan, mengandalkan tenaga nelayan”. Dari kutipan tersebut kita bisa sama-sama mempelajari terkait bagaimana tradisi mamukek yang biasa dilakukan oleh mayoritas masyarakat daerah Kota Padang khususnya di pesisir pantai Padang sejak tahun 1940-an, dari kegiatan ini banyak sekali pengunjung dan wisatawan yang tertarik untuk mencoba tradisi mamukek apalagi kegiatan ini sudah menjadi atraksi wisata oleh Diskominfo semenjak tahun 2019. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan melalui kegiatan ini dapat menaikkan perekonomian nelayan karena wisatawan disuguhi oleh aneka kuliner laut yang beragam.
Makanan khas dari Kota Padang yang menjadi favorit saya dan sangat terkenal adalah soto padang yang dihidangkan teh talua, makanan khas ini biasanya disajikan pada acara-acara penting seperti pernikahan adat, kenduri atau perayaan penting lainnya sebagai tanda simbol keberkahan dan keberlimpahan. Hidangan berkuah ini dipercaya berdiri pada abad ke-19 silam di tanah Minangkabau melalui Semarang melalui foto-foto yang tersebar pada era kolonial, tetapi juga ada yang meyakini bahwasanya soto berasal dari budaya Tionghoa atau India. Hal yang membuat soto padang berbeda dengan soto pada umumnya adalah terletak pada kuahnya yang cenderung gurih dan kental yang dipadukan dengan irisan paru sapi kering dengan kuah yang ringan berempah kaya disertai rasa agak pedas biasanya dihidangkan dan perkedel sebagai pelengkap tambahan pendamping bihun yang menggugah selera makan siapa saja yang melihatnya. Santapan ini memiliki filosofi kesempurnaan, kebersamaan dan juga kehangatan di dalamnya karena biasa disajikan pada hari-hari besar ataupun acara-acara adat besar yang diselenggarakan.
Mungkin tradisi, makanan khas dan julukan Kota Padang yang saya sampaikan di atas sangat jarang sekali terdengar pada masa saat ini. Namun, pasti kita tidak asing dengan destinasi wisata salah satu yang sering saya kunjungi ialah Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan ini dibangun pada tahun 1995 sebagai bentuk proyek besar-besaran Walikota Padang dalam meningkatkan aksesibilitas dari Gunung Padang ke Pusat Kota Padang. Hal paling menarik dari jembatan ini, nama pembuatannya diambil berdasarkan novel klasik terkenal Indonesia berjudul Siti Nurbaya: Kisah Tak Sampai. Novel tahun 1922 menceritakan percintaan yang tragis antara Siti Nurbaya dengan Samsul Bahri dengan latar tempat di Kota Padang. Dengan adanya penamaan ini, menjadi penarik seni dalam kebudayaan memikat para pendatang dan wisatawan. Saya ketika kecil pernah menonton kisah novel tersebut di televisi, semenjak saat itulah saya akhirnya lumayan sering datang berkunjung melewati Jembatan Siti Nurbaya terutama pada malam hari karena panorama malam yang dihadirkan begitu memanjakan mata. Lampu-lampu di sekitar jembatan menarik perhatian saya sebagai pengunjung dan membuat saya jatuh cinta dengan keindahan yang dihadirkan, belum lagi banyaknya pedagang kaki lima yang berjejer di bawah Jembatan Siti Nurbaya menjadi pusat perekonomian bagi masyarakat sekitarnya sebagai tempat destinasi wisata.
Banyak hal-hal yang sebenarnya belum saya eksplorasi mengenai keindahan Kota Padang yang sangat jarang didengar oleh masyarakat luas lainnya, masih banyak sebenarnya keunikan-keunikan indah yang tersimpan dari Kota Padang tercinta tetapi luput diperhatikan. Dari segi nama kota yang unik, tradisi adat yang unik, makanan khas yang menggugah selera serta destinasi wisata yang sudah banyak dikenal oleh wisatawan pasti disertai dengan jejak sejarah yang tidak luput untuk diingat. Filosofi dalam keseluruhan unsur yang terkandung mencerminkan bahwasanya Kota Padang bukan hanya sebagai pusat kota atau sekadar kota persinggahan sahaja tetapi juga memiliki tradisi serta keunikan tersendiri yang terkandung dalam sosial kebudayaan penuh makna dari masyarakat sekitar. Keindahan kebudayaan ini, saya bagikan dengan harapan agar banyak lebih dikenal melalui artikel ini sebagai pengingat bagi generasi muda ke depannya untuk tetap melestarikan serta menjaga agar tidak terjadinya kepunahan dan berperan aktif agar Kota Padang tercinta bisa dikenal lebih luas lagi hingga ke wisatawan mancanegara.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































