Kita hidup di zaman yang serba cepat dan serba digital. Hampir semua hal kini bisa dilakukan secara online: belajar, bekerja, berbelanja, bahkan beribadah. Media sosial menjadi tempat baru untuk berinteraksi dan menunjukkan diri. Namun, di balik kemudahan itu, muncul satu masalah besar yang sering tidak disadari banyak orang, yaitu krisis jati diri. Banyak yang kehilangan arah tentang siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, dan apa nilai-nilai yang harus dipegang.Dalam situasi seperti ini, ontologi Islam dapat menjadi panduan penting. Ontologi Islam berbicara tentang hakikat keberadaan manusia dan hubungannya dengan Tuhan, alam, dan sesama. Dengan memahami ontologi Islam, kita bisa menemukan kembali makna menjadi manusia sejati di tengah arus deras dunia digital yang sering kali menipu pandangan dan melemahkan nilai spiritual.
Era Digital dan Krisis Jati Diri
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara kita hidup. Generasi muda sekarang tumbuh dengan internet, ponsel pintar, dan media sosial sejak kecil. Dunia maya menjadi bagian dari kehidupan nyata mereka. Namun, di balik kemajuan ini, ada sisi gelap yang perlu diwaspadai. Pertama, era digital menciptakan budaya perbandingan. Di media sosial, orang berlomba-lomba menunjukkan kehidupan terbaiknya seperti foto liburan, barang mewah, pencapaian, dan kebahagiaan. Akibatnya, banyak orang mulai menilai diri mereka berdasarkan “like”, komentar, atau jumlah pengikut. Nilai diri tidak lagi diukur dari kualitas iman, ilmu, dan akhlak, tetapi dari tampilan luar dan pengakuan dunia maya. Kedua, digitalisasi memunculkan krisis eksistensi. Banyak orang kehilangan arah karena tidak tahu siapa mereka sebenarnya di tengah berbagai identitas digital yang mereka ciptakan. Kadang mereka menjadi orang yang berbeda di dunia maya demi diterima, walau jauh dari jati diri aslinya. Ini membuat hati kosong dan pikiran gelisah. Ketiga, teknologi membuat manusia semakin jauh dari spiritualitas. Kesibukan dengan layar dan dunia digital sering membuat kita lupa berinteraksi dengan diri sendiri dan dengan Allah. Padahal, dalam Islam, keseimbangan antara jasmani, akal, dan ruh adalah kunci kebahagiaan hidup. Jika salah satu hilang, maka kehidupan menjadi hampa dan kehilangan makna.
Makna Ontologi Islam
Untuk memahami bagaimana Islam membantu kita menemukan jati diri, kita perlu memahami makna ontologi terlebih dahulu. Secara sederhana, ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat keberadaan—siapa kita, dari mana kita berasal, dan untuk apa kita hidup. Dalam ontologi Islam, segala sesuatu berpusat pada Allah sebagai sumber keberadaan. Manusia bukan sekadar makhluk biologis, tetapi juga makhluk spiritual yang memiliki tugas dan tujuan. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk menyembah Allah (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56) dan menjadi khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Dengan kata lain, keberadaan manusia memiliki nilai dan arah yang jelas—bukan kebetulan, bukan sekadar hidup untuk mencari kesenangan dunia. Dalam pandangan ontologis Islam, jati diri sejati manusia tidak terletak pada penampilan, harta, atau popularitas, tetapi pada kesadaran akan asal-usul dan tujuan hidupnya. Manusia adalah ciptaan Allah yang dimuliakan (QS. Al-Isra’ [17]: 70) dan diberi akal untuk berpikir serta hati untuk merasakan. Maka, mengenal diri berarti mengenal Tuhan—“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
Menemukan Jati Diri Berdasarkan Ontologi Islam
Bagaimana ontologi Islam dapat membantu manusia menemukan jati dirinya di tengah gempuran digitalisasi? Ada beberapa langkah penting yang bisa dijadikan pegangan:
1. Mengenal Diri Sebagai Hamba Allah
Langkah pertama adalah menyadari bahwa manusia adalah ‘abdullah, hamba Allah. Status ini bukan tanda kelemahan, melainkan kehormatan. Hamba yang mengenal Tuhannya akan merasa cukup, rendah hati, dan tidak mudah tergoda oleh godaan dunia maya. Ketika seseorang sadar bahwa hidupnya hanya untuk Allah, maka ukuran keberhasilan tidak lagi berdasarkan penilaian orang lain, tetapi pada nilai ketaatan dan keikhlasan.
2. Menjadi Khalifah di Bumi
Selain sebagai hamba, manusia juga memiliki peran sebagai khalifah—pemimpin dan penjaga bumi. Di era digital, peran ini berarti menggunakan teknologi untuk kebaikan, menyebarkan ilmu, kebenaran, dan nilai-nilai Islam, bukan hoaks, fitnah, atau hal yang merusak moral. Seorang khalifah digital adalah mereka yang bijak dalam bermedia sosial, selektif dalam mengonsumsi informasi, dan berakhlak dalam berkomunikasi.
3. Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat
Ontologi Islam menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dalam konteks digital, hal ini berarti tidak larut dalam dunia maya sampai lupa pada realitas spiritual. Gunakan teknologi sebagai alat, bukan tujuan. Gunakan internet untuk memperluas ilmu dan silaturahmi, tapi tetap jaga waktu untuk beribadah, merenung, dan berinteraksi langsung dengan sesama manusia.
4. Menguatkan Akhlak dan Nilai
Jati diri seorang muslim sejati terletak pada akhlaknya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Di dunia digital, akhlak ini harus tetap dijaga: berkata baik, menghormati orang lain, tidak menyebarkan kebencian, dan menjaga privasi diri maupun orang lain. Akhlak digital adalah cermin dari iman seseorang.
5. Refleksi dan Tadabbur Diri
Menemukan jati diri memerlukan waktu dan perenungan. Dalam Islam, kita diajarkan untuk muhasabah, yaitu introspeksi diri. Di tengah kesibukan dunia digital, sempatkan waktu untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan merenungi tujuan hidup. Bacalah Al-Qur’an, pelajari maknanya, karena di situlah kita menemukan panduan ontologis tentang siapa kita sebenarnya.
Tantangan dan Harapan
Menemukan jati diri di era digital tentu tidak mudah. Godaan terlalu banyak, dan batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin kabur. Namun, dengan fondasi ontologi Islam, kita punya arah yang jelas. Kita tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali.Tantangan terbesar generasi digital adalah menjaga keaslian diri di tengah tekanan sosial yang mendorong untuk selalu tampil sempurna. Banyak anak muda kehilangan percaya diri karena merasa hidupnya tidak semenarik orang lain di media sosial. Padahal, dalam Islam, nilai manusia tidak ditentukan oleh penampilan atau pencapaian duniawi, tetapi oleh ketakwaan (QS. Al-Hujurat [49]: 13). Harapan ke depan, jika generasi muda mampu memahami ontologi Islam dan menerapkannya dalam kehidupan digital, maka dunia maya bukan lagi ancaman, tetapi sarana dakwah dan pengembangan diri. Media sosial bisa menjadi ladang amal, tempat menyebarkan inspirasi dan kebaikan, bukan sekadar tempat pamer atau mencari validasi.
Era digital membawa kemajuan luar biasa, tetapi juga tantangan besar bagi jati diri manusia. Di tengah perubahan yang cepat, ontologi Islam memberikan dasar yang kuat untuk memahami siapa diri kita sebenarnya. Kita bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi makhluk ciptaan Allah yang memiliki misi dan tujuan mulia. Menemukan jati diri di era digital berarti kembali kepada nilai-nilai Islam: menjadi hamba yang taat, khalifah yang bertanggung jawab, dan manusia yang berakhlak mulia. Dengan begitu, teknologi tidak akan menguasai kita, tetapi justru menjadi alat untuk menebar kebaikan, ilmu, dan keberkahan. Karena pada akhirnya, jati diri sejati bukan tentang bagaimana dunia melihat kita, tetapi bagaimana kita menempatkan diri di hadapan Allah. Dan dalam pandangan Islam, itu adalah identitas tertinggi yang tak akan lekang oleh waktu—baik di dunia nyata maupun di dunia digital.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































